Skip to main content

Forgotten Promises- satu





Kamu merasakan tegang yang luar biasa. Bagaimana tidak, semua orang kini sedang membicarakanmu.
Bicara masa depanmu.

"mama masih berharap kamu memilih kami"

"Raka akan tetap memilih Andria" ujar pria yang berada di sebelahmu. Yang sedang mengenggam tanganmu.

"kamu nggak sayang sama keluarga kamu?" tanya wanita paruh baya yang duduk dihadapanmu.

"seluruh dunia tahu kalo Raka sayang kalian"

"kalau begitu kenapa kamu lebih memilih perempuan ini? Perempuan yang tidak sebanding dengan  keluarga kita?" calon ibu mertuamu berkata pedas, itu menyakiti hatimu. Tentu saja.

"bibi, tolong jaga bicara bibi, Andria ini adalah adik kembar saya yang selama ini saya jaga dengan baik dan ini adalah rumah kami" potong Andra, kakak kembarmu. Pria yang dua puluh enam tahun yang lalu berbagi rahim denganmu.

Sedang kamu masih menunduk, menahan sekuat tenaga agar kamu tetap terlihat tenang. Karena itulah yang orang tuamu ajarkan pada kalian ; kamu dan Andra.

"saya tidak punya urusan denganmu, urusan saya hanya pada adikmu yang tidak tahu diri ini. Hei perempuan tidak tahu malu, kamu berbuat apa hingga anakku yang penurut jadi pembangkang?" tanya ibu Raka sarkastik.

Kamu mengangkat kepalamu, ingin menyanggah semua perkataannya. Tapi genggaman di tanganmu mengerat. Kamu menoleh padanya. Pandangan matanya mengisyaratkan agar kamu tetap diam, dan tidak berbicara apapun yang akan merubah keputusannya.

Dan kamu percaya sepenuhnya kepada Raka.

"ibu seharusnya berterima kasih karena Andria yang mampu mengubah cara pandang Raka dan Raka lebih menghargai hidup Raka" ujar Raka mantap.

Sang ibu mendengus, mungkin tidak percaya anaknya bisa lebih memilih untuk bersamamu.

"ibu tidak mau tahu Raka, kamu harus tetap dengarkan dan turuti ibu. Jauhi perempuan ini dan menikah lah dengan perempuan yang sudah dipilihkan untukmu, yang sederajat dengan keluarga kita, atau kamu bisa bertemu dengan  yang lain" ujar ibu Raka.

Kamu meringis mendengarnya, namun Raka mendengus pada mamanya sendiri “Raka sudah buat keputusan Raka sendiri”

Setelah mengatakan hal itu beliau berdiri dan meninggalkan semata wayangnya –Raka. Mungkin beliau sudah terlalu panas pada situasi ini.

"Andria, paman minta maaf untuk perkataan bibi, paman juga tak habis pikir bagaimana ia bisa mengatakan hal sekasar itu sama kamu dan Raka" ujar ayah Raka ketika melihat istrinya pergi meninggalkan rumahmu.

Kamu tersenyum dan mengangguk "Andria mengerti paman"

"paman minta maaf juga denganmu Andra, karena istri paman bicara kasar dengan kamu dan Andria"

"maaf juga kalau saya kasar sama istri paman, tapi saya emosi saudara kembar saya dibenci begitu dalam" ujar Andra enteng.

"paman ngerti perasaan kamu, sekali lagi maaf" ujar Restu- ayah Raka "ya sudah, pasti, ibu kamu udah nunggu di mobil, ayah kesana dulu, mungkin ia bisa berpikir jernih setelah ini" pamit beliau.

"ayah pulang dulu Rak"

Raka mengangguk "iya" kemudian kalian mengantar beliau hingga depan teras rumahmu.


***


Kamu kembali ke dalam rumah setelah melihat kepergian orangtua Raka. Raka masih memegang pinggangmu saat ini. Kamu mungkin lelah tapi ia juga pasti lebih lelah.

“kamu nggak ikut balik?” kamu bertanya.

Raka menggeleng, menarikmu agar lebih dekat padanya. “bisa - bisa emosiku naik kalau aku dirumah” jawabnya “aku disini saja ya?”

Kamu mengangguk. Mengijinkannya.

“aku mandi dulu ya?” kamu meminta ijin.

Raka mengangguk, ia kemudian duduk di sofa ruang keluargamu, sementara kamu menuju kamarmu untuk mandi.

Kamu merasa gerah berlebihan, mengingat suasana yang kamu alami tadi bukanlah suasana yang menyenangkan.

Lalu kamu segera membersihkan tubuhmu, kemudian rencanamu selanjutnya adalah memasak untuk makan malam.

Dan kamu tidak mungkin membiarkan dua pria istimewamu kelaparan.

Setelah acara mandi yang singkat kamu keluar dari kamar, mencari Raka, kemudian kamu menemukannya sudah terlelap di sofa. Akhirnya kamu kembali ke kamar, mengambil selimut dan bantal untuk dipakai Raka.

Raka yang sedang terlelap adalah bagian hidupnya yang kamu sukai, bagaimana Raka yang terkadang mendengkur, atau sekedar penampilannya selama tidur.

Kamu tersenyum, merapikan rambutnya yang kusut. Tidur Raka kali ini tak nyenyak seperti yang kamu tahu.

Kamu tidak akan pernah puas melihatnya tertidur. Maka dari itu kamu putuskan untuk ke dapur, memasak makanan untuk kalian bertiga. Sementara kedua pria itu tidur.


***


Kamu baru saja kembali dari taman di belakang rumahmu saat menemukan Raka sedang makan di ruang keluarga “kenapa nggak panggil aku?” kamu bertanya.

Raka tersenyum, kemudian menarikmu untuk duduk disampingnya “nggak, masa udah di beri bantal, selimut, di masakan makanan, masih ganggu kamu?”

Kamu tersenyum, mengangguk mendengarnya “ya sudah makan dulu sana”

Ia mengangguk dan melanjutkan makannya.

Kamu memandangnya, jika seorang Raka terlihat polos saat tidur, maka kini seorang Raka terlihat bersemangat.  Mungkin karena ia memang sedang lapar.

“aku tahu kalau aku memang ganteng, tapi jangan memandangku begitu. Nanti kalau kita udah nikah aja kamu boleh lihat aku pagi, siang, malam sampai pagi lagi” godanya.

Kamu menggerutu “pede banget”

“kalau aku nggak pede kamu nggak akan jadi calon istriku kali”

“aku lagi mikir, kalau nanti kita nikah berarti aku harus masak kamu tiap hari gitu?” kamu bertanya.

Raka mengangguk “iyalah, kan kamu istriku, kamu juga pintar memasak, jadi sia-sia kalau kamu nggak masak buat aku setiap hari” kemudian ia tertawa.

“sebenarnya, kamu cari istri apa cari tukang masak?”

“cari istri lah sayang, tapi kalau kamu kan paket lengkap, bisa masak, bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi banyak bonusnya” Raka semakin tertawa.

Comments

Popular posts from this blog

Advertisement

Surabaya, 24 Juli 2019. Hallo. Setelah sekian lama berhenti menulis, akhirnya saya datang kembali, namun datang dengan prospek usaha dari perusahaan dari tempat saya bekerja. Ini dia.. Jadi, perkenalkan, ini adalah mesin printer, yang bisa mencetak gambar di berbagai media pangan, contohnya kopi, jus, dan kue. Semua bisa dicetak dan dinikmati dengan tinta edible yang aman diminum dengan sertifikasi halal dari MUI dan aman dari BPOM. Karena masih pagi, jadi ijinkan saya salin dan tempel dari website perusahaan saya. https://www.coffee-printer.com Keuntungan menggunakan Coffee Printer untuk bisnis anda bisa anda temukan di  sini… ATTENTION . WANTO TO GIVE A BUZZ TO YOUR BUSINESS? Apakah anda punya  MASALAH  dengan  PERSAINGAN? Atau  PROSPEK EKONOMI  mengganggu bisnis anda? Mungkinkah sebuah peralatan yg inovatif seperti Coffee Printer yg anda perlukan? CONSIDER THIS IDEA! HADIRKAN IDE SEGAR  dan  KREATIF Manfa...

Apa yang baru?

Surabaya, 27 Agustus 2020 Sudah beberapa waktu blog ini tidak terurus, dan saya berpikir "ini mau diapakan?"  Akhirnya hari ini saya obrak-abrik, pilih tema yang simpel tapi tetap cantik menurut saya, dan akhirnya jadi seperti ini; tenang, pastel dan tidak terlalu banyak warna.  Selamat datang kembali! xoxo, Inggridtyas

Author of the Week

Disini, saya ingin membicarakan tentang penulis-penulis yang "warbiyasah" Dan, untuk yang pertama kalinya saya mau membicarakan....... ETGAR KERET. Jadi, bapak Etgar Keret ini adalah penulis yang lahir di Ramat Gan, 20 agustus 1967. Si bapak ini juga terlahir sebagai anak ketiga dari pasangan yang selamat dari Holokaus (Holocaus adalah bencana pembunuhan orang yahudi yang didukung oleh nazi yang saat itu dipimpin Adolf Hitler. sumber :Wikipedia ) Kedua orang tuanya berasal dari Polandia. Dia tinggal di Tel Aviv dengan istrinya, Shira Geffen, dan putra mereka, Lev. Dia adalah seorang dosen di Ben-Gurion University of the Negev di Beer Sheva, dan di Tel Aviv University. Dia memegang kewarganegaraan ganda Israel dan Polandia Etgar Keret juga adalah satu-satunya penulis dari Israel yang bukunya boleh beredar di Palestina. Salah satu bukunya yang terkenal adalah The Seven Good Years yang terbit di tahun 2015: sebuah memoar yang humanis, cerkas, mengh...