Kamu merasakan tegang yang luar biasa. Bagaimana
tidak, semua orang kini sedang membicarakanmu.
Bicara masa depanmu.
"mama masih berharap kamu memilih kami"
"Raka akan tetap memilih Andria" ujar pria
yang berada di sebelahmu. Yang sedang mengenggam tanganmu.
"kamu nggak sayang sama keluarga kamu?"
tanya wanita paruh baya yang duduk dihadapanmu.
"seluruh dunia tahu kalo Raka sayang
kalian"
"kalau begitu kenapa kamu lebih memilih
perempuan ini? Perempuan yang tidak sebanding dengan keluarga kita?" calon ibu mertuamu
berkata pedas, itu menyakiti hatimu. Tentu saja.
"bibi, tolong jaga bicara bibi, Andria ini
adalah adik kembar saya yang selama ini saya jaga dengan baik dan ini adalah
rumah kami" potong Andra, kakak kembarmu. Pria yang dua puluh enam tahun
yang lalu berbagi rahim denganmu.
Sedang kamu masih menunduk, menahan sekuat tenaga
agar kamu tetap terlihat tenang. Karena itulah yang orang tuamu ajarkan pada kalian
; kamu dan Andra.
"saya tidak punya urusan denganmu, urusan saya
hanya pada adikmu yang tidak tahu diri ini. Hei perempuan tidak tahu malu, kamu
berbuat apa hingga anakku yang penurut jadi pembangkang?" tanya ibu Raka
sarkastik.
Kamu mengangkat kepalamu, ingin menyanggah semua
perkataannya. Tapi genggaman di tanganmu mengerat. Kamu menoleh padanya.
Pandangan matanya mengisyaratkan agar kamu tetap diam, dan tidak berbicara
apapun yang akan merubah keputusannya.
Dan kamu percaya sepenuhnya kepada Raka.
"ibu seharusnya berterima kasih karena Andria
yang mampu mengubah cara pandang Raka dan Raka lebih menghargai hidup
Raka" ujar Raka mantap.
Sang ibu mendengus, mungkin tidak percaya anaknya
bisa lebih memilih untuk bersamamu.
"ibu tidak mau tahu Raka, kamu harus tetap
dengarkan dan turuti ibu. Jauhi perempuan ini dan menikah lah dengan perempuan
yang sudah dipilihkan untukmu, yang sederajat dengan keluarga kita, atau kamu
bisa bertemu dengan yang lain" ujar
ibu Raka.
Kamu meringis mendengarnya, namun Raka mendengus
pada mamanya sendiri “Raka sudah buat keputusan Raka sendiri”
Setelah mengatakan hal itu beliau berdiri dan
meninggalkan semata wayangnya –Raka. Mungkin beliau sudah terlalu panas pada
situasi ini.
"Andria, paman minta maaf untuk perkataan bibi,
paman juga tak habis pikir bagaimana ia bisa mengatakan hal sekasar itu sama
kamu dan Raka" ujar ayah Raka ketika melihat istrinya pergi meninggalkan
rumahmu.
Kamu tersenyum dan mengangguk "Andria mengerti
paman"
"paman minta maaf juga denganmu Andra, karena
istri paman bicara kasar dengan kamu dan Andria"
"maaf juga kalau saya kasar sama istri paman,
tapi saya emosi saudara kembar saya dibenci begitu dalam" ujar Andra
enteng.
"paman ngerti perasaan kamu, sekali lagi
maaf" ujar Restu- ayah Raka "ya sudah, pasti, ibu kamu udah nunggu di
mobil, ayah kesana dulu, mungkin ia bisa berpikir jernih setelah ini"
pamit beliau.
"ayah pulang dulu Rak"
Raka mengangguk "iya" kemudian kalian
mengantar beliau hingga depan teras rumahmu.
***
Kamu kembali ke dalam rumah setelah melihat
kepergian orangtua Raka. Raka masih memegang pinggangmu saat ini. Kamu mungkin
lelah tapi ia juga pasti lebih lelah.
“kamu nggak ikut balik?” kamu bertanya.
Raka menggeleng, menarikmu agar lebih dekat padanya.
“bisa - bisa emosiku naik kalau aku dirumah” jawabnya “aku disini saja ya?”
Kamu mengangguk. Mengijinkannya.
“aku mandi dulu ya?” kamu meminta ijin.
Raka mengangguk, ia kemudian duduk di sofa ruang
keluargamu, sementara kamu menuju kamarmu untuk mandi.
Kamu merasa gerah berlebihan, mengingat suasana yang
kamu alami tadi bukanlah suasana yang menyenangkan.
Lalu kamu segera membersihkan tubuhmu, kemudian
rencanamu selanjutnya adalah memasak untuk makan malam.
Dan kamu tidak mungkin membiarkan dua pria istimewamu
kelaparan.
Setelah acara mandi yang singkat kamu keluar dari
kamar, mencari Raka, kemudian kamu menemukannya sudah terlelap di sofa.
Akhirnya kamu kembali ke kamar, mengambil selimut dan bantal untuk dipakai
Raka.
Raka yang sedang terlelap adalah bagian hidupnya
yang kamu sukai, bagaimana Raka yang terkadang mendengkur, atau sekedar
penampilannya selama tidur.
Kamu tersenyum, merapikan rambutnya yang kusut.
Tidur Raka kali ini tak nyenyak seperti yang kamu tahu.
Kamu tidak akan pernah puas melihatnya tertidur.
Maka dari itu kamu putuskan untuk ke dapur, memasak makanan untuk kalian
bertiga. Sementara kedua pria itu tidur.
***
Kamu baru saja kembali dari taman di belakang
rumahmu saat menemukan Raka sedang makan di ruang keluarga “kenapa nggak panggil
aku?” kamu bertanya.
Raka tersenyum, kemudian menarikmu untuk duduk
disampingnya “nggak, masa udah di beri bantal, selimut, di masakan makanan,
masih ganggu kamu?”
Kamu tersenyum, mengangguk mendengarnya “ya sudah
makan dulu sana”
Ia mengangguk dan melanjutkan makannya.
Kamu memandangnya, jika seorang Raka terlihat polos
saat tidur, maka kini seorang Raka terlihat bersemangat. Mungkin karena ia memang sedang lapar.
“aku tahu kalau aku memang ganteng, tapi jangan
memandangku begitu. Nanti kalau kita udah nikah aja kamu boleh lihat aku pagi,
siang, malam sampai pagi lagi” godanya.
Kamu menggerutu “pede banget”
“kalau aku nggak pede kamu nggak akan jadi calon
istriku kali”
“aku lagi mikir, kalau nanti kita nikah berarti aku
harus masak kamu tiap hari gitu?” kamu bertanya.
Raka mengangguk “iyalah, kan kamu istriku, kamu juga
pintar memasak, jadi sia-sia kalau kamu nggak masak buat aku setiap hari”
kemudian ia tertawa.
“sebenarnya, kamu cari istri apa cari tukang masak?”
“cari istri lah sayang, tapi kalau kamu kan paket
lengkap, bisa masak, bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi banyak bonusnya” Raka
semakin tertawa.

Comments
Post a Comment