[

Sebuah pesawat mendarat dan menerbangkan syal Mo Yeon. Ia hendak
mengambilnya tapi syal tersebut malah terbang ke belakangnya, kea rah
berlawanan. Shi Jin dan anggota tim Alpha yang lain keluar dari pesawat
melewati Mo Yeon begitu saja.
Min Ji berbisik pada Ja Ae,,”Ahjusshi tentara itu…”
Ja Ae mengerti maksud minji dan ia membenarkan (benar kalau tentara itu adalah mantan Mo Yeon).
Shi Jin berhenti tepat di samping syal Mo Yeon. Ia menjelaskan pada tim
medis kalau ia beserta Tim-nya yang akan menjadi penjaga mereka. Taklupa
ia memperkenalkan dirinya,,”Saya pasukan Mowuru. Komandan Yoo Shi Jin.
senang bertemu Anda.”
Selanjutnya adalah penjelasan dari Dae Yeon bahwa tim medis akan naik
pesawat bersama mereka menuju ke markas Mowuru. Lalu sersan Gong dan
sersan Im membagikan tas ransel militer. Dae Yeong menjelaskan kalau
mereka hanya diijinkan membawa tas ransel selama menaiki pesawat
militer.
Dae Yeong melanjutkan kalau barang-barang mereka yang lain akan dikirim melalui jalur darat dan akan sampai besok sore.
Shi Jin melihat ke bawah, lalu mengambil syal Mo Yeon. Ia berbalik
menuju Mo Yeon dan memberikan syal itu kembali tanpa sepatah katapun.
Tim medis sampai di tempat tujuan. Pasukan militer yang ada di sana
menyambut mereka dengan paduan suara..”Bara bara bam, bara bara
bammmmm…. 1, 2, 3, bara bara bam, bara bara bam, bara bara bam, bara
bara bam (lebih ngebeat)” bahkan mereka saambai tepuk tangan dengan
memadukan nada. Dan diakhiri dengan tepuk tangan dan sorakan.
Kemudian datanglah dua tentara yang membawa kalung bunga. mereka
memakaikannya pada tim medis sambil mengucapkan selamat datang.
Giliran Dr. Sang Hyun, ia sudah menunduk, eh malah tentaranya lewat begitu saja. Usut punya usut, ternyata yang mendapat kalung bunga Cuma yang wanita aja.hehehehe.
Dr. Sang Hyun kembali mendongak dengan cool, pura-puranya sedang
peregangan. Chi Hoon yang disampingnya tersenyum melihat alibi Sunbaenya
itu.
“Aktingku bagus, ‘kan?”
“Iya, bagus.”
“Aku tahu.”
Lalu mereka membahas medicube di depan mereka dan tenda yang akan mereka
gunakan untuk tidur. Dr. Sang Hyun tak sebenarnya tak ingin tinggal di
lapangan diusia 40-an begini. Chi Hoon yang masih muda merasa
sebaliknya, ia merasa kalau ini seprti MT (sejenis camping).
“Siapa ibumu? Bagaimana ia membesarkanmu sampai jadi seperti ini?” Dr. Sang Hyun bernyanyi.
“Shake that booty that booty booty Shake that booty that booty booty”
Lanjut Chi Hoon sambil menggoyangkan tubuhnya dan menyeru kepada yang
lain untuk mengikuti gerakannya. Kocak..
Min Ji satu tenda dengan Mo Yeon, mereka memasukkan baju-baju mereka ke
almari. Gi Beom datang menyepa mereka. Mereka belum mengenali Gi Beom.
Lalu Gi Beum menunjukkan caranya kabur dari UGD dulu. Mo Yeon dan Min Ji barulah ingat siapa Gi Beom, Omo, Omo..
Gi Beom memperkenalkan dirinya kalau pangkatnya sekarang adalah kopral.
Min Ji tak menyangka Gi Beom bisa di sana. Mo Yeon juga, ia menyuruh Gi
Beom untuk loncat-loncat di tempat, ia mau mengecek pergelangan kaki Gi
Beom.
Gi Beom mengerti dan ia loncat-loncat, ia sudah sembuh total berkat
perawatan Mo Yeon dan sudah melewati ujian fisik di posisi pertama.
“Jadi kau tak mencopet lagi?” tanya Min Ji.
“Kopral KimGi beom. Tentara Republik Korea menjunjung tinggi kehormatan
dan kesetiaan… dan persatuan dengan persahabatan.” Jawab Gi beom tegas.
“Wooooo” Mo Yeon dan Min Ji kagum.
Dr. Sang Hyun satu tenda dengan perawat Ja Ae. Dr. Sang Hyun main
jot-jotan di ranjang. Perawat Ja Ae menyuruhnya berhenti karena nati
springbed-nya bisa rusak.
“kau yang seharusnya berhenti.” Balas Dr. Sang Hyun.
“berhenti apa.”
Berhenti beres-beres. Ini adalah waktunya bagi kita untuk melarikan diri.”
Lalu Dr. Sang Hyun bertanya, apa Ja Ae tak tahu berapa banyak penyakit
endemic di sana yang bisa menjangkiti mereka. Ja Ae balik bertanya,
memangnya berapa. Dr. Sang Hyun membalas kalau ia juga tak tahu makanya
ia bertanya.
“maka dari itu kita harus menghilang sebelum terjangkit.” Ajak Dr. Sang Hyun.
Ja Ae membentaknya untuk pergi dari tendanya (Owalah tak kira mereka
satu tenda). Lalu Dr. Sang Hyun mengingatkan ja Ae mengenai pembicaraan
Mo Yeon dengan ketua Han tadi, ia menangkap kalau ini bukan kegiatan
sukarelawan tapi hukuman,,”Apa kita harus dihukum bersamanya?”
“Aku sudah lebih dulu dihuku. selama mengenalmu 30 tahun ini.” Jawab Ja Ae.
“Apa kau serius? Apa aku seperti hukuman buatmu?”
“lalu, apa kau pikir hadiah?”
Dr. Sang Hyun kesal dan melanjutkan menjot-enjot springbed Ja Ae biar Ja Ae tidur di springbed yang rusak.
Sementara itu, Chi Hoon sedang memotret. Sepatu militer yang digunakan sebagai pot. Tak lupa ia juga selfie.
Lalu sersan Choi tak sengaja kefoto. Ia minta Chi Hoon untuk
menghapusnya. Tapi Chi Hoon mengira kalau sersan Choi tak suka karena
hasilnya jelek dan ia akan mengambil gambar sersan Choi lagi.sersan Choi
melarangnya karena mereka (para tentara) tak boleh di foto. Chi Hoon
menanyakan alasannya tapi sersan Choi tak bisa mengatakannya karena itu
adalah kebijakan.
Lalu Mo Yeon datang dan menyahut, memang begitulah mereka, sangat
misterius, tak bisa menjelaskan apa-apa karena kebijakan. Chi Hoon
mengerti, tapi ia bertanya, bagaimana Mo Yeon bisa tahu. Mo Yeon hanya
diam saja.
Mo yeon jalan ke sekeliling markas, sepatunya kemasukan kerikil dan ia
berhenti untuk mengeluarkannya. Shi Jin mengeluarkan paket dari mobil,
dan lagi-lagi ia melewati Mo Yeon begitu saja.
“dia tidak melihatku atau dia pura-pura tak melihatku?” Mo Yeon bertanya-tanya.
Shi Jin masuk kedalam, ia bersandar di dinding melihat kea rah cermin yang memantulkan bayanyan Mo Yeon. Ia menarik nafas berat.
Ternyata paket itu adalah milik Dae Yeong. Shi Jin memberikannya dan
menyuruhnya membuka. Dae Yeong akan membukanya nati. Shi Jin menyuruh
sekarang siapa tahu ada kue cokelat di dalamnya.
“lebih terlihat seperti bom buatan rumah.” Balas Dae Yeong.
Shi Jin memaksanya untuk membuka sekarang, seperti pria sejati. Dae
Yeong pun membuka kotak itu. isinya gingseng merah, Dae Yeong mengatakan
kalau itu untuk sersan Choi, satu lagi untuk sersan Im dan DVD untuk
sesan Gong dan surat.
“Kau memutuskannya tapi ia masih mengirim semua ini. Myeong Ju memang
sesuatu.” Ujar Shi Jin yang langsung meminum gingseng merah.
Itulah yang membuat dae Yeong makin sedih, ia mengambil surat Myeong Ju.
Shi Jin minta bagiannya dan Dae yeong memberikan kotak wadah barang.
Shi Jin tak bisa percaya ini. dae yeong serius membaca isi surat Myeong
Ju.
“Tapi taka da hadiah untukmu.” Kata Shi Jin.
“Hadiahku akan datang. Sepertinya letnan Yoon akan datang.” Jawab dae yeong.
“kesini?!” Shi Jin kaget.
Myeong Ju laporan pada Letnan umum Yoo kalau ia ditugaskan ke Urk
sebagai tim medis militer. Letnan umum Yoo tampak tak senang. Tapi
Myeong Ju kebalikannya, ia sudah tak sabar mau berangkat.
“seperti yang ku katakana. Aku menyukai Yoo Shi Jin, dia adalah
komandan. Aku ingin menjadikannya sebagai menantuku. Kau tahu kan kalau
kau mempersulit Seo Dae Young.” Kata Letnan Umum Yoo yang sebenarnya
adalah Ayah kandung Myeong Ju.
Myeong Ju membalas kalau Letnan Umum Yoo tidak bisa memperlakukan Dae
Yeong dengan melibatkan perasaan pribadi jika tak ingin kehilangan
prajurit hebat lagi.
Letnan Umum Yoo menjelaskan kalau Dae Yeong menetap menjadi tentara
seperti nasehatnya, ia tidak pernah merasa kehilangan tentara. Myeong Ju
mengoreksi ayahnya, Dae yeong menetap bukan karena ayahnya adalah
pemimpin yang baik tapi karena Dae Yeong memang tentara sejati. itulah
kenapa Myeong Ju mencintainya dan tak bisa melepasnya.
“Jika Anda menghentikanku lagi. Anda akan kehilangan keduanya. Letnan
Yoo Myeong Jud an puterimu Yoo Myeong Ju.” Kata Myeong Ju tegas.
Mo Yeong menelfon Ji Soo kalau pacar Myeong Jud an pria yang pernah
dekat dengannya ada di sana. Mo Yeon mengatakan kalau tadi ia sangat
gugup di bandara, ia bertanya, apa mungkin Shi Jin menyadarinya.
Ji Soo menjawab kalau Shi Jin pasti menyadarinya. Ji Soo bertanya,
akhirnya mereka bisa bertemu lagi, apa Mo Yeon senang. Bukan senang, Mo
Yeon tak nyaman setengah mati. Lalu hubungan telfon terputus karena
sinyal jelek.
Lalu ia tertarik dengan anak-anak Urk. Mo Yeon memotret mereka. Dan
salah satu anak memakan sesuatu yang bukan makanan. Mo Yeon melarangnya,
ia keluar pagar batas aman dan memberikan coklat pada anak itu, yang
lain mengerubungi Mo Yeon minta coklat juga. Mo Yeon bingung.
Lalu Shi Jin datang, ia memberitahu Mo Yeon kalau jangan pernah memberi mereka apapun kecuali cukup untuk semuanya.
“Kau bahkan melewati pagar batas aman.””kau juga melakukannya.”
“Dan kau tak menunjukkan penyesalan.”
Lalu Shi Jin mengatakan dalam Bahasa Urk menyuruh anak-anak untuk ke
pesta penyambutan dan minta pada sersan Choi. Anak-anak mengerti.
Mo Yeon bertanya, apa yang dikatakan Shi Jin tadi. Shi Jin menjawab
kalau ia akan menembak anak-anank itu jika merak tak pergi. Mo Yen
menyuruhnya berhenti berbohong tapi Shi Jin menyebut ini lelucon.
Mo Yeon jalan duluan, ada suara seperti menginjak ranjau darat. Shi Jin
menyuruhnya berhenti, tak boleh bergerak. Music latar menjadi tegang. Mo
Yeon ketakutan, apa ia akan mati?
Shi Jin menggigit kukunya, ia berpikir. Shi Jin mengatakan kalau ia
sudah disana selama 16 tahun dan tak ada orang hidup untuk
menceritakannya (maksudnya mereka semua mati setelah menginjak ranjau
darat).
“bagaimana kau bisa mengatakan itu? kau kan seorang tentara. Lalukan
sesuatu! Kau kan pasukan Khusus. Di film-film aku melihat kalau mereka
menggunakan pisau disaat seperti ini.”
Shi Jin jongkok dan memeriksa keadaan. Selama 25 tahu menjadi tentara ia
hanya melihat satu orang yang berhasil melakukan itu (menghindari
ranjau darat dengan pisau – seperti adegan di city hunter, ada yang udah
nonton?).
Mo Yeon bertanya siapa itu. shi Jin berdiri dan menatap mata Mo Yeon, ia
menjawab, dia adalah tentara yang Mo Yeon lihat di film. Lalu ia
meninggalkan Mo Yeon.
“Yaa, pria jahat.” Mo Yeon menggunakan Bahasa informal.
Shi Jin balik lagi,,”aku satu-satunya orang yang bisa menyelamatkanmu. Apa kau barusan menyumpahiku?”
Mo yeon tak punya pilihan lain kare tadi Shi Jin mengatakan tak bisa menolongnya,,”akaknkah aku mati?”
“tidak”
Lalu Shi Jin menyuruh Mo Yeon menggeser kakinya, ia akan menggunkan
kakinya untuk menggantikan kaki Mo Yeon. Mo yeon bingun, apa dengan
begitu ranjaunya tak akan meledak?
Pasti akan meledak, dan Shi Jin akan mati. Mo Yeon membalas kalau itu
tak masuk akal, bagaimana Shi Jin bisa mengatakan itu? kenapa Shi Jin
yang harus mati? Ia mendorong Shi Jin untuk mencari orang ahli yang bisa
menyelamatkan mereka, pasti ada jalan.
Dan mereka terjatuh, tapi ranjaunya tak meledak. Mo Yeon bertanya, kanapa tak meledak.
“bagaimana kabarmu?” tanya Shi Jin.
“Sebentar. Semua ini bohong?”
Mo yeon duduk, ia mengis, kesal dan memukuli Shi Jin. lalu ia pergi, ia
melarang Shi Jin bicara padanya lagi juga jangan mengikutinya.
Di pesta penyambutan, mereka membakar daging. Mo Yeon melintas. Chi Hoon
menyuruhnya duduk untuk makan. Mo Yeon meminta Chi Hoon untuk
menyisihkan bagiannya dan ia terus berjalan.
Mo Yeon melewati dae Yeong dan Shi Jin mengikuti Mo Yeon di belakang. Dae Yeong menanyai Shi Jin, apa yang terjadi.
“aku membuatnya menangis” jawab Shi Jin.
“secepat itu?”
“Aku juga syok.”
Mo Yeon memompa air dan menggunakannya untuk membersihkan matanya dari
airmata. Shi Jin minta maaf. Mo yeon menghindar. Shi Jin biasa bercanda
seperti itu dan ia tahu sudah kelewatan, ia sungguh minta maaf. Mo Yeon
mengerti.
Lalu lagu kebangsaan korea berkumandang. Shi Jin memberi penghormatan.
Begitu juga tentara yang lain, mereka menghadap ke arah bendara yang
sedang dikerek. Tim medis meletakkan tangannya di dada. Mo Yeon masih
diam saja. Lalu Shi Jin membalik badan Mo Yeon sehingga menghadap ke
bendera. Mo Yeon meletakkan tangannya di dada dan Shi Jin kembali
memberi hormat.
“senang bertemu kembali denganmu.” Kata Shi Jin.
Saatnya persiapan istirahat. Para tentara berhitung sebelum tidur. Dan
tim medis memasang tirai tidur di bantu beberapa tentara. Chi Hoon jatuh
tersungkur saat hendak memasang tirai. Sersan Choi membantunya bangun.
Sumpah aku ngakak dengan adegan ini..
Mo Yeon juga tidur dengan tirai tidur.
Pagi-pagi para tentara jogging tanpa memakai kaos. Hal itu merupakan pemandangan yang indah untuk Mo Yeon dan Min Ji.
“Apa ini pemandangan setiap pagi?” tanya Min Ji.
“Jika mereka melakukan ini dimalam hari juga. Aku mungkin akan menetap disini.” Balas Mo Yeon.
Lalu Shi Jin menghampiri Mo Yeon. Mo Yeon menyuruhnya minggir karena
menghalangi pandangannya. Shi Jin bertanya jadwal Mo Yeon. Mo Yeon
menjawab pagi dan sore tanpa melepaskan pandangan dari para tentara.
Saat tentara mendekat Shi Jin memberhentikan mereka memerintahkan mereka
untuk segera kembali ke markas dan mengakhiri jogging mereka.
Shi Jin balik ke Mo Yeon, menanyakan apa yang akan Mo yeon lakukan di
pagi dan Sore hari. Mo yeon masih mau melihat para tentara tapi Shi Jin
terus menghalanginya membuat Mo Yeon kesal.
Tim medis mulai membuka pelayanan di medicalcube. Para tentara
mengerumuni Mo Yeon. Mo Yeon menjelaskan jika caranya mengambil darah
maka sangat menyakitkan. Salah satu tentara mengulurkan lengannya tanpa
takut, ia malah menyukai rasa sakit. Mo Yeon tersenyum.
Lalu Shi Jin datang. Para tentara memberinya hormat. Lalu Shi Jin
menjauh. Mo yeon memanggilnya, ia meminta Shi Jin sebagai komandan harus
sebagai yang pertama.
Shi Jin menurut, Mo Yeon kesulitan mencari pembuluh darah Shi Jin, dan
belum apa-apa Shi Jin sudah meringis. Shi Jin beralasan kalau tentara
membawa senjata berat, jadi mungkin pembuluh darahnya ketutupan otot.
“kalau begitu coba tembak aku.”
Dan Mo Yeon kembali mencari. Shi Jin meringis lagi. Mo Yeon mengatakan
kalau ia belum mulai memasukkan jarum. Tantara yang lain menertawai Shi
Jin. Shi Jin membisiki Mo Yeon, ia mengira Mo Yeon masih kesal dengan
candaannya kemarin. Mo Yeon mengelaknya, ia tidak pendendam kok.
Shi Jin menunjukkan letak pembuluh darahnya dan mendorong tangan Mo yeon
agar segera memasukkan jarumya. Shi Jin memang suka pura-pura. Mo yeon
pun bisa dengan mudah mengambil darahnya.
Lalu seseorang datang berkunjung. Ia mengobrol akrab dengan Shi Jin.
tiba-tiba terdengar suara gedebruk dan bunyi klakson mobil. Shi Jin
meminta laporan dan dia mendapat laporan kalau ada kecelakaan mobil di
bukit.
Orang yang tadi berkunjung khawatir kalau itu adalah salah satu dari truk-nya.
Shi Jin dan dua rekannya datang untuk memeriksa. Memang ada kecelakaan
mobil. Di dalam mobil ada orang yang meninggal. Lalu yang lain memeriksa
bagian lain. ada satu orang lagi, mengaku dari UN. Tapi orang itu
mencurigakan namun berhasil mengelabuhi kedua tentara yang bersama Shi
Jin.
Shi Jin bergerak cepat, ia mengambil kunci mobil dan memberikannya ke 2 tentara tadi untuk membuka box mobil.
Orang tadi berhasil mengambil pistol dari dalam mobil dan Shi Jin berhasil merebutnya. Kerennn..
Dan ternyata isi box mobil adalah senjata. Lalu Shi Jin menyerahkan
orang itu untuk dibawa oleh polisi local. Polisi mengapresiasi kesigapan
tentara Korea Selatan.
Dae Yeong mengatakan kalau sebaiknya mereka melaporkan kejadian ini. Shi
Jin membalas bertanya, apa mereka memiliki cukup kertas untuk menulis
laporan.
Mo yeon sedang mencuci tangan saat Shi Jin dan Dae Yeong kembali. Mo
Yeon bertanya, apa ada yang terluka. Shi Jin menjawab kalau itu hanya
kecelakaan saja. Lalu Shi Jin akan ke kantor ketua Park.
Mo Yeon bertanya password Wi-Fi pada Dae Yeong. Sayangnya hanya
orang-orang yang diperbolehkan menggunakan internet demi keamanan.
“Ah begitu ya? lalu gimana ini?” tanya Mo Yeon.
Dae yeong menjelaskan kalau ada internet café di kota, tempat dimana
komandan akan pergi. Dae Yeong mengatakan kalau komandannya pasti bisa
memberi Mo Yeon tumpangan.
Dalam perjalanan Mo Yeon menelfon seseorang kalau ia akan segera
mentrasfer menggunakan internet banking sebentar lagi. shi jin bertanya,
apa Mo Yeon pindah rumah. Mo yeon menjelaskan kalau ia keluar dari
rumah sakit untuk membuka kliniknya sendiri.
Shi Jin bisa menebak kalau hal ini karena masalah dengan ketua Han, selama Mo Yeon tak ada semuanya membicarakan hal itu.
“Ku pikir dia bukan pria yang baik.”
“Aku tidak akan disini kalau dia baik.” Balas Mo yeon.
Shi Jin bergumam kalau ia menyerah tidak agar Mo Yeon berkencan dengan
pria macam begituan. Mo Yeon menegaskan kalau ia tidak berkencan,
ceritanya panjang tapi yang pasti bukan hubungan yang indah.
Mo yeon membuka kaca mobil, ia melihat palang yang menunjukkan pantai yang indah. Mo Yeon bertanya, dimana itu?
“Jauh sekali.”
“Aku tidak bertanya jaraknya.”
Mo Yeon merasa kalau Shi Jin melampiaskan kekesalannya pada dirinya. Tapi Shi Jin mengelaknya.
Akhirnya mereka sampai di kota. Shi Jin menjelaskan kalau kota itu yang
paling dekat dengan markas mereka dan menyuruh Mo yeon untuk
mengingat-ingat tandanya karena bisa jadi Mo yeon akan datang kesana
tanpa dirinya.
Mereka sampai di tempat tujuan. Shi Jin menjelaskan kalau tempat ini
bukan Internet cafétapi internet disana bisa lebih cepat. Shi Jin
memanggil pemilik toko itu. Yang keluar malah Ri Hwa padahal setahunya
yang punya toko adalah Daniel.
Ri Hwa menjelaskan kalau toko ini milik mereka berdua, dan sekarang ia tak akan mengijinkan Daniel masuk ke tokonya lagi.
Ri Hwa bertanya, apa wanita yang bersama Shi Jin itu adalah dokter yang
baru datang dari korea. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mencium
aroma Mo yeon dan ia tahu kalau ia benar karena Mo Yeon bau ethanol. Mo
Yeon bertanya pada Shi Jin, siapa Ri Hwa.
“Dia adalah seorang perawat di Peacemaker Emergency Aid. Toko ini mungkin pekerjaan sampingannya” jawab Shi Jin.
Mo Yeon mengerti jadi Ri Hwa membuka toko ini untuk menghasilkan uang
lebih. Ri Hwa menjelaskan kalau ia membuka toko demi kesenangan karena
ia tak membuatuhkan uang.
Lalu Ri Hwa bertanya pada Shi Jin, bagaimna Shi Jin bisa tahu
pekerjaannya. Shi Jin menjelaskan kalau Daniel yang memberitahunya
mengenai istri korea Daniel. Ri Hwa mengatakan kalau ia hanya rekan
kerja Daniel. Lalu ia bertanya, apa yang mereka butuhkan. Ia memiliki
segalanya kecuali Daniel.
Shi Jin mengatakan kalau mereka butuh Wi-Fi. Lalu Ri Hwa mencari letak
Wi-Fi nya. Mo Yeon bertanya, apa Shi Jin yakin kalau di tempat itu ada
Wi-Fi.
“Jika kau mencari dengan sungguh-sungguh, kau mungkin akan menemukan
peluru juga di sini.” Jawab Shi Jin, artinya apaun ada di toko itu.
Lalu Shi Jin meminta Mo Yeon menunggu 1 jam di tempat itu karena ia ada
usrusan dan nanti akan menjemput Mo Yeon lagi. Shi Jin melarang Mo Yeon
berkelahi, lalu membisiki Mo Yeon kalau Ri Hwa punya pistol.
Mo yeon sebenarnya keberatan ditinggal, tapi mau gimana lagi.









































































Comments
Post a Comment