Mo Yeon datang menemui wali pasien motor yang melarikan diri dari rumah sakit, dan saat dia datang menghampirinya Moo Yeon mengenali wanita itu yang mengenakan pakaian militer .
Myeong Joo memanggilnya Sunbae Mo Yeon, dan lantas bertanya apa Mo Yeon adalah dokter yang menangani pasien yang ia cari. Dia lantas bertanya dimana pasiennya, dan kemudian meminta catatan medis kesehatannya.
Tapi Mo Yeon menolak, sehingga sekali lagi Myeong Joo mendesaknya dan berkata, “Bagiku dia orang yang sangat penting.”
Myeong Joo bertanya apa pasien itu benar-benar terluka, dan mengkritik Mo Yeon sebagai dokter yang bertugas menanganinya tapi malah tidak tahu pasiennya melarikan diri.
Dia bertanya mengapa pasiennya pergi, tapi dengan tenangnya Mo Yeon hanya menjawab, “Itulah yang ingin saya tanyakan,” dan meminta Myeong Joo untuk membayar tagihan rumah sakitnya.
Mo Yeon kemudian memerintahkan seorang perawat untuk memanggil petugas keamaman rumah sakit memeriksa kamar mandi pria, mencari si pasien, dan berjalan pergi dari ruangan gawat darurat.
Myeong Joo menegur Mo Yeon karna langsung pergi begitu saja tanpa mau ambil pusing, tapi Mo Yeon hanya mengatakan jika mereka menangkap seorang pasien sebanyak dua kali yang tidak ingin dirawat, dia berpikir rumah sakit telah melakukan yang terbaik yang mereka bisa.
Sementara itu Mo Yeon datang menemui Ji Soo, (Hyun Jyu Ni) dan dengan antusias memberitahunya bahwa Myeong Joo ada di ruangan gawat darurat.
Ji Soo bertanya apa dia Yoo Myeong Joo, dari akademi kemiliteran. Mo Yeon menjawab ya, dan menjelaskan dia adalah gadis militer yang magang dengan mereka. Ji Soo menyebutnya sebagai ullzang yang telah mencuri Senior yang ditaksir oleh Mo yeon. Tapi Mo Yeon malah tertawa saat Ji Soo menyebutnya ullzang.
Dia tak habis pikir Ji Soo menyebutnya ullzang, dan bertanya
“Apa kau ullzang jika matamu besar? Apa kau ullzang jika hidungmu tinggi?” Dia berpendapat semua itu hanya pengaruh make up, tapi bagi Ji Soo Myeong Joo cantik meskipun makeupnya dihapus sampai membuat Mo Yeon tak bisa berkata apa-apa.
Ji Soo bertanya mengapa Myeong Joo ada di ruangan gawat darurat, dan Mo Yeon menjelaskan bahwa kekasih Myeong Joo terluka, tapi menurutnya dia menebak usia kekasihnya masih 20 tahun.
“Bukankah dia gila?, ucap Mo Yeon.
Ji Soo lantas mengklarifikasi kepada Mo Yeon bahwa kekasih Myeong Joo adalah seorang prajurit, meskipun awalnya dia sedikit tak percaya karna setahunya pasien itu berambut panjang.
Dia memberitahu Mo Yeon bahwa kekasih Myeong Joo adalah seorang Busagwan (perwira militer atau pemimpin pasukan), dan dia sangat terkenal diantara para rekan-rekannya bahkan kisah cintanya.
Mo Yeon lantas bertanya-tanya siapa sebenarnya orang yang ia kira kekasih Myeong Joo.
Shi Jin datang bersama Dae Young membopong Kim Ki Beom yang sedang terluka ke rumah sakit, tepat disaat Myeng Joo berdiri melihat mereka di lorong rumah sakit.
Myeong Joo bertanya apa yang terjadi, karna dia mendengar Dae Young terluka, tapi di depan matanya dia baik-baik saja.
Mo Yeon datang ke ruang gawat darurat, dan melihat pasiennya luka memar Mo Yeon lantas bertanya apa yang terjadi, dan Shi Jin kemudian menjelaskan terjadi sebuah kecelekaan didekat sini.
Tapi Mo Yeon membantahnya, dan menganggap ini sebuah penganiayaan, dan kemudian menuduhnya telah menganiaya anak ini.
Mo Yeon langsung bertanya pada pasien Kim Ki Beom apa Shi Jin yang telah menganiayanya. Tapi si pasien menjawab tidak, meskipun demikian Mo Yeon terus mendesaknya untuk mengatakan yang sesungguhnya.
“Tidak perduli berapa kali dia mengatakan tidak, kau tidak akan percaya padanya,” ucap Shi Jin.
Mo Yeon tak menanggapinya. Dia segera memberikan perawatan kepada Kim Ki Beom, dan bersiap untuk menelpon polisi.
Shi Jin bergegas mengejar Mo Yeon yang berjalan meninggalkan ruangan gawat darurat, dan mengklarifikasi kesalah pahaman diantara mereka. Sambil menunjuk ke arah ruang gawat darurat, Shi Jin mengatakan bahwa semua yang dikatakan anak itu benar.
Belum sempat menjelaskan semuanya, Mo Yeon malah memotong pembicaraannya dan bertanya, “Apa pasien itu anakmu?”
Shin Jin menurunkan tangannya, dan kemudian menjelaskan bahwa pasiennya mencuri ponsel rekan kerjanya, sehingga mereka datang untuk menemukan ponselnya, dan kemudian menyelamatkannya karna dipukul.
Tapi Mo Yeon tak percaya,dan segera menelpon polisi, tapi Shi Jin tiba-tiba melempar ponsel Mo Yeon. Shi Jin menangkap ponselnya agar tidak terjatuh ke lantai, dan mematikan ponselnya.
Mo Yeon meminta balik ponsel yang ia pegang, sehingga Shi Jin kemudian memberitahu Mo Yeon bahwa dia adalah prajurit yang sedang tidak dalam tugas. Dia meminta Mo Yeon untuk bekerja sama tidak melaporkannya, karna tidak ingin direpotkan dengan datang ke kantor polisi.
Tapi, Mo yeon tak lantas percaya dengan ucapannya jika dia adalah seorang prajurit. Shi Jin tahu Mo Yeon tidak akan percaya meskipun dia memperlihatkan kalung ID Tagnya dan kartu identitasnya, sehingga dia bertanya Mo Yeon kuliah dimana. Shi Jin menebak dia kuliah di Universitas Myeongin karna dia bekerja di rumah sakit Haesung sehingga yakin Mo Yeon pasti mengenal Myeong Joo.
Mo Yeon bertanya bagaimana bisa Shi Jin mengenalnya, dan kemudian bertanya dengan bingung apa Shi Jin adalah Sersan, Sersan Kelas Pertama, atau Staf Sersan atau semacamnya.
Dan Shi Jin langsung mengatakan pasukan keamanan. Mo Yeon setuju pekerjaan itu yang ia maksud, kemudian bertanya, “Apa kau orang itu?” Shi Jin menjawab saya bukan orang itu, dan mengajak Mo Yeon pergi ke Myeong Joo untuk mengkonfirmasi identitasnya.
Sementara itu, Dae Young dan Myeong Joo berbicara empat mata.
“Sudah sangat lama. Pasti sulit untuk menghindariku, tapi kau tampak baik-baik saja,” ucap Myeong Joo.
Tapi, Myeong Joo dibuat kesal dengan Da Young yang berbicara formal didepannya.
“Saya benar-benar akan membunuhmu. Berapa lama kau akan terus menghindariku? Mengapa kau tidak menjawab telponku? Berapa lama lagi kau akan lari?,” tanya Myeong Joo dengan nada yang meluap-luap
“Jawab saya! Kau tak tahu alasannya? Itu tidak benar.” Myeng Joo mengakui bahwa dia hanya ingin mendengar suaranya.
Sementara, Dae Young menatapnya dengan dingin dan mengatakan bahwa alasannya bukan seperti yang ia pikirkan.
Dae Young berharap Myeong Joo tidak berpikir dia pergi karna dirinya. Dae Young mengatakan bahwa hatinya berubah, dan tidak ada lagi yang perlu ia jelaskan perihal perubahan hati.
Tapi Myeng Joo mengatakan bahwa dia tidak percaya. Sementara Dae Young pergi meninggalkannya karna menurutnya tidak ada lagi yang perlu mereka bicarakan.
Myeong Joo berteriak memanggil namanya untuk berhenti, tapi Dae Young tetap melangkahkan kakinya. Tapi saat Myeng Joo memanggilnya Sersan Mayor Dae Young dan mengatakan dia belum memberikan hormat kepada dokter tentara, langkah kakinya terhenti.
Dae Young berbalik, dan memberi hormat. Myeong Joo datang mendekatinya, dan berkata: “Tetap berdiri seperti itu. Tetap berdiri sampai malam. Tetap berdiri sampai kau mati. Saya tidak akan pernah menerima kesetiaanmu.”
Tapi ta berselang lama, Shi Jin datang dan menurunkan tangan Da Young. Dia menegur Myeng Joo karna menyalah gunakan kekuasaannya.
Myeng Joo hanya menjawab itu hanya pelatihan untuk prajurit pengecut, dan bertanya apa yang ia butuhkan.
Shi Jin meminta Myeong Joo untuk mengkonfirmasi identitas mereka kepada Mo Yeon. Tapi Myeong Joo memberitahu Shi Jin bahwa Mo Yeon tidak akan mempercayainya.
Mo Yeon mengatakan dia akan percaya, tapi Myeong Joo malah menyuruhnya untuk melaporkan mereka ke polisi, dan berjalan pergi.
Ucapan Myeong Joo sudah cukup membuat Mo Yeon percaya bahwa mereka adalah prajurit, dan kemudian menyuruh Shi Jin mengembalikan ponsel Da Young.
Meskipun identitas Shi Jin sudah terkonfirmasi, tapi bagi Mo Yeon penyerangan adalah hal yang lain sehingga dia menyuruh Shi Jin untuk mengikutinya menuju ruangan CCTV rumah sakit.
Sambil menunggu CCTV yang ia cari untuk dipersiapkan selama lima menit, Mo Yeon dan Shi Jin berdiri di lorong rumah sakit. Dan saat Shi Jin berdiri disampingnya tanpa sengaja jarinya bersentuhan dengan tangan Mo Yeon yang memegangi tembok.
Mo Yeon lantas bertanya bagaimana Shi Jin bisa mengenal Myeong Joo, dan Shi Jin menjawab, “Kami adalah sunbae dan hoobae.”
“Kau mengkonfirmasi identitas kami. Apa kau juga harus mengkonfirmasi hal ini? Saya benar-benar terlihat seperti tidak bisa berbohong,” ucap Shi Jin.
Mo Yeon tertawa, dan mengatakan pembunuh biasanya memberikan suasana yang baik.
“Sepertinya memang seperti itu,” ucap Shi Jin yang terdengar bercanda.
Mo Yeon memanggilnya bos besar, dan bertanya siapa namanya. Shi Jin menyebutkan namanya, dan dia bertanya hal yang sama, dan Mo Yeon menyebutkan namanya didepan Shi Jin.
Shi Jin ingin menjabat tangannya sebagai tanda perkenalan mereka, tapi dia menolak berjabat tangan dan memintanya untuk tidak bersikap ramah.
Young Do datang menemui pemuda yang mencuri ponselnya di ruangan gawat darurat dan bertanya tentang olahraga yang ia ikuti. Saat seorang perawat datang dan meminta Kim Ki Beom untuk segera mengurus dokumen rawat inapnya, Kim Ki Beom bersikeras bahwa dia tidak mempunyai wali tapi Da Yung segera mengaku di depan perawat bahwa dia adalah walinya.
Mo Yeon masuk ke ruangan CCTV, dan Shi Jin tertawa melihat bagaimana ekspresinya yang sangat antusias melihat bagaimana Shi Jin berhasil mengalahkan sejumlah orang yang menyerang Kim Ki Beom.
Mo Yeon minta maaf kepada Shi Jin karna telah salah paham, dan Shi Jin kemudian meminta Mo Yeon untuk merawat lukanya.
Dia menunjuk ke arah pinggangnya, tapi Mo Yeon malah mengira dia sedang bercanda dan malah menusuknya dengan tangannya. Shi Jin mengeluh kesakitan, dan kemudian memperlihatkan jahitan lukanya yang diperban.
Mo Yeon menjahit kembali jahitan lukanya yang terbuka karna perkelahian tadi,dan lantas bertanya kapan dan bagaimana dia bisa terluka. Shi Jin menjawab beberapa hari, dan menjelaskan dia terluka saat tergores.
Mo Yeon melihat sebuah bekas luka lainnya yang ada di pinggangnya, dan menebak lukanya adalah sebuah luka tembakan peluru.
Shi Jin heran mengapa Mo Yeon pernah melihat sebuah luka tembakan peluru, sehingga Mo Yeon memberitahunya bahwa dia pernah melihatnya ketika menjadi relawan di AFRIKA.
Dia seraya bercanda menceritakan bagaimana akhirnya peluru itu bersarang di tubuhnya saat menyelamatkan rekannya, dan Mo Yeon bertanya apa nama prajurit itu “Private Ryan” (merujuk pada film “Saving Private Ryan”).
Shi Jin tertawa mendengarnya, dan selama beberapa saat mereka berdua saling bertatapan, dan untuk mengakhiri kontak mata mereka, Mo Yeon memberitahu ShiJin bahwa jahitannya sudah selesai.
Mo Yeon memberitahu Shi Jin bahwa dia bisa membuka perban jahitannya selama seminggu, tapi dia mengingatkan untuk tetap membersih lukanya. Dia yakin di tentara juga ada rumah sakit yang akan membersihkan lukanya, tapi Shi Jin bertanya apa dia bisa datang setiap hari ke sini.
Mo Yeon menjawab setiap hari terlalu berlebihan.
“Mungkin tiga kali seminggu? jika kau datang empat kali dalam seminggu, maka kau akan cepat sembuh.”
“Apa kau setuju menjadi dokterku?,” tanya Shi Jin.
Mo Yeon memberitahu Shi Jin lukanya hanya perlu dibersihkan, dan bertanya apakah penting siapa yang menjadi dokternya.
“Penting. Khususnya si dokter cantik,”ucap Shi Jin.
Mo Yeon setuju, dan menyuruhnya untuk datang pukul 2 siang.
Shi Jin mendekatkan wajahnya dan berkata, “Jika kau seorang dokter, maka kau pasti tidak punya pacar karna kau sangat sibuk.”
“Jika kau seorang prajurit, kau pasti belum memiliki seorang kekasih karna itu sulit,”ucap Mo Yeon menanggapi Shi Jin.
“Siapa harus menjawab pertanyaannya,”tanya Shi Jin.’
Di kamp tentara, Shi Jin sibuk memilih baju dinas militernya yang akan ia pakai ketika datang ke rumah sakit Hyeseong untuk membersihkan lukanya besok lusa.
Teman-temannya menebak Shi Jin lebih memilih datang ke rumah sakit Haesung ketimbang ke rumah sakit tentara karna dokter yang merawatnya pasti cantik.
Shi Jin mengatakan tidak ada dokter yang cantik di rumah sakit tentara, tapi Da Young mengatakan ada. Dan salah satu teman mereka menebak dokter yang ia maksud adalah Myeong Joo, dan memberitau mereka bahwa dia diputuskan dengan kejam oleh pria yang ia kencani, tapi teman-teman mereka yang lain segera menutup mulutnya.
Shi Jin datang ke rumah sakit bersama Da Young, dan dia mengurus semua tagihan rumah sakitnya. Kim Ki Beom berterima kasih karna Da Young membayarkan biaya rumah sakitnya, tapi dia mengingatkan agar Da Young tidak menggunakan ini sebagai alasan untuk mengajarinya pelajaran kehidupan.
Da Young berkata padanya dia tidak berniat untuk menceramahinya, dan berjalan pergi. Tapi Kim Ki Beom memanggilnya, dan meminta maaf karna telah mencuri ponselnya.
“Dipukuli habis-habisan tidak bekerja, memberi mereka uang juga tidak akan berhasil. Kakak Besar, bagaimana kau bisa meloloskan diri dari sana?”
Da Young menjawab dia melarikan diri ke suatu tempat dimana mereka tidak dapat mengikutinya.
“Dimana itu,?” tanya Kim Ki Beom.
Sementara itu, Shi Jin pergi mencari Mo Yeon, dan mendapatinya berada di atas tubuh pasien memberikan pertolongan pertama yang sedang dalam kondisi gawat. Dia lantas ikut membantu perawat mendorong pasien menuju ruang operasi, yang tidak disadari oleh Mo Yeon.
Usai melakukan operasi, Mo Yeon melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 6 sore. Dia segera berlari karna teringat janjinya dengan Shi Jin.
Dan tak berselang lama saat Shi Jin sedang berolahraga, ponselnya berdering. Mo Yeon menelpon, dan memberitahu Shi Jin dia sudah mendengar bahwa dia sempat datang dan telah pergi.
Mo Yeon memberitahu Shi Jin ada sebuah operasi yang mendesak, dan memberitahu Shi Jin bahwa mereka berhasil menyelamtkan pasien. Mo Yeon lantas menyuruh Shi Jin untuk menyimpan nomor telponnya.
Dia kemudian memberitahu Mo Yeon bahwa besok dia ingin menemuinya, tapi Shi Jin tiba-tiba berubah pikiran dan segera memintanya untuk ketemuan sekarang. Mo Yeon setuju dan menyuruhnya untuk datang ke rumah sakit.
Shi Jin tiba di rumah sakit, dan kebetulan melihat berita di televisi tentang dua pegawai PBB yang diculik di Afghanistan, dan dia segera menerima telpon dari unit kesatuannya.
Shi Jin segera memberitahu lokasi keberadaannya, dan menelpon Mo Yeon. Di telpon, Shi Jin memberitahu Mo Yeon bahwa tadi dia datang, tapi sesuatu terjadi sehingga dia harus segera pergi.
Mo Yeon bertanya dia ada dimana, dan menyusul Shi Jin yang berada di atas atap rumah sakit. Mo Yeon melihat sebuah pesawat helikopter yang terbang menuju rumah sakit datang, dan Shi Jin memberitahunya bahwa pesawat itu datang untuk menjemputnya.
Mo Yeon bertanya apa terjadi perang.
“Di suatu tempat, tapi bukan disini, jadi jangan khawatir,” jawab Shi Jin.
Mo Yeon lantas bingung mengapa sebuah helikopter datang menjemputnya, dan Shi Jin berjanji nanti akan menjelaskannya, tapi dia meminta Mo Yeon untuk berjanji satu hal padanya.
Pesawat helikopternya mendarat di atas atap bersiap untuk menjemputnya, dan sebelum pergi Shi Jin mengajak Mo Yeon untuk bertemu minggu depan, bukan di rumah sakit, tapi di tempat lain.
Shi Jin berjanji akan datang kembali dengan sehat, dan akan mengajaknya untuk nonton bersama.
“Cepatlah,saya tak punya waktu, ya atau tidak?” tanya Shi Jin.
Mo Yeon mengangguk dan menjawab, “ya.” Usai mendengar jawabannya, Shi Jin berlari menuju helikopter.
Sebelum naik ke dalam helikopter, sejenak dia berbalik memandangi Mo Yeon dan pergi.
Kemudian Shi Jin telah berada di sebuah pesawat bersama prajurit lainnya untuk sebuah misi. Sebelum terjun dari pesawat, Dae Young dan Shi Jin melepaskan kalung yang merupakan ID tag mereka, dan salah satu prajurit bertanya mengapa harus melepaskan kalung ID tag mereka.
Dae Young menjawab jika mereka terbunuh dalam misi, mereka tidak bolah dikenali. Pintu pesawat terbuka, dan mereka bersiap terjun untuk sebuah misi yang menanti mereka.
Sebelum terjun, salah satu prajurit bertanya, “Sekarang kita ada dimana?”
“Afganistan,”jawab Shi Jin.
Semua Dok Gambar: KBS 2TV
Comments
Post a Comment