Semuanya berkumpul termasuk para dokter relawan melepas kepergian pasien VIP yang dipindahkan dengan pesawat helikopter.
Di atas helikopter, seorang pasukan pengawal pribadi Presiden Mubarak memberi hormat pada Mo Yeon sebagai ucapan terima kasihnya karna telah menyelamatkan pemimpin mereka.
Woo Geun menelpon Dae Young yang telah kembali ke Korea untuk memberikan kabar terbaru tentang kondisi pasien VIP yang telah dipindahkan ke kota. Kim Ki Bum berdiri disampingnya untuk menguping sehingga Woo Geun menyalakan speaker ponselnya agar keduanya bisa berkomunikasi. Dia mengungkapkan kesedihannya karna kepergian Dae Young, sementara Dae Young mengingatkannya untuk tetap melalukan persiapan mengikuti ujian kesetaraan.
Sementara itu, di setibanya ia di Korea, Dae Young secara kebetulan bertemu dengan Myeong Joo di bandara.
Dia datang menghampiri Dae Young dan berkata, “Kau adalah orang yang kucari. Tapi apa yang kulakukan jika dia ada disini. Apa yang kau lakukan? Apa kau ingin lari lagi? Saya bertanya apa kau kembali lari.”
Dae Young menurunkan barangnya, dan membalasnya dengan formal bahwa dia ditugaskan untuk kembali ke Korea, tapi Myeong Joo malah menamparnya.
Myeong Joo memukul-mukul dada Dae Young berulang-ulang kali, memohon padanya untuk kembali ke Urk bagaimanapun caranya, sambil menangis. Dae Young mengingatkan Myeong Joo untuk tetap memakai seragamnya meskipun cuaca panas di tempat penugasannya karna ada banyak nyamuk, dan berjalan pergi dari hadapannya.
Tapi Myeong Joo memegang tangannya, sehingga Dae Young menariknya ke dalam pelukannya. Myeong Joo menangis, dan bertanya, “Apa yang kau ingin saya lakukan? Dae Young hanya meminta satu hal padanya untuk menjaga dirinya.
Dae Young kemudian berjalan pergi dari hadapannya dengan wajah yang tampak tegar, meskipun mungkin jauh dalam lubuk hatinya dia juga terluka sama seperti Myeong Joo.
Dengan air mata yang berlinang, Myaeng Joo berkata padanya, “Jika kau menyentuhku, seharusnya kau bertanggung jawab! Kau mengatakan kau tak bisa bahagia dengan perasaan yang masih melekat. Kau membuat wanita lain melupakanmu begitu mudahnya. Mengapa kau tidak melakukannya padaku?”
Flashback: Myeong Joo menemani Dae Young datang ke pernikahan mantan kekasihnya, dan bertanya apa Dae Young sangat mencintai mantannya. Dae Young menjawab bahwa dia telah berjanji padanya untuk membuatnya bahagia, dan Myeong Joo tak mengerti karna kedatangannya hanya akan membuat berantakan pernikahan mantannya.
Dae Young kemudian mengatakan orang-orang tak bisa bahagia jika mereka masih mempunyai perasaan yang melekat, sehingga Myeong Joo menarik kesimpulan bahwa kedatangan Dae Young ke tempat ini bukan untuk balas dendam tapi untuk membuat mantannya melupakan Dae Young.
Dae Young mendatangi ruang tunggu pengantin, dan sontak mantannya sangat terkejut melihatnya. Awalnya mantan Dae Young sempat marah dengan kedatangannya, tapi Myeong Joo datang. Seperti perjanjian mereka, dia memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Dae Young, dan berlagak mesra di depannya.
Dae Young tiba-tiba saja menggenggam tangan Myeong Joo didepan mantannya, dan berpesan agar dia hidup bahagia tanpa ragu karna telah memilih pasangan hidupnya, dan dengan tulus mengucapkan selamat pada pernikahannya.
Mereka berdua berakhir datang ke sebuah kedai minuman untuk minum soju bersama, mengobati kesedihan Dae Young. Dan Myeong Joo kemudian menagih janjinya agar Dae Young mengatakan di depan Shi Jin bahwa mereka pacaran.
Kemudian kita melihat keduanya ada di kedai minuman, dimana Myeong Joo protes dengan rumor yang beredar bahwa mereka berdua telah tidur bersama. Dae Young mengatakan yang ia ucapkan hanyalah seperti perjanjian bahwa mereka berdua pacaran, dan mengenai rumor yang beredar hal itu terjadi hanya karna imajinasi prajurit. Dan mereka berdua banyak menghabiskan waktu bersama bercekcok di kedai minuman, layaknya sepasang kekasih sungguhan.
Letnan Jenderal Yoon diberitahu bawahannya bahwa Myeong Joo baru saja tiba di Uruk sementara Dae Young telah meninggalkan kota tersebut.
Beberapa saat kemudian dia dihubungi oleh pejabat di gedung Blue House, yang memberitahunya bahwa mereka telah menerima pesan dari Arab perihal pasien VIP. Dia menyampaikan pesan dari Arab yang mereka minta untuk dikatakan adalah “dari awal tidak ada operasi, “tidak ada kunjungan medis”, “tidak ada rekaman medis yang akan dibuat,” dan para pejabat telah setuju dengan permintaan mereka, dan keputusan untuk konsekuensi Kapten Yoo Shi Jin akan dihargai dengan baik.
Letnan Jenderal Yoon kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menghapus semua catatan operasi, dan mengeluarkan Shi Jin dari tawanan.
Keluar dari tahanan, Kim Ki Bum secara spesial membuatkan makanan khusus berupa hidangan Tofu untuk Shi Jin, meskipun akhirnya Shi Jin sebagai Komandan Kompi mentraktir anak buahnya samgyeopsal (BBQ Korea) setelah serentetan kejadian yang mereka alami.
Me Yeon datang dengan tergesa-gesa tepat saat Shi Jin sedang makan bersama anak buahnya. Shi Jin tahu Mo Yeon ingin menemuinya, sehingga tanpa menunggu lama Shi Jin langsung mengajaknya untuk berbicara berdua.
Setelah kejadian tersebut, Shi Jin mengaku mengira Mo Yeon hanya seorang dokter yang ada di depan TV, tapi ternyata dugaannya salah karna dia berhasil menyelamatan pasien. Sementara, Mo Yeon mengucapkan terima kasih pada Shi Jin karna telah mempercayainya.
Shi Jin memberitahu Mo Yeon masih ada satu hal yang menganggunya. Dia berharap Mo Yeon tidak akan menanggapi serius tentang ucapannya bahwa dia hanya dokter yang tampil di TV.
Saat keduanya sedang berbincang, pengawal pribadi Presiden Mubarak datang menjemput mereka dengan sebuah mobil. Mereka datang menemui Presiden Mubarak yang mengucapkan terima kasihnya secara langsung karna telah menyelamatkan nyawanya.
Sebagai ucapan terima kasih, Mo Yeon diberikan kartu, dimana dengan kartu tersebut seorang pengawal pribadi Presiden akan membantunya dimanapun, diseluruh Negara Arab. Mo Yeon tak menyia-nyiakan kesempatannya untuk meminta satu kartu lagi.
Tapi Shi Jin malah menggunakan sebuah kartu hanya untuk meminjam mobil, membawanya ke sebuah tempat untuk minum bersama. Pilihannya membuat Mo Yeon kesal karna dia menggunakan kartunya yang penting hanya untuk sebuah kencan.
Duduk bersama di sebuah restoran, Mo Yeon masih kesal dengan pilihan Shi Jin dan melarangnya untuk memegang kartunya. Mo Yeon lantas bertanya-tanya apa yang harus ia lakukan dengan kartu ini, apa dia bisa memulainya dengan membuka sebuah klinik di Arab, dan berpikir seharusnya tadi mereka berfoto bersama dengan Presiden Mubarak.
Shi Jin lantas bertanya mengapa Mo Yeon ingin menjadi dokter. Mo Yeon menjawab karna dia jago di bidang IPA, khususnya matematika. Dia dulu berpikir menjadi seorang dokter akan mempunyai banyak uang, dan percaya hidup dengan uang jauh lebih baik dibanding mengejar uang.
Dia mengungkapkan terlepas dari apa yang orang katakan, dia berusaha melakukan yang terbaik dalam pekerjaannya, dan berpikir membangun rumah sakit di Kangnam adalah bisnis yang bagus.
Shi Jin kemudian bertanya mengapa Mo Yeon terus menganggap dirinya sebagai orang yang jahat. Mo yeon menjawab dia merasa cocok untuk mengatakan bahwa dia menjadi dokter untuk mendapatkan uang, dan mengakui banyak hal yang terjadi selagi Shi Jin tidak ada yang telah merubahnya.
Mo Yeon melihat Shi Jin sama sekali tak berubah, tapi Shi Jin malah bercanda di depannya saat berkata bahwa dirinya tambah tampan, tapi tidak dilihat dengan jelas.
Mo Yeon tertawa dengan candanya, dan melihat senyuman di wajahnya Shi Jin berkata, “Caramu tertawa cantik.”
Tapi kebersamaan mereka terganggu karna Shi Jin tiba-tiba mendapat telpon yang mengharuskannya untuk segera pergi.
Dengan ketus, Mo Yeon mengatakan “Saya pikir akhir dari kencan kita sama sekali tidak berubah. Entah itu di Korea atau disini. Kemana kau akan pergi? Kau tak dapat memberitahuku karna aturan? Itu adalah sebuah tempat yang tidak dapat kudatangi bersamamu?”
Menanggapi pertanyaannya, Si Jin memberitahu Mo Yeon bahwa tidak ada gunanya dia membawanya ketempat itu.
“Pekerjaan yang kulakukan tidak menguntungkan untuk hubungan kita.”
Mo Yeon: “Meskipun seperti itu, bagaimana jika saya ingin pergi bersamamu.”
Shi Jin akhirnya datang ke sebuah acara pemakaman seorang prajurit kemanan membawa Mo Yeon. Shi Jin menaruh bunga di peti mayatnya, dan di dekat peti mayatnya ada sebuah foto Shi Jin bersama beberapa pasukan termasuk kawannya yang telah meninggal.
Kemudian kita melihat, Shi jin berfoto akrab bersama dengan seorang pasukan, Agus. Dan jauh dari kejauhan, Agus melihat proses pemakaman tersebut, dan pergi.
Sesampainya mereka dikamp usai menghadiri pemakaman, Mo Yeon ingin penjelasan tentang pemakaman yang tadi mereka datangi.
Shi Jin memberitahu Mo Yeon bahwa yang meninggal adalah pasukan yang berjuang bersamanya untuk menjaga keamanan. Meskipun Mo Yeo ingin membahas lebih lanjut tentang pekerjaannya, tapi Shi Jin memilih untuk tidak membahasnya, dan berkata, “Lihat. Tidak ada gunanya jika kita datang bersama.”
Keesokan harinya, Mo Yeon bertanya pada Woo Geun tentang keberadaan Shi Jin karna tidak melihatnya. Dan dengan wajah yang ketus, Woo Geun memberitahunya bahwa Shi Jin ada di markas utama Urk untuk mendengar hukuman disiplinnya.
Mo Yeon kaget mendengar kabar tersebut karna menurutnya dia berhasil melaksanakan operasinya, tapi Woo Geun memberitahu Mo Yeon bahwa sebuah perintah dalam kehidupan prajurit adalah emas.
Lengkap mengenakan baju dinas militernya, Kapten Shi Jin datang ke Markas Militer Kesatuan Taebaek Urk untuk mendengar hukuman disiplinnya karna telah melanggar perintah. Atas ketidak taatannya, Shi Jin diberikan tiga bulan hukuman, dan dia harus tetap tinggal di Uruk ketika prajurit lain kembali ke Korea.
Usai mendengar hukuman disiplinnya, dia berjalan keluar menuju mobilnya tapi tiba-tiba Myeong Joo menenta kakinya, sampai membuatnya terjatuh.
Myeong Joo memberitahu Shi Jin bahwa dia telah tiba di Uruk sejak kemarin, sementara Shi Jin tak habis pikir mengapa dia harus menyiksa diri menjadi seorang prajurit ketika dia mempunyai kesempatan untuk memulai bisnis di Kangnam.
Sambil menepuk pundaknya, Myeong Joo memberitahu Shi Jin bahwa dia juga memiliki tujuan untuk meletakkan bintang di pundaknya. Dia menebak Myeong Joo sudah mengetahui tentan kembalinya Dae Young ke Korea, dan sejenak menggodainya dengan hubungan mereka.
Tapi, dia melihat kedatangan Mo Yeon menemui Komandan Byung Soo untuk mengklarifikasi keadaan yang sesungguhnya. Mo Yeon protes mengapa kapten Shi Jin yang harus bertanggung jawab ketika dia sama sekali tidak bersalah, dan masalah itu timbul karna dirinya.
Komandan Byung Soo dengan tegas mengatakan bahwa Shi Jin bersalah karna tidak mengikuti aturan. Dia menjelaskan bahwa Mo yeon hanya seorang dokter yang menyelamatkan pasien, tapi berbeda dengan dunia militer.
Mo Yeon bersikeras akan menjadi saksi untuk membantu meringankan hukuman Kapten Shi Jin, tapi komandan Byung Soo memukul mejanya karna jengkel dan mempertegas bahwa dia tidak bisa seenaknya ingin bertanggung jawab karna ini bukan kasus hukum.
Shi Jin datang, menarik tangannya dan membawanya ke sebuah tempat untuk berbicara empat mata. Shi Jin menegur keras sikap Mo Yeon barusan, dan mempertegas bahwa dia berani menentang perintah bukan karna dirinya. Dia kemudian bertanya apa Mo Yeon masih ingat dengan luka tembak yang ada di tubuhnya ketika mereka pertama kali bertemu.
Shi Jin menceritakan kepada Mo Yeon ketika hari pertama dia ditugaskan seorang Sersan Pasukan Khusus, Seniornya berkata “Seorang prajurit mengenakan kain kafan sepanjang waktu. Saat kau meninggal di medan perang yang tidak diketahui untuk negaramu, tempat kau terbaring menjadi makammu, dan seragammu menjadi kain kafanmu. Kau harus mengenakan seragammu dengan ketetapan hati seperti itu. Jika kau mengenakan seragam dengan ketetapan hati seperti itu, berbanggalah di setiap kesempatan. Tidak ada alasan untuk tidak menjadi seperti itu.”
Dia memberithu Mo Yeon bahwa dia berhutang nyawa pada seniornya itu, saat dia terkena luka tembakan. Shi Jin mengatakan semua keputusan yang ia buat entah itu besar atau kecil mempertimbangkan kehormatan kawan, kemuliaan dan rasa kewajiban dan sedikitpun tidak menyesali keputusannya.
Dia merasa keputusannya telah melanggar hukum militer tidak bisa diabaikan begitu saja sehingga memberitahu Mo yeon untuk tidak ikut campur. Dengan mata berkaca-kaca, Mo Yeon minta maaf karna telah ikut campur dalam urusannya, dan pergi mengemudikan mobilnya sambil menangis meninggalkan Shi Jin.
Disaat suasana hatinya lagi suntuk, Shi Jin menelpon Dae Young, tapi sebaliknya Dae Young malah bertanya tentang Myeong Joo. Shi Jin yang lagi suntuk meluapkan kekesalannya bahwa sekarang dia tidak dapat promosi, dan bahkan gajinya dipotong, tapi Dae Young masih memikirkan Myeng Joo.
Dae Young mengatakan dia pantas menerimanya, dan bertanya berapa banyak uang yang akan ia gunakan karna seorang gadis.
Shi Jin berusaha menampik bahwa hukuman yang ia terima bukan karna seorang gadis, dan sudah tugasnya sebagai seorang prajurit untuk melindungi warga negaranya sebagai prioritas.
“Karna warga itu cantik,” ledek dae young.
Shi Jin tiba di kamp diantar oleh seorang pasukannya, dan masuk kedapur untuk mengambil sebuah botol minuman anggur sesuai saran Dae Young, untuk meneguk alkohol setelah mengalami pemotongan gaji dan gagal mendapat promosi.
Tak berselang lama, Mo Yeon juga datang ke dapur untuk minum. Tapi, tapi melihatnya Mo Yeon bersiap untuk beranjak pergi karna tidak ingin menggangunya.
Shi Jin menghentikannya dan berkata, “Tidak saya ingin bersamamu. Saya sudah katakan itu berulang kali. Jangan Pergi”.
Shi Jin kemudian menawarkan Mo Yeon untuk minum anggur ketimbang air minum, dan kaget saat melihatnya langsung meneguk anggur dari botol.
Mo Yeon kemudian minta maaf atas sikapnya tadi, dan bertanya bagaimana dia bisa sampai. Shi Jin berbohong, memberitahu Mo Yeon bahwa dia bisa sampai karna berlari. Tapi kebohongannya ketahuan karna Mo Yeon melihatnya baru saja turun dari mobil.
Keduanya sejenak berbincang di tempat itu, dan melihat Mo Yeon meneguk anggurnya Shi Jin berharap mereka berdua bisa menonton sebuah film dan minum bersama.
“Apa kau menonton filmnya?,” tanya Shi Jin.
“Tidak,” jawab Mo Yeon.
“Mengapa kau tidak menontonnya?”
“Karna itu sebuah film yang dulu ingin kutonton bersama seseorang. Dan saya memikirannya. Ketika lain kali saya menonton film bersama seorang pria, saya harus menghindari film lucu. Setiap hari ada artikel berita tentang film itu yang menembus angka penjualan 10 juta penonton. Tapi film itu membuatku memikirkanmu karna film itu tentang Yoo Shi Jin untukku.”
Mo Yeon kemudian menawarkan botol anggurnya pada Shi Jin.
Shi Jin, “Sepertinya tidak ada cara lain.” Dia berjalan mendekatinya dan mencium Mo Yeon.
Comments
Post a Comment