Shi Jin melapor pada ketua Park mengenai kecelakaan yang terjadi di
bukit tadi. Mereka mencurigai kalau pengemudi mobil dan rekannya adalah
Black Market tapi mereka sudah menyerahkan satu orang yang selamat ke
polisi local.
Ketua sudah menerima laporan itu. dan Sepertinya mereka bukan pedagang
seperti Black Market yang biasanya. Tak ada yang tahu seberapa kuatnya
koneksi mereka. Ketua tahu, Shi Jin dan juga pasukannya sangatlah
berani, Tapi, mereka juga sangat berani dan juga tak takut hukum.
Senjata yang diserahkan Shi Jin ke polisi local tadi sampai ke tangan
Agus (David McInnis). Dan ternyata polisi tadi adalah sekutu Agus.
Polisi mengatakan kalau Agus tak perlu berpura-pura menjadi anggota PBB
untuk menyeberangi perbatasan lagi. Karena Mereka sudah tahu sekarang,
Dan bahkan sudah mengirim tentara Korea untuk berpatroli di perbatasan.
Agus menodongnya dengan pistol, berkata kalau ia akan menggantinya
(sambil menunjuk mobil yang ada di luar. Polisi lalu melepaskan borgol
anak buah Agus.
“Yah... Kau tahu... Aku juga memiliki koneksi yang lebih tinggi. "Presiden Mati"?” ucap agus.
Lalu Agus melemparkan dolar yang digulung. Polisi tadi buru-buru
mengambil unag itu dan Agus menembaknya, polisi pun mati. Agus memberi
selamat pada anak buah polisi tadi karena akan mendapat promosi. Wah
kejam banget nih orang..
Kembali ke kantor pusat. Ketua melanjutkan penjelasannya bahwa Mereka
menyelundupkan senjata api dan Sebutan mereka adalah "Pedagang
Kematian". Cara terbaik adalah untuk menjaga jarak. Shi Jin juga pasti
tahu Tugas mereka di sini sudah hampir selesai. Saat mereka kembali ke
Korea, ia dan Shi Jin akan mendapat promosi. Yang dimaksud ketua adalah
agar mereka harus menghindari masalah.
Shi Jin mengerti dan ketua menyuruhnya menulis ulang laporannya. Lalu
ketua memberi Shi Jin dokumen pemberitahuan transfer darurat. Dae Yeong
akan dipindahkan. Ketua mengatakan kalau posisi Dae yeong akan
digantikan oleh orang lain.
Di markas, Dae Yeong mengetahui hal itu dari Sersan Choi.
Kilas balik..
Saat pelatihan tentara, awal-awal Dae Yeong menjadi tentara, saat itu
pangkatnya masih Sersan. Letnan Umum Yoo datang bergabung dengan tentara
baru yang sedang makan siang. Letnan Umum Yoo duduk di depan dae Yeong.
Topi mereka ditaruh bersandingan yang berbintang 3 milik Letnan Umum
Yoo.
Mereka tinggal berdua. Letnan Umum Yoo sudah mendengar kalau dae Yeong
pacaran dengan puterinya. Dae Yeong membenarkan. Letnan Umum Yoo
khawatir tentang masa depan anakku. Jadi, ia harap Dae Yeong juga
memikirkan tentang masa depan puterinya. Ia yakin, Dae Yeong mengerti
apa maksudnya. Ini adalah cara paling bijaksana.
"Apa ini perintah?" Tanya Dae Yeong
"Aku juga berharap bahwa permintaanku ini tak akan menjadi perintah.
Tapi, tak apa jika kau menganggapnya sebagai perintah. Apakah kehormatan
seragam kita akan terjaga, itu semua ada ditangamu." jawab Letnan Umum
Yoo.
Kilas balik selesai…
Dae Yeong mulai berkemas. Ia membaca kembali surat Myeong Ju.
“Sersan Mayor Dae Young, hadiahmu sudah mau datang. Aku selalu merindukanmu. Hormat.”
Di mobil, Shi Jin bertanya apa Mo Yeon sudah mengirim uangnya. Sudah, Mo
Yeon berterimakaish atas bantuan Shi Jin. Mo Yeon melihat kalau Shi Jin
murung, ia bertanya kenapa?
“Rekanku telah diperintahkan kembali ke Korea.” Jawab Shi Jin.
Mo Yeon tahu siapa itu, ia bertanya, apa Shi Jin Asedih karena rekannya
akan duluan pulang ataukah karena ia akan sendirian. Shi Jin hanya kesal
dengan perintah tak adil ini. Mo Yeon membaliknya, bukannya Shi Jin
harus mengikuti perintah?
"Tapi, perintah ini... bukan diberikan oleh seorang Komandan tapi oleh seorang ayah."
"Melodrama yang dibintangi ayah Myeong Ju... sepertinya masih proses
screening. Aku jadi penasaran, Bagaimana Myeong Ju dan Sersan Mayor Seo
bisa bertemu?"
Kilas balik…
Para tentara diperintahkan untuk berjalan sejauh 1 mil. Dan pada waktu itu Myeong Ju adalah ahli bedah dari tim medis.
salah satu rekan dae Yeong ada yang kelelahan. Dae Yeong membantunya membawakan tas rekannya itu. Myeong Ju melihatnya.
Lalu Myeong Ju mendekatinya. Myeong Jut ahu kalau Dae Yeong sudah ke
sana tiga kali. ia menyuruh Dae Yeong untuk melepaskan sepatunya,
Semangat dan kepedulian Dae Yeong pada rekan memang hebat. Tapi, jika
begini terus Dae Yeong akan mengalami cedera. Myeong Ju menyibak ransel
yang menutupi nama Dae Yeong lalu menyebut nama dae Yeong.
“Aku tak akan menyerah meskipun aku cedera nantinya.” ujarDae Yeong tegas, lalu ia pergi.
Myeong Ju menahan tangannya,, "Aku harap kau semangat begini bukan hanya
untuk mendapat izin liburan agar kau bisa menghalangi pernikahan
mantanmu. Aku benar, 'kan?"
"Memang benar."
Kilas balik selesai…
Mo Yeon takjub mendengar cerita Shi Jin. mereka sampai di pantai yang
ditanyakan Mo Yeon tadi. Shi Jin menyuruhnya turun karena mereka tak
mungkin bisa kesana kalau sudah sibuk nanti.
"Bukannya letaknya jauh?"
"Ya, karena tempatnya jauhlah. Aku ingin lebih lama bersamamu. Ikut aku."
Mo Yeon masih diam di tempat. Shi Jin melanjutkan ceritanya kalau Dae
Yeong berhasil pergi ke pernikahan mantannya itu bersama Myeong Ju. Shi
Jin menyuruh Mo Yeon mengikutinya jika ingin tahu lanjutan ceritanya.
“Mereka pergi bersama? Kenapa Myeong Ju pergi bersamanya? Apa yang terjadi?” Tanya Mo Yeon sambil mengikuti Shi Jin.
Kilas balik…
Dae Yeong mendapat cuti, ia sudah berpakain rapid an masuk ke mobil.
Tiba-tiba Myeong Ju juga ikut masuk tapi di bangku belakang. Dae Yeong
bertanya, ada urusan apa Myeong Ju masuk mobilnya.
"Selamat atas kesempatanmu untuk merusak pernikahan mantanmu itu. Nah,
kebetulan aku sedang tak bertugas hari ini. Kau pasti merasa beruntung,
'kan?" jawab Myeong Ju.
"Aku bertanya, untuk apa kau ke sini? Apa pertanyaanku terlalu sulit? Letnan Yoon Myeong Ju."
"Apa jawabanku juga sulit dimengerti? Jika kau merusak pernikahannya,
wanita itu malah akan senang telah memutuskanmu. Tapi, jika kau
mengajakku, dia akan menyesal sepanjang malam. Itulah maksudku."
"Ide yang bagus."
"Tapi, dengan satu syarat. sekarang tolong miringkan cerminnya."
Myeong Ju mulai berganti baju da Dae Yeong lurus menghadap kedepan.
Kilas balik selesai...
Mo Yeon sudah menduganya, Myeong Ju memang perusak hubungan orang lain.
Mo Yeon bertanya lagi, apa syarat Myeong Ju. Shi Jin menjawab kalau saat
itu ia mulai bermain.
Kilas balik..
Myeong Ju bercerita kalau pria yang disukai ayahnya adalah saingannya
untuk naik pangkat. Dia adalah Yoo Shi Jin, senior Myeong Ju di Akademi
Militer Korea. Dae Yeong mengatakan kalau Shi Jin sudah sampai disana
sejak dua hari yang lalu.
“Dia cepat juga.” Balas Mo Yeong, lalu pindah ke kursi depan.
Mo Yeong memperbolehkan dae Yeong mengatakan pada Shi Jin kalau ia
adalah pacar Dae Yeong. Dae yeong menanyakan alasan Myeong Ju tak
menyukai Shi Jin. myeng Ju tak suka penampilan Shi Jin yang terlalu
dandy (bergaya).
“kau setuju?” tanya Myung Ju.
“Setuju. Aku suka dengan alasanmu itu.”
Lalu Myeong Ju bertanya soal gaunnya, apa Dae Yeong suka, karena ia suka
gaun berwarna putih. Ia ykin Dae Yeong akan terpesona jika ia
menguraikan rambutnya dan memakai hig heels, ia yakin akan lebih cantic
dari pengantin wanita nanti. Lalu Myeong Ju memepas jepitan rambutnya.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Myeong Ju.
"Jadi, konsepmu yang sekarang..."
"Kau bisa langsung tahu, 'kan?"
" ... adalah konsep hantu?"
"Konsepku adalah malaikat." balas Myeong Ju dengan mengepak-ngepakkan tangannya sebagai sayap.
dae Yeong tak datar-datar aja lalu Myeong Ju mengajaknya langsung berangkat.
Kilas bali selesai..
"Jadi, pria yang disukai ayah Myeong Ju... adalah kau?"
"Ya."
Shi Jin menyuruh Mo Yeon menunggu sebentar. Ia meminta kunci perahu pada
pemilik. Shi Jin naik keatas perahu lalu menyuruh Mo yeon naik juga. Mo
Yeon melanjutkan pertanyaannya,,
"Jadi Myeong Ju, Sersan Mayor Seo dan kau berada dalam cinta segitiga?"
"Ya. Pegang tanganku."
"Sampai sekarang?"
"Ya."
"Jadi, apa yang kau pikirkan sekarang?" Mo Yeon belum mau naik ke perahu.
"Kenapa kau menanyakan itu? Apa kau tak menyukaiku?"
Lalu Shi Jin menarik Mo yeon untuk naik ke atas kapal. Mo Yeon menjawab
kalau ia hanya bertanya, ia tak peduli apa yang dipikirkan Shi Jin
sekarang. Shi Jin menatap mata Mo yeon lekat-lekat, ia bisa melihat
kalau sepertinya Mo Yeon penasaran.
Dan Shi Jin membimbingnya untuk duduk. Ia menyalakan mesin perahu dan mereka melintasi lautan, pemandangannya bagus banget..
Dan mereka sampai di pantai. Disna ada kapal besar. Shi jin menawarkan
tangannya sebagai pegangan saat Mo Yeon turun tapi Mo Yeon tak
mengambilnya, ia bisa turun sendiri.
"Tempat ini pasti tak pernah dijamah. Tapi, kenapa kapal ini bisa ada di sini? Indah sekali." Ujar Mo Yeon.
"Kau bisa kembali ke sini lagi."
Shi Jin mengambil batu. Ia menjelaskan kalau menurut kepercayaan
penduduk sekitar, oaring akan bisa kembali ke pantai itu lagi jika
membawa pulang batu dari pantai itu. ia memberikan batu itu untuk Mo
Yeon.
Mo Yeon tahu pasti Shi Jin berbohong karena jika itu benar, maka taka da
batu yang tersisa di pantai itu. shi Jin menambahkan kalau orang yang
kembali lagi ke pantai itu harus menaruh batu kembali ke tempatnya. Mo
Yeon mengerti, kepercayaan yang Indah baginya dan kapal karam juga
indah. Ia mau masuk ke dalam.
Shi Jin mengikuti Mo Yeon. Mo Yeon kembali bertanya, kenapa kapal itu
bisa karam. Shi Jin menjawab kalau kapal itu kena sihir, sesuatu yang
kena sihir akan berakhir menjadi sesuatu yang indah. Mo Yeon berbalik
dan menatap Shi Jin.
"Apa kau pernah terkena sihir?"
"Iya. Kau akan tahu nanti."
Mereka terdiam sebentar. Shi Jin mengingat-ingat, ia belum mendengar jawaban Mo Yeon. ia menanyakan lagi,,
"Bagaimana kabarmu? Apa kau... masih tetap seksi saat berada di ruang operasi?
"Sepertinya kau salah. Aku tak ke sini sepenuh hati untuk menjadi
relawan medis. Seseorang yang lebih berkuasa telah mencoba menyerangku.
Dia marah dan mengirimku ke sini. Dan aku tidak... melakukan operasi
lagi. Sepertinya, kemampuanku tak diakui dalam ruang operasi. Aku akan
segera kembali, dan setelah itu, aku pasti akan mengambil kembali
posisiku. Aku adalah wanita yang sibuk."
Mo Yeon mengenggam batu pemberian Shi Jin.
Dan saat malam pun disana kelihatan sangat Indah, bintang-bintang sangat jelas terlihat..
Dr. Sang Hyun bagian masak. Kali ini menunya nasi campur+telur ceplok, tapi segitu bnyak orang telurnya Cuma satu. Sang Hyun pemilih, ia tidak mau makan sepiring dengan yang lain, maklum, ia anak orang kaya. Chi Hoon menyendok bagiannya dan meletakkannya di piring dan mengambil telur satu-satunta. Dr. Sang Hyun merebutnya dan Chi Hoon kesal.
“Kenapa kau menggunakan sendokmu pada makananku begitu? Aku tak mau makan lagi, ah.” Ucapnya lalu membanting sendok.
Chi Hoon diluar, ia curhat dengan isterinya. Tiba-tiba ada anak yang
menyentuhnya dengan tangan kotor. Anak itu minta makan tapi dengan
Bahasa Urk. Chi Hoon gak mengerti. Tiba-tiba anak itu pingsan dan Chi
Hoon menggendongnya untuk mendapat perawatan tepat saat itu juga Mo Yeon
dan Shi Jin kembali.
Mo Yeon memeriksa anak itu. Chi Hoon menduga kalau anak itu menderita
gizi buruk. Mo Yeon mengatakan kalau itu bukan gejala pneumonia dan
terlalu buruk untuk penderita gizi buruk. Ia menekan-nekan dada anak
itu, anak itu meringis.
"Dia mengalami nyeri di antar hati dan perutnya." kata Mo Yeon.
"Apa mungkin dia keracunan timah hitam?" tanya Shi Jin.
"Gejala keracunan timah hitam tak muncul secepat ini." jawab Chi Hoon.
Mo Yeon teringat saat ia memotret anak-anak yang menjilati sesuatu. Lalu
ia bertanya pada Chi Hoon apa anak itu menjilati sesuatu. Chi Hoon
membenarkan anak itu menjilati tangannya. Mo Yeon mengerti sekarang.
"Kita perlu untuk melakukan detoksifikasi. Berikan dia IV dengan beberapa nutrisi dan vitamin C, serta EDTA." perintah Mo Yeon.
"Apa dia menderita keracunan timah hitam?" Tanya Chi Hoon.
"Dia menderita anemia karena kekurangan gizi. Tapi, saat racun itu
memasuki tubuhnya, sel darah merahnya menyerap karena mengira racun itu
adalah nutrisi. Dan karena itu racunnya menyebar... dan gejalanya cepat
muncul seperti ini.
"Kapten, kau memang luar biasa." Puji Chi hoon lalu ia pergi mengambil obat-obatan.
Shi Jin menyuruh Mo Yeon memanggilnya jika akan itu bangun, karena ia
bisa Bahasa Urk. Mo Yeon berterimakasih atas bantuan Shi Jin tapi
kedepannya tim medis akan mengurus semuanya sendiri.
"Jika kau memang merasa tertolong, maka ucapkan terima kasih saja." potong Shi Jin.
"Apa maksudmu?"
"Kau bilang hidup itu berharga. Dan tak ada yang lebih berharga daripada
kehidupan. Aku hanya merasa, kau sudah berubah sekarang. Bukan lagi
orang yang kukenal dulu.
"Kasus anemia karena kekurangan gizi, dan keracunan timah hitam sangat
jarang ditemukan di Korea. Dan kasus ini sudah seperti kasus penyakit
flu di Korea sana." Mo Yeon mencoba membela diri.
"Akan lebih bagus jika dokter dengan pengalaman terbaik yang datang ke sini."
"Memang begitu. Tapi tak semua dokter di dunia ini... sama seperti Albert Schweitzer."
"Iya, memang. Dan beberapa dokter hanya muncul di TV saja. Aku pergi dulu."
Mo Yeon hanya bisa menghela nafas.
Shi Jin kembali ke markas. Alaram peringatan berbunyi.
Dae yeong melapor pada Shi Jin,,” FPCON (Sistem Keadaan Siaga) level 2 telah diarah

















































Comments
Post a Comment