Skip to main content

Cerpen

Ehm, jadi begini.
Aku akan mencoba post cerpenku.
Karena saya amatiran, jadi biarkanlah mengalir apa adanya.
Semoga menikmati...

Merangkai bahagia


Ibu terus saja berceloteh mengenai cara merawat bayi yang akan lahir, meskipun itu sudah pernah ia katakan semenjak sebulan lalu, namun kami tak menyela, hanya mendengar dan menyimak.
Menjelaskan semua pantangan yang diajarkan sejak nenek moyang kami yang entah benar atau tidak, namun aku hanya menurut, menunjukan keantusiasan pada semua yang ibu bicarakan.
Suamiku? Ia masih saja terus merangkai box bayi yang sudah setengah jadi, ia sesekali melirikku dan terkekeh, seakan menikmati saat istrinya diberi sarapan pagi yang mengenyangkan.
Dan juga dengan bayi ini? Si kecil yang menjadi buah cinta kami? Dia berberapa kali menggeliat, entah karena senang dengan suara neneknya atau setuju denganku yang hampir bosan.
Tapi aku menikmati semua ini, kasih sayang yang melimpah dari orangtuaku, suamiku, bakan keluarga suamiku, mereka semua menyambut antusias pada calon keturunan keluarga ini.
Kemudian ibu berkata "kamu juga gitu, sebagai suami harus siaga kalo istrimu sakit perut yang parah, bisa jadi itu tandanya anak kalian mau lahir"
Kini giliranku yang terkekeh “dengerin sayang” ledekku. 
"iya bu" itu jawaban suamiku.
"oke, ibu pulang dulu, kalau ada apa-apa langsung telpon aja" pesannya
Aku mengangguk dan mengantar ibu sampai di pintu depan.
"hati-hati bu , kabarin kalau sudah dirumah" pesanku
Ibu mengangguk dan mulai meninggalkan rumah dengan supir pribadinya, pak Darman.
"jadi ceritanya kamu mengejekku ?" tanya suamiku dengan mengelus perutku yang sudah membesar selama hampir 9 bulan ini.
Aku tertawa "kamu kan juga gitu, diem aja waktu ibumu cerita"
Dia ikut tertawa "kan kamu tau sendiri, ibuku gabisa dibantah, jadi ya aku sebagai anaknya harus nurut"
Aku mengangguk "ayo masuk, bayi ini sepertinya lapar"
"yang lapar anaknya atau ibunya sayang?" dia menggoda
"kamu kok jadi menyebalkan sih" aku pura-pura marah pada suamiku sambil mulai makan masakan ibu yang dibawanya saat datang kerumah kami.
"ngambek. Sayangnya ayah"ujarnya mengelus perutku lagi "nanti kalau kamu udah lahir, jangan meniru bundamu yang suka ngambek sambil cemberut nak, nanti ayah bisa stress"
Aku terus melanjutkan makanku, memang sudah wajar kalau ibu hamil makannya banyak? Ibu malah sering memintaku untuk makan lebih banyak, padahal porsi makanku saja sudah meningkat 3 kali lipat dari biasanya.
"sayang, lihat tuh! Bundamu kalau sudah makan dia bakal lupa dunia" kemudian tertawa


Sebulan kemudian

Jika dulu aku hanya bisa mengira-ngira tingkat kesakitan seorang ibu yang melahirkan, kini aku sudah mengalaminya. 
Dan jika kini kalian bertanya bagaimana rasanya? Maka akan kujawab luar biasa.
Luar biasa sakit.
Namun semuanya dibayar setimpal dengan kebahagiaan kami yang melimpah.
Kini keluarga kecilku lengkap, aku, suamiku serta jagoan kecil kami.
Oh ya! Panggil dia jagoan karena dia laki- laki. 
Lelaki ketiga yang paling berharga dalam hidupku setelah ayahku serta suamiku pastinya.
Dan dia mewarisi hampir semua raga ayahnya, mulai rambut yang sedikit ikal, warna kulit yang coklat eksotis, hingga alis yang tebal.
Sedangkan aku? Aku harus bersyukur hanya mewarisi bulu mata yang lumayan lentik.
"sayang" panggil suamiku
Aku hanya bergumam, masih tak bosan memandangi wajah jagoan kami yang masih asik menyusu.
"kamu gitu, sekarang yang perhatian banget sama anaknya, tapi ayahnya dicuekin, dulu aja suaminya yang diperhatiin"
Aku menoleh ke suamiku, suami yang sangat kucintai, aku mengelus wajahnya yang sangat kusukai, mulai dari alis hingga rahangnya.
"you're always be number one, jagoan kita masih bayi dan kau sudah cemburu hmm?"
Tatapannya melembut penuh kasih "jadi kapan kita merencanakan membuat adik buat jagoan kita? Seorang putri kecil mungkin?" ujarnya menggoda
Aku mulai cemberut "dia belum sebulan dan kau sudah ingin memberinya adik humm? Apa kau tidak takut porsimu akan jauh berkurang sayang? Aku harus mengurus dua anak bayi?" godaku
Kini gilirannya yang cemberut dan mengangkat tangannya tanda menyerah "oke, oke kita bikin adiknya 2 tahun lagi karena aku tidak mau menjadi yang terlupakan" rajuknya
Aku terkekeh kemudian berdiri dan meletakkan bayiku di tempat tidurnya.
Setelah mencium jagoanku aku kembali ke tempat tidur kami "jadi, suamiku ini sekarang jadi tukang pencemburu? Kemana suamiku yang cuek saat awal-awal kita menikah?"
"dia sudah hanyut di lautan" jawabnya singkat
Aku terkekeh "bagaimanapun kamu, kamu adalah alasan pertama yang aku tahu untuk selalu berusaha menjadi istri dan ibu yang terbaik" aku mencium pipinya.
Ia tersenyum, sehingga menampakkan lesung pipi yang semakin menambah nilai pesonanya, senyum faforitku "terimakasih sudah sabar menghadapiku" kini aia mencium puncak kepalaku
"kau tahu yang? Dulu hidupku bagaikan lembar kertas abu yang polos dan tanpa warna, tapi semenjak malam itu kau telah mengubahku menjadi orang yang bersyukur dengan semua yang kumiliki, kau dan jagoan kita adalah dua hal terindah selama hidupku"
Aku tersenyum, bersyukur dengan ia yang sekarang, walaupun dulu ia sempat tak menganggapku sebagai istrinya karena ia masih berkubang dengan kenangan bersama istri masa lalunya.
"maybe your past life with her is a fairytale, but i will make our future is perfect in other way" ujarku
Ia mengangguk mantap, mengecup bibirku.
"hey, terimakasih karena sudah memberiku jagoan terhebat, membuat hidupku lebih sempurna"
Aku hanya mengecup bibirnya singkat sebagai tanda aku juga bersyukur memiliki suami hebat sepertinya.
"jadi kapan kita bikin adik buat jagoan kita?" godaku
"no! Kita akan bahas itu minimal 2 tahun lagi, ayahnya jagoan ingin bermanja sama bundanya dulu. Honeymoon dulu"
Aku tertawa "honeymoon?"
"of cousre, dulu kita dulu belum honeymoon karena aku masih bodoh, jadi saat aku ingin kita merencanakannya di pantai"
"benar? Kau berjanji akan membawa aku ke pantai?"
Ia mengangguk kemudian ia memberondongku dengan ciuman yang menurutku. Hmm memabukkan.
Akupun melingkarkan tanganku ke lehernya, menikmati setiap sentuhan suamiku.
"terimakasih sudah memberikan kebahagiaan yang sempurna padaku"
Aku menggeleng disela ciumannya "kita merangkai kebahagian bersama, bukan aku sendiri, kamu juga ikut merangkainya hingga kini"
"kalau begitu, kita harus merangkainya dengan sempurna semua kebahagiaan ini hingga kita dijemput ajal"
Aku mengangguk mantap. 
Inilah perjalanan kehidupan yang aku syukuri, semua akan indah pada waktunya.
 semua sedih kini berganti bahagia,
Semua tangisan berganti keceriaan.
Dan semua luka terhapus seiring berjalannya waktu.




Sidoarjo, 7 april 2016
Inggrid hayuningtyas..



Comments

Popular posts from this blog

Advertisement

Surabaya, 24 Juli 2019. Hallo. Setelah sekian lama berhenti menulis, akhirnya saya datang kembali, namun datang dengan prospek usaha dari perusahaan dari tempat saya bekerja. Ini dia.. Jadi, perkenalkan, ini adalah mesin printer, yang bisa mencetak gambar di berbagai media pangan, contohnya kopi, jus, dan kue. Semua bisa dicetak dan dinikmati dengan tinta edible yang aman diminum dengan sertifikasi halal dari MUI dan aman dari BPOM. Karena masih pagi, jadi ijinkan saya salin dan tempel dari website perusahaan saya. https://www.coffee-printer.com Keuntungan menggunakan Coffee Printer untuk bisnis anda bisa anda temukan di  sini… ATTENTION . WANTO TO GIVE A BUZZ TO YOUR BUSINESS? Apakah anda punya  MASALAH  dengan  PERSAINGAN? Atau  PROSPEK EKONOMI  mengganggu bisnis anda? Mungkinkah sebuah peralatan yg inovatif seperti Coffee Printer yg anda perlukan? CONSIDER THIS IDEA! HADIRKAN IDE SEGAR  dan  KREATIF Manfa...

Author of the Week

Disini, saya ingin membicarakan tentang penulis-penulis yang "warbiyasah" Dan, untuk yang pertama kalinya saya mau membicarakan....... ETGAR KERET. Jadi, bapak Etgar Keret ini adalah penulis yang lahir di Ramat Gan, 20 agustus 1967. Si bapak ini juga terlahir sebagai anak ketiga dari pasangan yang selamat dari Holokaus (Holocaus adalah bencana pembunuhan orang yahudi yang didukung oleh nazi yang saat itu dipimpin Adolf Hitler. sumber :Wikipedia ) Kedua orang tuanya berasal dari Polandia. Dia tinggal di Tel Aviv dengan istrinya, Shira Geffen, dan putra mereka, Lev. Dia adalah seorang dosen di Ben-Gurion University of the Negev di Beer Sheva, dan di Tel Aviv University. Dia memegang kewarganegaraan ganda Israel dan Polandia Etgar Keret juga adalah satu-satunya penulis dari Israel yang bukunya boleh beredar di Palestina. Salah satu bukunya yang terkenal adalah The Seven Good Years yang terbit di tahun 2015: sebuah memoar yang humanis, cerkas, mengh...

Apa yang baru?

Surabaya, 27 Agustus 2020 Sudah beberapa waktu blog ini tidak terurus, dan saya berpikir "ini mau diapakan?"  Akhirnya hari ini saya obrak-abrik, pilih tema yang simpel tapi tetap cantik menurut saya, dan akhirnya jadi seperti ini; tenang, pastel dan tidak terlalu banyak warna.  Selamat datang kembali! xoxo, Inggridtyas