
[Baca juga: Sinopsis “Sinopsis Descendants of the Sun” Drama Korea Episode 5 Bagian Pertama]
Untuk melihat tautan link kumpulan sinopsis www.aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id
Agus menegaskan kepada Jin Young Soo bahwa Max telah mendapat pemilik baru tapi perjanjian masih tetap sama.
Jin
Young Soo tak perduli apapun dengan perjanjiannya selama dia
mendapatkan uang. Dia memberikan sebuah kantong kecil berisikan batu
berlian pada Agus. Dan dia puas dengan barang bawaannya.


Agus
kemudian memerintahkan pengiriman barang berikutnya dalam minggu ini,
dan memberikan segulung uang. Dia protes karna pengiriman barang
berikutnya biasanya sepuluh hari, tapi Agus mengancam akan membunuhnya
dan kembali menegaskan pengiriman barang berikutnya hanya seminggu.
Jin
Young Soo kembali ke pabriknya dan bersikap seolah-olah tidak terjadi
apa-apa, tapi salah satu karyawannya melihat darah di bagian tumitnya.



Mo
Yeon duduk merenung sendirian, dan flashback ketika Daniel hendak
memberinya kunci mobil tapi tiba-tiba saja Mo Yeon berbalik karna
mendengar suara tembakan. Dan lamunannya terhenti saat Shi Jin datang
membawakannya segelas kopi.

Mo
Yeon kemudian menawarkan untuk memberikan resep obat anti cemas pada
Shi Jin jika dia membutuhkannya karna Mo Yeon tahu Shi Jin pasti juga
takut setelah insiden yang terjadi. Shi Jin lantas bertanya apa Mo Yeon
perduli padanya.

Mo
Yeon menjawab tentu saja, karna Shi Jin adalah penyelamatnya. Tapi, Shi
Jin tak habis pikir mengapa harus menyelamatkan nyawanya baru bisa
mendapat perhatian dari dirinya.


Dia
kembali bertanya karna insiden tadi, apa Shi Jin tak tahu tadi dia
hampir saja mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menyelamatkannya. Shi
Jin menjawab bukankah Mo Yeon sendiri yang memintanya.

Mo
Yeon kemudian mengungkit ucapan Shi Jin ketika mereka pertama kali
bertemu bahwa dia harus melewati hujan peluru untuk menyelamatkan
seorang kawan, yang kisahnya dimana Shi Jin menyelamatkan Private Ryan.
Setelah kejadian tadi, Mo Yeon beramsumsi saat itu Shi Jin tidak sedang
bercanda.

Mo Yeon bertanya, “apa kau menyelamatkan Private Ryan?”



Flashback:
Dalam sebuah misi, helikopter menjemput para pasukan yang bersiap
membawa mereka. Tampak salah satu pasukan yang terluka, Agus ada di
helikopter. Shi Jin kemudian memberitahu seniornya bahwa semua tim telah
naik di helikopter.

Merasa
situasi sudah aman, Shi Jin tak menyadari sebuah senjata diarahkan
padanya dan tepat di detik-detik terakhir saat senior Shi Jin berjalan
kearahnya dia berhasil menjadi perisai – menyelamatkan Shi Jin dari
sebuah tembakan.



Puluru
itu tepat mengenai dadanya, dan dia meninggal dalam pelukan Shi Jin.
Melihat seniornya meninggal tepat di depan matanya, Shi Jin tak kuasa
menahan tangisnya.



Kembali
ke masa sekarang, Shi Jin berkata, “Saya menyelamatkannya,” dia kembali
mengingat pertemuannya bersama Agus untuk yang pertama kalinya dimana
dia mengetahui ternyata Kapten Agus yang ia kenal telah menjadi seorang
penjahat.
“Tapi apa yang akan terjadi seandainya saya tidak menyelamatkannya? Hari ini saya menyesalinya untuk pertama kali.”


Mo
Yeon mengetahui Shi Jin telah berbohong padanya saat pergi
meninggalkannya di toko alat besi Daniel dengan alasan karna pekerjaan,
dan menebak bunyi tembakan senjata yang dia dengar dari luar toko itu
adalah dari senjata Shi Jin. Dia mengaku curiga saat Shi Jin datang
terlalu cepat menolongnya.


Shi Jin memahami saat ini Mo Yeon merasa sangat bingung, dan bertanya, “Tak bisakah kau hanya percaya padaku?”
Mo Yeon mengakui kejadian tadi benar-benar membuatnya gila.
“Karna kau seperti ini, ini menjadi semakin rumit bagiku.”

Tiba-tiba
saja lampu mati, dan Shi Jin menjelaskan bahwa listriknya mati karna
mereka harus memeriksanya dan akan kembali menyala dalam 30 menit.
“JIka kau mencoba melakukan sesuatu yang lucu karna saya tidak bisa melihat, saya akan berteriak,” canda Shi Jin.

Seperti biasa Mo Yeon tertawa, dan dia mengucapkan rasa terima kasinya karna Shi Jin telah menyelamatkannya hari ini.


Listrik
kembali menyala, dan melihat bagaimana cara Mo Yeon memandanginya Shi
Jin lantas bertanya, “Apa kau akan menatapku seperti itu sepanjang
waktu?”
“Seperti apa? Tanya Mo Yeon.

“Tidak bisa menjauhkan pandanganmu dariku,” jawab Shi Jin.



Keesokan
paginya, mobil maut yang dikemudikan Mo Yeon dibawa ke tempat Daniel
untuk diperbaiki. Tak hanya Mo Yeon yang kaget melihat keadaan mobilnya,
tapi juga Daniel yang tak habis pikir melihat mobilnya yang rusak
parah.


Daniel
kemudian memberikan walkie talkie pada Mo Yeon sesuai permintaan Shi
Jin karna menurutnya walkie talkie akan jauh lebih baik digunakan
didaerah ini ketimbang ponsel.

Setibanya
di kamp, Shi Jin menjelaskan cara menggunakan walkie talkie pada Mo
Yeon yang nantinya akan ia gunakan dan para tim medis lainnya.


Shi
Jin menyebutkan ‘tanda panggilan’ dirinya dengan sebutan “Big Boss” dan
dia lantas memilihkan Mo Yeon “Cutie (imut)” untuk tanda panggilannya
karna menurutnya hampir mirip dengan Mo Yeon.

Keduanya
asyik berduaan, tanpa menyadari kedatangan Myeong Joo yang melihat
kebersamaan mereka. Melihat wajah Myeong Joo seketika itu wajah Mo Yeon
berubah cemberut, sementara Myeong Joo memanas-manasi Mo Yeon dengan
bercanda memberitahu Shi Jin bahwa dia datang kesini untuk menikahinya.


Myeong Joo datang untuk melaporkan secara resmi bertugas di tempat ini.
“Letnan Satu Yoon Myung Ju, 28 Mei 2015,” yang telah ditugaskan di bagian medis.


Tak
ingin berlama-lama, Mo Yeon pamit pergi tapi Myeong Joo mengulurkan
tangannya untuk berjabat tangan dan mengajak Mo Yeon untuk melupakan
masa lalu.

Sayangnya,
Mo Yeon menunjukkan kotak walie talkie yang ia bawa sebagai alasan
untuk tidak berjabat tangan, dan memberitahu Myeong Joo bahwa dia sama
sekali tidak berniat untuk melupakannya.
Shi Jin penasaran dengan
hubungan mereka berdua yang selalu saja bertengkar tiap kali bertemu,
tapi Myeong Joo memilih untuk tidak membahasnya.


Sementara
itu, Mo Yeon ternyata berdiri di balik pintu. Dia menaruh stetoskopnya
di pintu untuk menguping pembicaraan mereka, tapi tingkah anehnya harus
terhenti karna Chi Hoo datang menghampirinya, melakukan hal yang sama.

Duduk
berbincang bersama, Myeong Joo sudah mengetahui tentang kepulangan Shi
Jin yang dipercepat karna perintah ayahnya, sehingga dia menebak itu
karna nepotisme.

Shi
Jin memperjelas itu terjadi karna sebuah pertimbangan. Myeong Joo
melihat ayahnya masih sangat menyukai Shi Jin sebagai menantu impiannya,
sehingga ia bertanya bagaimana caranya ia akan menghindar.

Shi
Jin lantas menjawab, “Itu sebabnya saya harus melakukannya dengan baik.
Klo bukan karna diriku, kau akan dinikahkan denganku.”

Dia kemudian
bertanya apa Myeong Joo sudah menghubungi Dae Young. Myeong Joo
mengakui dia sudah menelponnya, tapi Dae Young sama sekali tidak
menjawab telponnya.


Sementara
itu, di Korea Dae Young melatih para Pasukan Unit Khusus yang akan
dimasukkan dalam tim Alpha sesuai perintah Letnan Jenderal Yoon.
Letjen
Yoon kemudian bertanya apa menurut Dae Young perintahnya untuk
menariknya kembali ke Korea tidak adil, tapi Dae Young menjawab bahwa
dia setuju dengan Letjen Yoon.

Dia
menyarankan Dae Young untuk melalukan investigasi terhadap perintahnya,
dan bisa dengan bebas melayangkan tuduhan. Tapi Dae Young tidak setuju.
Dae
Young mengatakan bahwa dia telah kalah dalam pertarungan ini, karna
Letjen Yoon memiliki senjata sehingga dia tak bisa melawan.

“Itu
adalah ketulusan. Anda tulus mengkhawatirkan masa depan Letnan Kolonel
Yoo. Dengan semua ketulusanku, anda mengatakan bukan saya orangnya.
Sehingga saya berpikir hal yang sama dengan and.a Itulah alasan saya
kalah dalam pertarungan ini. Demi Letnan Kolonel Yoo (Myeong Joo), saya
akan mengalah.”


Sementara
itu, saat Dae Young berjalan di lorong ruang kantornya usai bertemu
dengan Letjen Yoon dan mengikhlaskan untuk melepaskan Myeong Joo, kita
bisa mendengar Myung Ju (bernarasi), dan melihatnya menulis sebuah
surat.



“Dengan
sebuah harapan kau tidak membaca surat ini, saya menulis surat ini.
Jika kau membaca surat ini berarti kita ada dalam situasi sulit. Itu
berarti ayah memerintahkanmu untuk pergi. Maaf karna saya menjadi
seorang gadis yang menutup jalan seorang pria. Tapi saya masih bertanya
tentang keadaanmu dan kau tidak menjawab. Sehingga kita mungkin
berjauhan. Maaf saya tetap berlari ke arahmu meskipun saya tahu ini akan
terjadi. Memelukmu dengan segenap hatiku. Saya seharusnya lebih lagi
memegang tanganmu, saya seharusnya lebih lagi memelukmu. Karna saya
menyesal. Karna saya masih mencintaimu. Tidak apa-apa kau tidak pernah
mendengar pengakuan ini, saya berharap kita bisa bersama di Uruk. Jadi
bagaimana dengan hubungan kita? Apa kita bertemu? Atau apa kita putus
lagi?”


Sementara itu, dengan hati yang hancur Dae Young tidak mengangkat telpon dari Myeong Joo yang saat ini berada di Uruk.

Chi
Hoon datang menemui Myeong Joo, dan memberitahunya bahwa dia akan
segera mengikuti wajib militer. Chi Hoon penasaran apakah dokter tentara
diberikan senjata, dan Myeong Joo menjawab seorang dokter tentara juga
seorang prajurit.
Dia kembali bertanya apa seorang dokter juga
akan menghadapi musuh, dan Myeong Joo menjelaskan bahwa seorang dokter
tentara juga seorang dokter.


Chi Hoon lega mendengarnya, tapi Myeong Joo dengan ketus bertanya apa dia sedang menggodanya.
Dia
secepatnya mengklarifikasi bahwa Myeong Joo sudah salah paham, dan dia
hanya ingin mengetahui dilema yang dihadapi dokter bedah.
“Dan yang paling penting, kau tidak cantik-cantik amat?,” sampai membuat Myeong Joo kesal dengan ucapannya.



Mo
Yeon bertemu dengan Chi Hoon dan Myeong Joo, dan seperti biasa keduanya
kembali bercekcok. Myeong Joo mengkritik kinerja Mo Yeon yang tidak
melakukan pekerjaan utamanya, dan hanya memvaksin orang-orang, ditambah
lagi membawa banyak peralatan medis dalam sebuah Medi Cube padahal
mereka hanya bertugas selama sebulan.


Mo
Yeon lantas mengklarifikasi alasan mengapa mereka membawa banyak
peralatan medis adalah karna akan meninggalkannya untuk Pasukan Keamanan
PBB. Myeong Joo tak punya alasan lagi untuk bertengkar dan memilih
pergi.


Mo
Yeon dan tim medis lainnya berkumpul di kamp melakukan rapat, dan tanpa
sengaja Shi Jin mendengar saat Mo Yeon berkomunikasi menggunakan walie
talkie dengan juru masak yang memangilnya dengan tanda panggilan “Si
Cantik” yang bertanya menu makan siang hari ini.


Tapi,
Mo Yeon merasa malu karna ketahuan tanda panggilannya, dan tim medis
yang lainnya segera pergi untuk memberikan mereka kesempatan berdua
berbicara. Sayangnya, Mo Yeon malah pergi meninggalkan Shi Jin karna
masih kesal dengan kehadiran Myeong Joo.

Sementara
itu, Sang Hyun membantu Ja Ae menyusun obat di ruang Medis (Medi Cube),
dan sejenak memperbincangkan tentang kecurigaannya mengenai hubungan
spesial antara Shi Jin dan Mo Yeon. Meskipun demikian Ja Ae tak ingin
menanggapi kecurigaannya, dan Sang Hyun ngambek karna Ja Ae merasa
hubungan mereka tidak ada yang spesial.


Ye Hwa menggombal Daniel saat dia memperhatikannya sedang memperbaiki mobil Mo Yeon yang rusak parah.
“Melihatmu
seperti itu membuatmu benar-benar tampak seperti pemilik toko perkakas
besi. Tapi, saya pribadi berpikir kau lebih seksi ketika kau memegang
pisau bedah.”

Tapi, Daniel memberitahu Ye Hwa hanya orang Asia yang berpikir seperti itu.
“Bagi Negara Barat, dengan pakaian kerja dan sebuah obeng, semuanya selesai.”


Sang
Hyun dan Chi Hoon bertingkah seperti anak kecil, bermain-main layaknya
sedang berada di medan pertempuran yang berkomunikasi menggunakan walkie
talkie.

Melalui
walkie talkie, Sang Hyun meminta Mo Yeon menghibur mereka, dan dia
kemudian menyanyikan lagu yang liriknya bercerita tentang pengorbanan
para pasukan keamanan untuk Negara mereka.



Sementara
itu dikamarnya Shi Jin yang lagi mengepak semua pakaiannya juga
mendengar tingkah lucu mereka melalui walkie talkienya. Dia mengambil
sebuah batu kerikil Pantai Kapal Karam yang ada di lacinya. Dia duduk
merenung, memegang batu itu sambil mendengarkan nyanyian Mo Yeon.



Keesokan
harinya, Mo Yeon heran melihat kue di meja hidangan, dan Woo Geun
kemudian menjelaskan itu sebuah perpisahan untuk Komandan Kompi yang
masa tugasnya telah selesai dan akan pergi esok hari.
Raut wajah
Mo Yeon seketika itu sedih mendengar berita mengejutkan ini, dan jengkel
karna Shi Jin sama sekali tidak memberitahunya.


Beberapa saat kemudian, Shi Jin menghubunginya lewat waklie talkie untuk menemuinya.
Shi Jin menemui Mo Yeon dan memberitahunya bahwa besok dia akan berangkat.
“Saya dengar kau sudah mengetahuinya.”

“Seperti itulah dirimu. Saya menjadi yang terakhir mendengarnya,” ucap Mo Yeon.

Shi Jin lantas mengklarifikasi bahwa dia sudah berusaha memberitahunya kemarin pagi, tapi saat itu MoYeon memilih pergi.
Tapi Mo Yeon menganggap Shi Jin seharusnya menahannya saat itu.

“Kau marah, saya sama sekali tidak tahu, tapi saya pikir hal itu sedikit keuntungan bagiku, apa itu benar?,” tanya Shi Jin.
“Kau salah,” ucap Mo Yeon


Shi Jin: “Apa perasaanmu masih bimbang, Dokter Kang?”
“Saya
akan bertanya padamu satu hal. Ini mungkin yang terakhir kali. Ketika
saya menciummu tanpa persetujuanmu. Apa yang harus kulakukan? Haruskah
saya minta maaf atau haruskah saya mengungkapkan perasaanku?”
Semua Dok Gambar: KBS 2 TV
[Baca juga: Sinopsis “Sinopsis Descendants of the Sun” Drama Korea Episode 5 Bagian Pertama]
Untuk melihat tautan link kumpulan sinopsis www.aktriskorea.web.id, silahkan kunjungi www.sinop.web.id
Agus menegaskan kepada Jin Young Soo bahwa Max telah mendapat pemilik baru tapi perjanjian masih tetap sama.
Jin Young Soo tak perduli apapun dengan perjanjiannya selama dia mendapatkan uang. Dia memberikan sebuah kantong kecil berisikan batu berlian pada Agus. Dan dia puas dengan barang bawaannya.
Agus kemudian memerintahkan pengiriman barang berikutnya dalam minggu ini, dan memberikan segulung uang. Dia protes karna pengiriman barang berikutnya biasanya sepuluh hari, tapi Agus mengancam akan membunuhnya dan kembali menegaskan pengiriman barang berikutnya hanya seminggu.
Jin Young Soo kembali ke pabriknya dan bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, tapi salah satu karyawannya melihat darah di bagian tumitnya.
Mo Yeon duduk merenung sendirian, dan flashback ketika Daniel hendak memberinya kunci mobil tapi tiba-tiba saja Mo Yeon berbalik karna mendengar suara tembakan. Dan lamunannya terhenti saat Shi Jin datang membawakannya segelas kopi.
Mo Yeon kemudian menawarkan untuk memberikan resep obat anti cemas pada Shi Jin jika dia membutuhkannya karna Mo Yeon tahu Shi Jin pasti juga takut setelah insiden yang terjadi. Shi Jin lantas bertanya apa Mo Yeon perduli padanya.
Mo Yeon menjawab tentu saja, karna Shi Jin adalah penyelamatnya. Tapi, Shi Jin tak habis pikir mengapa harus menyelamatkan nyawanya baru bisa mendapat perhatian dari dirinya.
Dia kembali bertanya karna insiden tadi, apa Shi Jin tak tahu tadi dia hampir saja mempertaruhkan nyawanya hanya untuk menyelamatkannya. Shi Jin menjawab bukankah Mo Yeon sendiri yang memintanya.
Mo Yeon kemudian mengungkit ucapan Shi Jin ketika mereka pertama kali bertemu bahwa dia harus melewati hujan peluru untuk menyelamatkan seorang kawan, yang kisahnya dimana Shi Jin menyelamatkan Private Ryan. Setelah kejadian tadi, Mo Yeon beramsumsi saat itu Shi Jin tidak sedang bercanda.
Mo Yeon bertanya, “apa kau menyelamatkan Private Ryan?”
Flashback: Dalam sebuah misi, helikopter menjemput para pasukan yang bersiap membawa mereka. Tampak salah satu pasukan yang terluka, Agus ada di helikopter. Shi Jin kemudian memberitahu seniornya bahwa semua tim telah naik di helikopter.
Merasa situasi sudah aman, Shi Jin tak menyadari sebuah senjata diarahkan padanya dan tepat di detik-detik terakhir saat senior Shi Jin berjalan kearahnya dia berhasil menjadi perisai – menyelamatkan Shi Jin dari sebuah tembakan.
Puluru itu tepat mengenai dadanya, dan dia meninggal dalam pelukan Shi Jin. Melihat seniornya meninggal tepat di depan matanya, Shi Jin tak kuasa menahan tangisnya.
Kembali ke masa sekarang, Shi Jin berkata, “Saya menyelamatkannya,” dia kembali mengingat pertemuannya bersama Agus untuk yang pertama kalinya dimana dia mengetahui ternyata Kapten Agus yang ia kenal telah menjadi seorang penjahat.
“Tapi apa yang akan terjadi seandainya saya tidak menyelamatkannya? Hari ini saya menyesalinya untuk pertama kali.”
Mo Yeon mengetahui Shi Jin telah berbohong padanya saat pergi meninggalkannya di toko alat besi Daniel dengan alasan karna pekerjaan, dan menebak bunyi tembakan senjata yang dia dengar dari luar toko itu adalah dari senjata Shi Jin. Dia mengaku curiga saat Shi Jin datang terlalu cepat menolongnya.
Shi Jin memahami saat ini Mo Yeon merasa sangat bingung, dan bertanya, “Tak bisakah kau hanya percaya padaku?”
Mo Yeon mengakui kejadian tadi benar-benar membuatnya gila.
“Karna kau seperti ini, ini menjadi semakin rumit bagiku.”
Tiba-tiba saja lampu mati, dan Shi Jin menjelaskan bahwa listriknya mati karna mereka harus memeriksanya dan akan kembali menyala dalam 30 menit.
“JIka kau mencoba melakukan sesuatu yang lucu karna saya tidak bisa melihat, saya akan berteriak,” canda Shi Jin.
Seperti biasa Mo Yeon tertawa, dan dia mengucapkan rasa terima kasinya karna Shi Jin telah menyelamatkannya hari ini.
Listrik kembali menyala, dan melihat bagaimana cara Mo Yeon memandanginya Shi Jin lantas bertanya, “Apa kau akan menatapku seperti itu sepanjang waktu?”
“Seperti apa? Tanya Mo Yeon.
“Tidak bisa menjauhkan pandanganmu dariku,” jawab Shi Jin.
Keesokan paginya, mobil maut yang dikemudikan Mo Yeon dibawa ke tempat Daniel untuk diperbaiki. Tak hanya Mo Yeon yang kaget melihat keadaan mobilnya, tapi juga Daniel yang tak habis pikir melihat mobilnya yang rusak parah.
Daniel kemudian memberikan walkie talkie pada Mo Yeon sesuai permintaan Shi Jin karna menurutnya walkie talkie akan jauh lebih baik digunakan didaerah ini ketimbang ponsel.
Setibanya di kamp, Shi Jin menjelaskan cara menggunakan walkie talkie pada Mo Yeon yang nantinya akan ia gunakan dan para tim medis lainnya.
Shi Jin menyebutkan ‘tanda panggilan’ dirinya dengan sebutan “Big Boss” dan dia lantas memilihkan Mo Yeon “Cutie (imut)” untuk tanda panggilannya karna menurutnya hampir mirip dengan Mo Yeon.
Keduanya asyik berduaan, tanpa menyadari kedatangan Myeong Joo yang melihat kebersamaan mereka. Melihat wajah Myeong Joo seketika itu wajah Mo Yeon berubah cemberut, sementara Myeong Joo memanas-manasi Mo Yeon dengan bercanda memberitahu Shi Jin bahwa dia datang kesini untuk menikahinya.
Myeong Joo datang untuk melaporkan secara resmi bertugas di tempat ini.
“Letnan Satu Yoon Myung Ju, 28 Mei 2015,” yang telah ditugaskan di bagian medis.
Tak ingin berlama-lama, Mo Yeon pamit pergi tapi Myeong Joo mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dan mengajak Mo Yeon untuk melupakan masa lalu.
Sayangnya, Mo Yeon menunjukkan kotak walie talkie yang ia bawa sebagai alasan untuk tidak berjabat tangan, dan memberitahu Myeong Joo bahwa dia sama sekali tidak berniat untuk melupakannya.
Shi Jin penasaran dengan hubungan mereka berdua yang selalu saja bertengkar tiap kali bertemu, tapi Myeong Joo memilih untuk tidak membahasnya.
Sementara itu, Mo Yeon ternyata berdiri di balik pintu. Dia menaruh stetoskopnya di pintu untuk menguping pembicaraan mereka, tapi tingkah anehnya harus terhenti karna Chi Hoo datang menghampirinya, melakukan hal yang sama.
Duduk berbincang bersama, Myeong Joo sudah mengetahui tentang kepulangan Shi Jin yang dipercepat karna perintah ayahnya, sehingga dia menebak itu karna nepotisme.
Shi Jin memperjelas itu terjadi karna sebuah pertimbangan. Myeong Joo melihat ayahnya masih sangat menyukai Shi Jin sebagai menantu impiannya, sehingga ia bertanya bagaimana caranya ia akan menghindar.
Shi Jin lantas menjawab, “Itu sebabnya saya harus melakukannya dengan baik. Klo bukan karna diriku, kau akan dinikahkan denganku.”
Dia kemudian bertanya apa Myeong Joo sudah menghubungi Dae Young. Myeong Joo mengakui dia sudah menelponnya, tapi Dae Young sama sekali tidak menjawab telponnya.
Sementara itu, di Korea Dae Young melatih para Pasukan Unit Khusus yang akan dimasukkan dalam tim Alpha sesuai perintah Letnan Jenderal Yoon.
Letjen Yoon kemudian bertanya apa menurut Dae Young perintahnya untuk menariknya kembali ke Korea tidak adil, tapi Dae Young menjawab bahwa dia setuju dengan Letjen Yoon.
Dia menyarankan Dae Young untuk melalukan investigasi terhadap perintahnya, dan bisa dengan bebas melayangkan tuduhan. Tapi Dae Young tidak setuju.
Dae Young mengatakan bahwa dia telah kalah dalam pertarungan ini, karna Letjen Yoon memiliki senjata sehingga dia tak bisa melawan.
“Itu adalah ketulusan. Anda tulus mengkhawatirkan masa depan Letnan Kolonel Yoo. Dengan semua ketulusanku, anda mengatakan bukan saya orangnya. Sehingga saya berpikir hal yang sama dengan and.a Itulah alasan saya kalah dalam pertarungan ini. Demi Letnan Kolonel Yoo (Myeong Joo), saya akan mengalah.”
Sementara itu, saat Dae Young berjalan di lorong ruang kantornya usai bertemu dengan Letjen Yoon dan mengikhlaskan untuk melepaskan Myeong Joo, kita bisa mendengar Myung Ju (bernarasi), dan melihatnya menulis sebuah surat.
“Dengan sebuah harapan kau tidak membaca surat ini, saya menulis surat ini. Jika kau membaca surat ini berarti kita ada dalam situasi sulit. Itu berarti ayah memerintahkanmu untuk pergi. Maaf karna saya menjadi seorang gadis yang menutup jalan seorang pria. Tapi saya masih bertanya tentang keadaanmu dan kau tidak menjawab. Sehingga kita mungkin berjauhan. Maaf saya tetap berlari ke arahmu meskipun saya tahu ini akan terjadi. Memelukmu dengan segenap hatiku. Saya seharusnya lebih lagi memegang tanganmu, saya seharusnya lebih lagi memelukmu. Karna saya menyesal. Karna saya masih mencintaimu. Tidak apa-apa kau tidak pernah mendengar pengakuan ini, saya berharap kita bisa bersama di Uruk. Jadi bagaimana dengan hubungan kita? Apa kita bertemu? Atau apa kita putus lagi?”
Sementara itu, dengan hati yang hancur Dae Young tidak mengangkat telpon dari Myeong Joo yang saat ini berada di Uruk.
Chi Hoon datang menemui Myeong Joo, dan memberitahunya bahwa dia akan segera mengikuti wajib militer. Chi Hoon penasaran apakah dokter tentara diberikan senjata, dan Myeong Joo menjawab seorang dokter tentara juga seorang prajurit.
Dia kembali bertanya apa seorang dokter juga akan menghadapi musuh, dan Myeong Joo menjelaskan bahwa seorang dokter tentara juga seorang dokter.
Chi Hoon lega mendengarnya, tapi Myeong Joo dengan ketus bertanya apa dia sedang menggodanya.
Dia secepatnya mengklarifikasi bahwa Myeong Joo sudah salah paham, dan dia hanya ingin mengetahui dilema yang dihadapi dokter bedah.
“Dan yang paling penting, kau tidak cantik-cantik amat?,” sampai membuat Myeong Joo kesal dengan ucapannya.
Mo Yeon bertemu dengan Chi Hoon dan Myeong Joo, dan seperti biasa keduanya kembali bercekcok. Myeong Joo mengkritik kinerja Mo Yeon yang tidak melakukan pekerjaan utamanya, dan hanya memvaksin orang-orang, ditambah lagi membawa banyak peralatan medis dalam sebuah Medi Cube padahal mereka hanya bertugas selama sebulan.
Mo Yeon lantas mengklarifikasi alasan mengapa mereka membawa banyak peralatan medis adalah karna akan meninggalkannya untuk Pasukan Keamanan PBB. Myeong Joo tak punya alasan lagi untuk bertengkar dan memilih pergi.
Mo Yeon dan tim medis lainnya berkumpul di kamp melakukan rapat, dan tanpa sengaja Shi Jin mendengar saat Mo Yeon berkomunikasi menggunakan walie talkie dengan juru masak yang memangilnya dengan tanda panggilan “Si Cantik” yang bertanya menu makan siang hari ini.
Tapi, Mo Yeon merasa malu karna ketahuan tanda panggilannya, dan tim medis yang lainnya segera pergi untuk memberikan mereka kesempatan berdua berbicara. Sayangnya, Mo Yeon malah pergi meninggalkan Shi Jin karna masih kesal dengan kehadiran Myeong Joo.
Sementara itu, Sang Hyun membantu Ja Ae menyusun obat di ruang Medis (Medi Cube), dan sejenak memperbincangkan tentang kecurigaannya mengenai hubungan spesial antara Shi Jin dan Mo Yeon. Meskipun demikian Ja Ae tak ingin menanggapi kecurigaannya, dan Sang Hyun ngambek karna Ja Ae merasa hubungan mereka tidak ada yang spesial.
Ye Hwa menggombal Daniel saat dia memperhatikannya sedang memperbaiki mobil Mo Yeon yang rusak parah.
“Melihatmu seperti itu membuatmu benar-benar tampak seperti pemilik toko perkakas besi. Tapi, saya pribadi berpikir kau lebih seksi ketika kau memegang pisau bedah.”
Tapi, Daniel memberitahu Ye Hwa hanya orang Asia yang berpikir seperti itu.
“Bagi Negara Barat, dengan pakaian kerja dan sebuah obeng, semuanya selesai.”
Sang Hyun dan Chi Hoon bertingkah seperti anak kecil, bermain-main layaknya sedang berada di medan pertempuran yang berkomunikasi menggunakan walkie talkie.
Melalui walkie talkie, Sang Hyun meminta Mo Yeon menghibur mereka, dan dia kemudian menyanyikan lagu yang liriknya bercerita tentang pengorbanan para pasukan keamanan untuk Negara mereka.
Sementara itu dikamarnya Shi Jin yang lagi mengepak semua pakaiannya juga mendengar tingkah lucu mereka melalui walkie talkienya. Dia mengambil sebuah batu kerikil Pantai Kapal Karam yang ada di lacinya. Dia duduk merenung, memegang batu itu sambil mendengarkan nyanyian Mo Yeon.
Keesokan harinya, Mo Yeon heran melihat kue di meja hidangan, dan Woo Geun kemudian menjelaskan itu sebuah perpisahan untuk Komandan Kompi yang masa tugasnya telah selesai dan akan pergi esok hari.
Raut wajah Mo Yeon seketika itu sedih mendengar berita mengejutkan ini, dan jengkel karna Shi Jin sama sekali tidak memberitahunya.
Beberapa saat kemudian, Shi Jin menghubunginya lewat waklie talkie untuk menemuinya.
Shi Jin menemui Mo Yeon dan memberitahunya bahwa besok dia akan berangkat.
“Saya dengar kau sudah mengetahuinya.”
“Seperti itulah dirimu. Saya menjadi yang terakhir mendengarnya,” ucap Mo Yeon.
Shi Jin lantas mengklarifikasi bahwa dia sudah berusaha memberitahunya kemarin pagi, tapi saat itu MoYeon memilih pergi.
Tapi Mo Yeon menganggap Shi Jin seharusnya menahannya saat itu.
“Kau marah, saya sama sekali tidak tahu, tapi saya pikir hal itu sedikit keuntungan bagiku, apa itu benar?,” tanya Shi Jin.
“Kau salah,” ucap Mo Yeon
Shi Jin: “Apa perasaanmu masih bimbang, Dokter Kang?”
“Saya akan bertanya padamu satu hal. Ini mungkin yang terakhir kali. Ketika saya menciummu tanpa persetujuanmu. Apa yang harus kulakukan? Haruskah saya minta maaf atau haruskah saya mengungkapkan perasaanku?”
Semua Dok Gambar: KBS 2 TV
Comments
Post a Comment