Mo Yeon menemui Kepala Rumah Sakit Haesung, dan berkata, ”Anda sendiri yang mengatakan saya yang akan melakukannya. Anda sendiri yang mengatakan padaku saya yang akan melakukannya. Ini sudah yang ketiga kalinya.” Mo Yeon mengungkit satu persatu bagaimana Direktur Han memberikannya sejumlah alasan sehingga tidak memberinya posisi kepala ruang bedah.
Direktur Kang lantas bertanya, “Apa kau pikir kau memiliki posisi yang aman denganku?”
“Jika anda mengatakan seperti itu, tidak ada lagi yang bisa kukatakan. Saya tahu memiliki koneksi adalah sebuah keahlian. Jadi berikutnya siapa? Keponakan pemilikkrumah sakit” ucap Mo Yeon.
“Setidaknya satu dari tiga usaha, apa tidak seharusnya bakat yang sesungguhnya dihargai?
“Sepertinya kau tidak membutuhkan kesempatan keempat, Dokter Kang,” ucap Direktur.
Sedang berdebat dengan Direktur Rumah Sakit, tak lama Prof Kim Eun Ji datang ke ruangannya. Segera setelah kedatangannya, Direktur menyudahi perbincangannya dengan Mo Yeon dan menyuruh Eun Ji untuk menyerahkan materi yang akan ia sampaikan dalam siaran acara TV besok.
Mo Yeon ingin mengejar Direktur untuk sekali lagi memperbicangkan masalah mereka, tapi Kim Eun Ji menghentikannya.
Sebelum pergi bersama Direktur, Kim Eun Ji menyuruh Mo Yeon untuk menggantikannya dalam siaran besok hari karna harus makan malam dengan profesor.
Mo Yeon menatapnya dengan sinis, dan bertanya,”Apa kau menyuruhku menggantikanmu?”
“Kau harus melakukannya jika seorang profesor menyuruhmu,” ucap Eun Ji.
Mo Yeon menolak keras permintaannya, dan bertanya: “Apa yang akan kau lakukan jika saya katakan saya tidak akan melakukannya?”
“Coba saja. Kta lihat saja apa yang akan terjadi.”
Mo Yeon tak habis pikir mengapa dia harus menggantikannya dalam sebuah siaran esok hari, ketika makan malam yang akan ia hadiri malam ini. Eun Ji memberitahu Mo Yeon bahwa malam ini dia akan minum untuk merayakan telah menjadi seorang profesor sehingga dia tidak akan bangun lebih awal besok.
Mo Yeon tambah kesal mendengar alasannya yang konyol, dan bertanya, “Apa kau tidak malu?”
Dengan entengnya, Eun Ji mengatakan “Saya setuju. Setidaknya menjadi seorang professor meskipun saya harus menahan rasa malu,”
Dan kembali menyindir Mo Yeon, ”Tapi kamu memalukan dan kau tidak menjadi apa-apa.”
Tapi Mo Yeon tak mau kalah dengan menyebutnya orang yang hina. “Saya kasihan dengan pasien yang hidupnya ada ditanganmu.”
Eun Ji kesal mendengar ucapannya, dan tiba-tiba menarik rambtnya. Keduanya berakhir dengan jambak-jambakan rambut sampai harus dipisahkan oleh perawat Jae Ae dan Senior Sang Hyun.
“Apa yang sedang kulakukan sekarang? Saya pasti sudah gila,” dan Mo Yeon menangis sendirian di lorong rumah sakit, sambil memegang buku kedokteran dan menghafalnya.
Shi Jin, Dae Young dan sesama prajurit tiba di barak, dan tak berselang lama Letnan Jenderal Yoon datang. Dia mengakui pasti tidak mudah untuk tim Alpha terlibat dalam misi baik itu di dalam negeri maupun di luar negeri, oleh karena itu dia memutuskan untuk memberikan mereka waktu perpanjangan istirahat selama delapan bulan untuk mengikuti pelatihan selama 8 bulan di kamp Taebaek, dan memerintahkan untuk menemui kekasih dan keluarga mereka selama dua minggu sebelum masa pelatihan. Dan rekan Shi Jin menebak mereka kembali mengikuti pelatihan karna akan kembali ditugaskan untuk sebuah misi.
Shi Jin datang ke rumah sakit mencari Mo Yeon, karna ponselnya tak diangkat, dia lantas bertanya kepada perawat Ja Ae. Perawat Ja Ae menunjuk ke arah televisi dan memberitahu Shi Jin dia sekarang sedang siaran langsung. Dia berdiri di depan TV, dan memandangi wajahnya yang cantik.
Mo Yeon tiba di rumahnya, dan mendapati Shi Jin sudah menungguinya. Mereka berdua duduk di sebuah restoran, dan Shi Jin meminta maaf karna hari itu meninggalkannya sendirian. Mo Yeon mengatakan yang ia inginkan bukan sebuah permintaan maaf tapi sebuah penjelasan.
“Kali ini kemana kau pergi?” tanya Mo Yeon.
Shi Jin mengatakan dia tidak pergi jauh, dan tidak bisa menjelaskannya secara detail karna aturan.
Mo Yeon mengakui dia mengalami hari yang sulit, saat Shi Jin mendatangi berbagai tempat.
“Saya bertanya-tanya, “Kemana pria yang kusukai pergi? Apa yang dia lakukan? Tapi sekarang kau mengatakan saya tidak bisa mendengar ceritamu bahkan jika kita bertemu seperti ini karna peraturan.”
Shi Jin meminta maaf, dan Mo Yeon kembali bertanya apa Shi Jin seorang Pasukan Unit Khusus, atau semacamnya.
“Mirip,” ucap Shi Jin.
“Kenyataan bahwa kau memiliki luka tembak berarti kau tertembak, maka apa itu berarti kau juga mempunyai senjata. Jadi maksudku, entah kau membunuh seseorang, atau dimana kau bisa meninggal, pekerjaan semacam itu yang kau lakukan. Apa kau hanya berkelahi dengan orang-orang jahat?”
Mo Yeon mengatakan bahwa dia menghabiskan lebih dari 12 jam di ruangan operasi, mencoba untuk menyelamatkan orang-orang agar tidak mati.
“Itulah yang kulakukan. Berjuang untuk menyelamatkan nyawa orang-orang. Tapi pekerjaanmu adalah menyelamatkan orang-orang diantara kematian.”
Shi Jin memberitahu Mo Yeon bahwa dia adalah seorang prajurit yang bertindak sesuai perintah. Dia berusaha untuk melakukan yang terbaik dalam menjalankan misinya. Dia mengakui hingga sekarang, telah kehilangan tiga orang kawan seperjuangannya dalam operasi militer.
Shi Jin mengatakan alasan dia melakukan pekerjaan ini adalah karna itu adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh seseorang.
“Saya dan keluargaku, Dokter Kang dan keluargamu, dan orang-orang penting untuk anggota keluarga mereka. Saya percaya pekerjaanku untuk menjaga kebebasan dan kedamaian tanah ini untuk mereka.”
“Saya seorang dokter. Hidup memiliki martabat. Saya pikir tidak ada yang lebih penting dari martabat,” ucap Mo Yeon
Mo Yeon minta maaf, karna pertemuan ini tidak seperti yang ia perkirakan, dan pamit pergi meninggalkan Shi Jin di restoran.
Shi Jin sedang mandi di kamp, meskipun sepertinya sedang dalam suasana hati yang gundah gulana, dan tak berselang lama Dae Young ikut bergabung.
Shi Jin heran melihat dia telah ada di kamp, dan kembali bertanya apa Dae Young akan pergi tanpa menemui Myeong Joo.
“Jika kau pergi ke medan tempur, kau tidak akan melihatnya lebih dari setengah tahun.”
Dan Dae Young balik bertanya apa Shi Jin tidak menemui dokter yang ia taksir.
Shi Jin tak menjawab, dan Dae Young lantas berkata dia mendengar Uruk mempunyai banyak wanita cantik, dan Shi Jin hanya tertawa kecil.
Delapan bulan kemudian, Shi Jin, Dae Young dan prajurit lainnya ditugaskan di Uruk untuk menjaga keamanan. Sementara prajurit yang lain menenteng senjata mereka dan beberapa diantaranya menjalankan alat pendeteksi untuk menemukan dinamit yang tertanam di dalam tanah, Shi Jin malah duduk di mobil jeepnya sambil memejamkan mata.
Dae Young datang menghampirinya dan bertanya apa dia sedang tidur siang.
Sambil menutup matanya, Shi Jin mengatakan dia sedang rileks dari tugas untuk menjaga kedamaian.
Dae Young dan Shi Jin menerima sebuah laporan penemuan dinamit yang memiliki daya ledak tinggi di sebuah wilayah. Berada di lokasi, mereka memperkirakan dinamit yang mereka temukan adalah buatan Rusia yang digunakan oleh Uruk Utara selama perang. Shi Jin bisa melihat sekering bomnya masih aktif, dan Dae Young memperingatkan bahwa radius ledakannya akan cukup besar.
Prosedur dasar telah dilakukan oleh Staf Sersan Choi Woo Geun, dan menunggu perintah dari Shi Jin apa yang harus mereka lakukan selanjutnya. Staf Sersan Choi Woo Geun berpendapat jika mereka melaporkannya kepada Letnan Kolonel, dia akan memperingatkan mereka untuk tidak menyentuh dinamitnya, tapi akan meminta kerja sama dengan tentara Amerika.
Namun Shi Jin memerintahkan mereka untuk meledakkan dinamit itu, dan bersiap untuk bertanggung jawab.
Ketika kembali ke posko, atasan Byung Soo menegur keras keputusan sepihak yang diambil oleh Shi Jin di lapangan, tanpa berkoordinasi dengannya terlebih dahulu. Dia kembali mengingatkan bahwa tugas mereka hanya menemukan dinamit aktif dan menyerahkannya kepada tim penjinak bom untuk menangani peledak hidup.
Dengan nada yang meluap-luap, atasan Byung Soo bertanya siapa yang bertanggung jawab. Shi Jin berakting di depan atasannya, menuduh Da Young tidak menghentikannya.
Dae Young dan Shi Jin berlari mengelilingi posko mereka sebagai hukuman atas ketidaktaatan mereka, sementara Shi Jin menganggap hukuman ini jauh lebih baik ketimbang menulis laporan.
Sementara itu, di Korea, Mo Yeon kembali syuting siaran acara kesehatan di TV mempromosikan program pemeriksaan kesehatan terbaru rumah sakit Haesung, dan berkat acara itu wajahnya terpampang di poster untuk kampanye program terbaru mereka, dan beberapa pengunjung rumah sakit bahkan menyempatkan diri mengambil fotonya saat ia berjalan di lobby rumah sakit.
Mo Yeon datang membawakan roti untuk para perawat dan termasuk untuk Senior Sang Hyun, dan sejenak mereka berbincang tentang siaran TV Mo Yeon yang berhasil membuatnya terkenal bahkan sekarang menjadi maskot rumah sakit, sampai kedatangan Eun Ji yang merusak suasana hatinya.
Eun Ji merasa cemburu dengan Mo Yeon, dan menyindirnya, “Bagus juga untukmu. Kau tak tahu punya rasa malu. Dan dia mungin akan berkeliling mengatakan bahwa dia seorang dokter.”
Sadar dirinya sedang disinggung, Mo Yeon menatapnya, dan berkata, “Kau juga bukan seorang dokter. Kau hanya putri ayahmu.”
“Hei seorang dokter harus ada di ruang operasi untuk menjadi seorang dokter. Bukan di ruang ganti,”ucap Eun Ji.
“Kau dan saya sama. Kita tidak sedang berada di ruangan operasi. Karna saya sibuk, tapi kau tidak punya keahlian.”
Eun Ji mengingatkan Mo Yeon untuk tidak sombong, karna dia berhasil mendapatkan wawancara itu hanya karna menggantikannya.
“Kau merasa seperti telah mendapatkan dunia ini?” tanya Eun Ji.
Mo Yeon merasa dia terlalu berlebihan, dan mengklarifikasi, “Saya hanya mengambil papan nama yang kau ambil.”
Mo Yeon naik ke atas atap rumah sakit, dan kembali mengingat setiap momen kebersamaannya bersama Shi Jin.
Kembali ke Uruk, Shi Jin membantu prajurit pemula yang menyekop tanah untuk drainase, dan dia tergores oleh sekop. Sambil tertawa kecil, dia menyadari dia akhirnya benar-benar terluka karna menyekop.
Shi Jin dan Dae Young datang kesebuah bar untuk membeli whipping cream dan anggur untuk perayaan uang tahun atasan mereka, dan terpukau dengan kecantikan pelayan bar wanitanya.
Beberapa saat kemudian seorang wanita datang, dan meminta sebuah senjata kepada pelayan bar wanita itu. Dan dia tiba-tiba mengarahkan senjatanya ke arah Shi Jin dan Dae Young yang ada di dekatnya, meskipun hanya untuk menakut-nakuti mereka sampai membuat keduanya menunduk karna kaget.
Tapi dengan secepat kilat, Shi Jin merebut senjata yang ada di tangannya, dan mengarahkan senjata itu ke wanita tersebut. Shi Jin mengeluarkan isi peluru dari senjata itu, dan wanita tersebut memberitahu Shi Jin bahwa dia membeli senjata itu bukan untuk membunuh seseorang, tapi untuk melindungi dirinya sendiri. Dia mengambil senjata dan peluru miliknya dan dan pergi dari bar.
Shi Jin lantas bertanya kepada pelayan bar siapa wanita itu, tapi dia memberitahu Shi Jin ada dua hal yang mereka tidak jual di tempat ini, wanita dan informasi.
Di kantin rumah sakit, para perawat duduk bersama Mo Yeon dan Senior Sang Hyun memperbincangkan tentang tenaga relawan yang akan dikirim ke Moroko. Sang Hyun tak tahu pasti siapa yang akan pergi tapi dia menebak orang-ot\rang yang akan dikirim adalah mereka yang tak punya uang dan nepotisme.
Dan menebak salah satu dari antara mereka adalah dirinya, dia tak punya uang, kekuasaan dan keberuntungan, sementara Chi Hoon (Onew) mengungkapkan keinginannya akan ikut menjadi relawan.
Dan beberapa saat kemudian Chairman Han datang menghampiri Mo Yeon, dan memberitahunya untuk mengosongkan jadwalnya malam ini untuk makan malam bersama. Mereka kemudian bertanya-tanya apakah Chairman Han sedang melancarkan aksinya untuk mendekati Mo Yeon.
Kemudian Mo Yeon terlihat kaget karna mendatangi sebuah kamar hotel bersama Presiden Lee. Presiden Lee bersikap kurang ajar dengan menyangka Mo Yeon setuju untuk melakukan hal selain dari makan malam. Dia bersiap untuk membuka kancing kemejanya, dan Mo Yeon datang mendekatinya dan memukulnya dengan tasnya.
Dan kemudian Mo Yeon memberitahu Ji Soo bahwa dia telah memukul Chairman Lee. Dia lantas bertanya-tanya apa dia akan dipecat karna kejadian ini.
Para dokter rumah sakit kemudian berkumpul dalam rapat membahas relawan yang akan dikirim oleh rumah sakit. Dan dalam rapat tersebut, Presiden Lee mengumumkan bahwa dia akan menugaskan Kang Mo Yeon sebagai pemimpin tim relawan. Mo Yeon tak bisa berkata apa-apa, hanya sedikit terkejut tapi dia sepenuhnya mengetahui alasan dibalik keputusan Presiden Lee mengirimnya sebagai tenaga relawan.
Kembali ke Uruk, Shi Jin sudah mendengar kabar tentang Mo Yeon yang masuk dalam daftar tim dokter relawan, dan dia memberitahu Dae Young bahwa Mo Yeon tidak tahu dia ada di tempat ini.
Sementara itu, rombongan tim relawan yang dipimpin oleh Mo yeon telah tiba di Bandara Internasioanl Urk ditengah cuaca yang sangat panas.
Chairman Han menelpon Sang Hyun, dan kemudian memberikan ponselnya kepada Mo Yeon agar Charman Han bisa berbicara dengannya. Chairman Han menawarkan Mo Yeon jika dia berubah pikiran, dia berjanji akan membawanya kembali ke Korea.
Tapi Mo Yeon menolaknya mentah-mentah. “Lupakan saja dan saya tahu pasti akan ada sesuatu yang aneh ketika kau membawaku ke hotel tapi saya tak tahu kau sepengecut ini,” ucap Mo Yeon. Dia berjanji segera setelah dia kembali ke rumah sakit, dia akan memberikannya surat pengunduran diri.
Dan mendengar perbincangan mereka berdua ditelpon, teman-teman rombongannya sudah bisa menebak apa yang terjadi, dan Mo Yeon mengkonfirmasinya bahwa itulah alasan mengapa dia ada disini.
Sebuah pesawat helikopter terbang menuju bandara, dan ketika pesawat helikopter itu mendarat, Mo Yeon melihat sejumlah prajurit berjalan keluar dari pesawat dan mengenali salah satu diantara mereka adalah Shi Jin.
Mo Yeon berdiri menatapnya, dan Shi Jin hanya berjalan melewati Mo Yeon dan berkata dalam hati, “Saat lewat, saya bertemu dengan tiba-tiba dengannya.”
.
Sumber Dok Gambar: KBS 2TV
Comments
Post a Comment