Kamu terdiam ketika memandang langit yang perlahan berubah warna, senja selalu membawa ketenangan yang jarang kamu dapatkan, melihat sang mentari bergerak kembali ke peraduannya membuat sebagaian perasaanmu kembali tenang.
Kamu menunduk, menyentuh perutmu yang terus membuncit. Tersenyum jika melihat hasil USG yang memperlihatkan ia aktif bergerak demi mencari tempat ternyaman untuk tubuh kecilnya.
Sebentar lagi kamu akan lahir sayang. Ibu akan melihatmu secara langsung. Kamu berkata dalam hati.
Segalanya sudah kamu siapkan, baju untuk si kecil sudah kamu beli, mental pun kamu siapkan.
Hanya ada satu yang kurang; ayahnya. Ayah dari bayi yang kamu kandung dan kamu jaga selama 30 minggu ini.
Sudah dua bulan lamanya pria itu tak mengunjungimu. Mengunjungi kalian.
Dan untung saja kamu bukan tipe perempuan yang akan meraung-raung untuk sekedar memintanya selalu bersamamu.
Kamu mengerti keadaannya.
Kamu percaya kepadanya.
Meskipun disaat yang sama kamu terluka karena pria itu.
Mungkin sekarang pria itu tidak sendirian, bahkan pria itu kini dikelilingi orang- orang yang mencintainya.
Seperti kamu yang mencintainya dengan separuh jiwamu.
Kamu tersenyum, merasakan perutmu bergerak. Kamu juga mencintai ayahmu sama besarnya dengan cinta ibu kan sayang? Tanyamu dalam hati.
Perutmu bergerak sekali lagi. mungkin ia menjawab pertanyaanmu.
Kamu tersenyum lagi, membelai perut. Kita sama-sama mencintainya sayang.
Kamu punya ibu. Kamu juga punya ayah.
Dan kita akan melewati semua ini bersama-sama.
Kamu menunduk, menyentuh perutmu yang terus membuncit. Tersenyum jika melihat hasil USG yang memperlihatkan ia aktif bergerak demi mencari tempat ternyaman untuk tubuh kecilnya.
Sebentar lagi kamu akan lahir sayang. Ibu akan melihatmu secara langsung. Kamu berkata dalam hati.
Segalanya sudah kamu siapkan, baju untuk si kecil sudah kamu beli, mental pun kamu siapkan.
Hanya ada satu yang kurang; ayahnya. Ayah dari bayi yang kamu kandung dan kamu jaga selama 30 minggu ini.
Sudah dua bulan lamanya pria itu tak mengunjungimu. Mengunjungi kalian.
Dan untung saja kamu bukan tipe perempuan yang akan meraung-raung untuk sekedar memintanya selalu bersamamu.
Kamu mengerti keadaannya.
Kamu percaya kepadanya.
Meskipun disaat yang sama kamu terluka karena pria itu.
Mungkin sekarang pria itu tidak sendirian, bahkan pria itu kini dikelilingi orang- orang yang mencintainya.
Seperti kamu yang mencintainya dengan separuh jiwamu.
Kamu tersenyum, merasakan perutmu bergerak. Kamu juga mencintai ayahmu sama besarnya dengan cinta ibu kan sayang? Tanyamu dalam hati.
Perutmu bergerak sekali lagi. mungkin ia menjawab pertanyaanmu.
Kamu tersenyum lagi, membelai perut. Kita sama-sama mencintainya sayang.
Kamu punya ibu. Kamu juga punya ayah.
Dan kita akan melewati semua ini bersama-sama.

Comments
Post a Comment