Setelah memutar lagu, Mo Yeon meninggalkan ponselnya di sana dan ia ke
Medicubee untuk mengecek pasien. Dan music pilihan Mo Yeon membawa efek
yang baik untuk pasien juga untuk tentara yang sedang beristirahat di
Barak.
Setelah lagu pertama berakhir selanjutnya terputar suara rekama wasiat Mo Yeon.
"Aku tahu, keadaan seperti ini pasti akan terjadi
di sini, aku harusnya tidak ke sini. Kau akan menyelamatkanku kan, Yoo
Si Jin? Kau tak datang, ya? Sepertinya aku akan jatuh sebelum kau sampai
di sini. Meskipun begitu, Yoo Si Jin, kau adalah orang yang pertama
yang akan menemukan jasadku nanti."
Shi Jin mendengarkan baik-baik rekaman Mo Yeon. Perhalan senyum mengembang di bibir Shi Jin.
"Tapi, jika aku tahu aku akan mati seperti ini, harusnya aku
memberitahumu perasaaanku yang sebenarnya. Aku merasa bahagia bisa
dicium oleh pria yang sangat tampan. Hatiku merasa sangat bahagia."
Mo Yeon terus berlari sekuat tenaga menuju ke ponselnya. Ia harus
menaiki tangga dulu untuk mencapai tempat ponselnya karena ruangan
speaker ada di lantai 2.
Setelah sampai disana bertepatan dengan berakhirnya suara rekaman. Mo
Yeon menyahut ponselnya dan langsung berlari lagi keluar. Shi Jin hanya
menatapnya dengan senyuman.
“Musik sungguh mengubah banyak hal.” Ujar Daniel.
“Aku pikir, akulah pusat dari perubahan itu.” balas Shi Jin.
Kemudian ia menuju jendela dan meloncat kebawah.
Saat Mo Yeon akan membuka pintu depan, Shi Jin sudah menunggunya di
luar. Mo Yeon sangat terkejut, bagaimana Shi Jin bisa disana padahal
tadi masih ada di atas. Shi Jin menjawab kalau ia mempunyai keunggulan
dibidang ini.
“Apa kau sekarang menggunakan teknik pasukan Khusus untuk urusan pribadi?” Tuduh Mo Yeon.
“Well, seseorang bahkan sedang mempublikasikan perasaannya.” Balas Shi Jin.
Mo Yeon protes, ini sangat kekanakan, kenapa juga Shi Jin mendengarkan
rekaman orang lain. Shi Jin menjawab kalau ia tidak menginginkannya tapi
semuanya terputar.
“Hanya karena itu terputar, bagaimana bisa kau mendengarkannya?”
Shi Jin tertawa, baginya Mo Yeon sangat lucu. Tapi kenapa Mo Yeon
melarikan diri, saat hidupnya diujung tanduk, Mo Yeon mau mengakui
perasaannya. Tapi setelah terbenas, sudahkah Mo Yeon berubah pikiran?
Mo Yeon terus mundur saat Shi Jin terus maju mendekat. Ia mengelak, itu bukan pernyataan perasaannya.
“Tadi jelas-jelas suaramu.” Bantah Shi Jin.
Mo Yeon balik membantah kalau tadi bukan suaranya. Lalu Shi Jin
mengangkat tangan Mo Yeon yang memegang ponsel,,”ini kan ponselmu?”
“Ini bukan ponsel.” Jawab Mo Yeon.
Tapi kemudian ia sadar kalau semua kata-katanya itu salah,,”Diamlah kau , Mo Yeon.” Perintahnya pada diri sendiri.
Shi Jin merasa terhormat bisa disebut dalam wasiat Mo Yeon. Mo Yeon
membenarkan dan ia akan pergi. Tapi Shi Jin menahan tangannya, ini belum
berakhir.
Mo Yeon mencoba mengelabuhi Shi Jin dengan menunjuk sesuatu dan ia berekasi sangat terkejut. Tapi Shi Jin tak bisa terbodohi.
“Berhentilah mencampakkanku. Tahukah kau sudah berapa kali kau
melakukannya padaku? Aku harus mendengar dari mulutmu langsung maka
barulah aku menganggap itu adalah pengakuan dari perasaanmu. Jadi
berhentilah melarikan diri.”
Mo Yeon mengerti, ia akan mengatakannya pada Shi Jin, tapi ia mau Shi Jin melepaskannya dulu.
“Beneran.”
“Beneran loh?”
Lalu Shi Jin melepaskan tangan Mo Yeon. Dan Mo Yeon langsung kabur lagi. HAHAHAHA..
Ja Ae dan Dr Sang Hyun jalan berdua sambil minum gingseng merah.
“Mereka bilang bunga merak bahkan ditengah perang. Orang mempunyai kebebasan bahkan setelah gempa.” Ujar Ja Ae.
“Orang bahkan menyatakan perasaannya dan Kiss di tempat ini. yang lain
sibuk menjalani kehidupan mereka seperti itu. haruskah kita jadi cerdik
seperti mereka? Kiss sambil bekerja?”
Ja Ae memperingatkan Dr Sang Hyun, tak usah bersikap sok berani seperti
itu. Dr sang Hyun menjawab, tidakkah Ja Ae belajar dari bencana yang
terjadi ini, tidakkah Ja Ae menyadari kalau mereka harus bersikap sok
berani selagi mereka bisa?
Ja Ae menyuruh Dr sang Hyun berhenti karena terlalu berisik. Lalu Dr
Sang Hyun membahas soal wasiatnya untuk Ja Ae, password 1030 untuk
folder rahasianya.
Ja Ae membentaknya untuk segera menghapus folder itu. ia kasihan pada
folder rahasia itu yang bahkan tidak tahu apa isi dalam dirinya.
Sersan Choi kalah taruhan dengan Sersan Gong, dan harus membayar
beberapa puluh ribu won. srsan Im juga ada disana, dengan polosnya ia
bertanya, apa sekarang mereka harus memanggil Mo Yeon ‘Kakak ipar’?
“Yaa! Apa yang kau tanyakan itu? mereka harus menikah dulu.” Jawab Sersan Choi sinis.
Sersan Im sudah siam menerima uangnya tapi Sersan Choi mengulurnya lagi,
ia curhat kalau ia tidak menyukai Mo Yeon. Sersan Im tak mengerti, apa
yang membuat Sersan Choi tak menyukai Mo Yeon padahal Mo Yeon kan cantic
dan dokter pula dengan gaji besar.
“Itulah maksudku. Kenapa wanita dengan cantic dengan gaji besar harus
berakhir dengan seorang tentara? bukankah dia kesini untuk pekerjaan
sukarela? Dia hanya tergoda olehnya (Shi Jin) karena dia (Mo Yeon)
berada jauh dari rumah. Kau tak bakalan tahu kapan ia akan berubah
pikiran. Pikirkanlah jika dia (Mo Yeon) tahu apa aslinya pekerjaan kita.
Tidak menutup kemungkinan dia akan memintanya untuk ditransfer ke
tempat lain atau bahkan untuk berhenti menjadi tentara.”
Sersan Go dan Sersan Im terdiam, mereka mulai memikirkan hal itu. sersan
Choi menggunakan kesempatan ini untuk kabur membawa uanganya.
Lalu sersan Go bertanya pada sersan Im, bagaimana istri Sersan Choi?
Sersan Im menjawab kalau istri Sersan Choi mirip Mo Yeon, cantic dan
menghasilkan banyak uang dari membuka toko. Sersan Im juga heran, apa
yang salah dengan Sersan Choi.
“Tapi aku tak berpikir kalau Sersan Choi akan seperti ini.” Ujar Sersan Go.
Barulah Sersan Im sadar kalau ia belum mendapatkan uangnya, ia pun segera menyusul sersan Choi.
Mo Yeon rapat dengan tim medis lainnya. Ia memerintahkan ja Ae untuk menulis list obat yang habis untuk di kirim ke Korea.
Dr Sang Hyun mengangkat tangannya,,”Apa benar bahwa Ketua Tim Kang mengakui perasaamu untuk Kapten Yoo?”
“Tampaknya kapten Yoo yang menyatakan perasaannya terlebih dulu.” Sahut Ja Ae.
Dan semua berteriak,, huuuuuu..
“kalian semua berpendidikan. Mohon, bicarakan hal itu dibelakangku.”
Balas Mo Yeon. Lalu ia meminta semuanya untuk fokus lagi, ia membahas
mengenai siapa yang akan kembali ke korea.
“Jadi, hitungannya mulai hari ini kau memulai hubunganmu?” tanya Dr Sang Hyun.
“Harusnya besok.” Jawab Ja Ae.
“Tidak, normanya dimulai hari ini.” bantah Min Ji.
Mo Yeon kembali meminta mereka untuk berhenti membahas hal ini. tapi ia malah keceplosan..
“Orang yang mulai berkencan hari ini… Aish.”
Dan hal itu meledakkan tawa semuanya. Mo Yeon kesal, tidak bisakan semua Tim kembali ke Korea saja.
Chi Hoon akan memeriksa tekanan darah Min Jae, tapi ia terus genetar.
Min Jae juga tak suka kalau diperiksa Chi Hoon, ia minta pada Dr Sang
Hyun untuk menukar Dokternya.
Dr Sang Hyun yang tengah memeriksa pasien bertanya kenapa, Chi Hun kan yang pertama menemukan Min Jae.
“Maka dari itu.. Ini membuatku gila jika aku mengingat kejadia itu. dan tangannya gemetar.” jawab Min Jae.
Dr Sang Hyun lalu mendekat, ia menawarkan nama Dokter yang mungkin.
pertama, Daniel tapi itu tak mungkin karena Min Jae tak bisa berbahasa
Inggris. Kedua, Jang Joo Hyuk yang lebih tak mungkin lagi karena dia
sudah meninggal,,“Gimana ya? taka da dokter yang bisa.”
Min Jae tampak kecewa. Lalu Dr Sang Hyun menasehhatinya kalau Dokter Min
Jae tidak seperti Channel TV yang bisa Min Jae ganti-ganti
sesukanya,,”biarkan dia memeriksamu jika kau ingin pulih.”
Dr Sang Hyun juga memerintahkan Chi Hoon untuk tetap memeriksa Min Jae.
Chi Hoon pun melaksanakan perintah seniornya. Ia sangat berhati-hati
namun Min Jae terus bersikap kasar. Dr Sang Hyun mencurigai sesuatu.
Mo Yeon keluar dari medicube. Ia kaget saat melihat ada tentara lewat,
ia pun ura-pura sedang peregangan. Kemudian ia sembunyi-sembunyi saat
mau berjalan, ia berusaha menghindar dari berpapasan dengan orang-orang.
Iapikir sudah tak ada yang lewat, ia pun lega dan berjalan seperti
biasa, namun tiba-tiba ada dua orang tentara dari arah yang tadi tak
terlihat. Mo Yeon refleks berbalik arah dan sialnya ia malah berpapasan
dengan Myeong Ju.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Myeong Ju.
“Aku tak melakukan apapun.”
“Kau sedang melakukan sesuatu.” Bantah Myeong Ju. Lalu ia menambahi
kalau Mo Yeon terlihat sedang mencoba bersembunyi dari keadaanmemalukan.
Mo Yeon menyuruh Myeong Ju untuk lanjut pergi ke tujuannya saja. Myeong
Ju berujar kalau Mo Yeon sangat berani, bagaimana bisa Mo yeon berpikir
untuk mengencani Big Boss dari Tim Alpha.
Mo Yeon mulai serius, ia menanyakan apa Myeong Ju tak apa jika memiliki
kekasih seorang tentara. Apa tak khawatir kalau kekasih tersebut akan
meninggal atau terluka kapanpun. Karena sejauh yang ia tahu, Dae Young
juga mempunyai pekerjaan yang sama berbahayanya dengan Shi Jin.
“sejujurnya, dia memasuki daerah musuh … untuk menyelidiki perang,
mengumpulkan informasi, membebaskan sandera, dan hal berbahaya lainnya
yang mengancam jiwanya… tapi aku tak takut tantang pekerjaanya. Aku
hanya takut terpisah darinya. Jadi tak ada yang perlu aku takutkan
karena kita bersama sekarang. Simpelnya.. aku tak memiliki ketakutan.
Itulah perasaanku.”
Setelah menjelaskan panjang lebar, Myeong Ju pun pergi.
Shi Jin duduk-duduk di luar, ia melihat lekat-lekat batu yang ia ambil
di pantai. Setelah melihatnya, ia melempar-lemparkannya dan Myeong Ju
yang datang tiba-tiba menangkap batu tersebut.
Kebetulan Myeoung Ju datang, Shi Jin mengajukan pertanyaan seperti yang ditanyakan Mo Yeon.
“Kenapa kalian menanyakan pertanyaan itu padaku? kau harus bicara
langsung padanya. Mo Yeon baru saja menanyakan pertanyaan yang sama.”
Jawab Myeong Ju.
Shi Jin bertanya lagi, apa jawaban Myeon Ju untuk Mo Yeon. Myeong Ju
menyuruhnya mendnegar langsung dari Mo Yeon karena itu bukan informasi
perang, mereka harus bicara face-to-face.
“Untukku selalu pertempuran hand-to-hand.” Lanjut Myeong Ju.
Lalu Myeong Ju menanyakan batu apa itu. mau Shi Jin lempar ke siapa. Shi
Jin masih memikirkannya dan meminta Mo Yeon mengembalikan batunya.
“Sini dan ambil ini dariku.” Tantang Myeong Ju.
Shi Jin memperingatkan Myeong Ju agar tak melakukan sesuatu yang akan ia
sesali nanti dan memintanya untuk mengembalikan batu itu saja. Myeong
Ju berjalan mundur dan tiba-tiba ia menabrak orang.
Saat Myeong Ju berbalik, ia melihat orang yang ditabraknya, dia adalah
dae Young. Myeong Ju akan pergi begitu saja. Dae Young menghalanginya
dengan memegang pundaknya.
“sudah kubilag kau akan menyesalinya.” Kata Shi Jin.
“Kalian berdua tampak sangat akrab.” Balas Dae Young tak suka.
Myeong Ju yang masih kesal dengan Dae Young menjawab sewot, memangnya kenapa, apa ia tidak boleh berteman dengan pria lain.
“Apa kau masih kesal dengan ku?” Tanya Dae Young.
“Bagaimana aku bisa tidak kesal? Ini tidak seperti aku memintamu untuk
melakukannya tiga kali sehari setiap habis makan. Bagaimana kau bisa
lari saat aku memintanya? Pergi gulung panggilan (perintah kerja) saja
seumur hidupmu.”
Shi Jin mendekat, kayaknya ia tahu apa yang dibicarakan mereka,,”Yaa!
Kau meminta hal itu padanya? Sesuatu diantara pria dan wanita? Itu
kan?”. Bahkan Shi Jin sampe menyodok pundak Myeong Ju.
Myeong Ju menjawab bukan apa yang dipikirkan Shi Jin, ia hanya meminta
dae Young untuk menggenggam tangannya dan memeluknya. Tapi Shi Jin
selalu sebaliknya, tak pernah menggenggam tangannya, hanya memegang
lengan atau pundaknya,,”Aish. Dasar bodoh.”
Myeong Ju mengambil tangan Shi Jin untuk meletakkan batu itu. ia
berkata,,”dia (Dae Young) orangnya. Lempar ini (batu) padanya”. Lalu
Myeong Ju pergi dengan kesal.
Shi Jin ikut-ikutan mengatai Dae Young bodoh. Dae Young menyuruhnye
berhenti, karena ia tak tahu apa yang akan ia lakukan nanti jika Shi Jin
terus mengejeknya.
“Apa? Apa? Apa kau akan memegang pundakku juga?” Tanya Shi Jin sambil menyodorkan pundaknya.
Mo Yeon, Min Ji dan Ja Ae kembali menikmati pemandangan para tentara
yang jogging tanpa baju di pagi hari. Min Ji lega bisa melihat
pemandangan itu lagi karena itu artinya hidupnya kembali normal.
“Melihat laki-laki berlari setengah telanjang itu normal?” tanya Mo Yeon
tapi matanya tak lepas dari para tentara. Ia melanjutkan,,”sangat
bagus.”
Min Ji mengangguk. Ja Ae mengatakan kalau para tentara itu adalah symbol
perdamaian. Mo Yeon membalas kalau para tentara itu seperti DIVA-nya
Urk. Ja Ae mengingatkan Mo Yeon yang harus menghadiri meeting.
“Mungkin aku harus nelat.” Jawab Mo Yeon.
Tiba-tiba Min Ji menyapa Shi Jin danmenghadap ke belakang. Mendengar
nama Shi Jin, Mo Yeon langsung lari tanpa menengok kebelakang bahkan ia
sampai harus menembus barisan para tentara.
“Dia mudah sekali dibodohi. Apa jangan-jangan mereka tidak hanya Kiss.” Curiga Min Ji.
Ja Ae malah bertanya, apa benar jika orang-orang Kiss sambil bekerja. Min Ji gak ngerti maksud Ja Ae itu.
Mo Yeon kecapean berlari dan ia memutuskan untuk berhenti. Tapi saat ia
menatap keatas, Shi Jin lah yang ia lihat. Mo Yeon heran, bukannya tadi
Shi Ji nada disana. Shi Jin menjawab kalau sedari tadi ia ada disini. Mo
Yeon baru sadar kalau ia sudah dibodohi.
“Apa mareke menggodamu?” tanya Shi Jin.
“Ini semua karenamu.” Jwab Mo Yeon.
Lalu Mo Yeon akan pergi karena harus menghadiri Meeting. Shi Jin menahan tangannya, ia juga harus menghadiri Meeting yang sama.
“Aku pikir kau baru saja bertemu denganorang yang bisa memberimu tumpangan.” Lanjut Shi Jin.
Mo Yeon membalas kalau ia akan pergi sendiri,
“Akankah kau menuju behaya lagi?”
“Akan kupastikan kau tahu jika itu terjadi.”
“Kenapa kau menghindariku? Kau menghindariku saat aku menyatakan
perasaanku. Dan sekarang kau menghindariku setelah menyebutku dalam
wasiatmu.”
“itu bukan wasiat.”
“kau bilang kalau hatimu deg-degan sepanjang waktu.”
“itu bukan aku.”
Shi Jin tak meminta Mo Yeon untuk mengatakan perasaan yang sesungguhnya.
ia juga melarang Mo Yeon untuk merasa malu karena ia tahu bahwa Mo yeon
menyukainya. Karena itu, tak akan mengubahnya untuk menyukai Mo Yeon.
Shi Jin semakin mendekatkan wajahnya ke Mo Yeon, setelah ia lihat-lihat Mo Yeon tampak cantic hari ini.
“Ah,, please..” Mo Yeon malu.
Lalu Shi Jin melihat Dae Young masuk ke dalam.
“10 menit lagi, kita bertemu di pintu masuk.” Ucap Shi Jin lalu menutup
jendela dalam. Kemudian Mo Yeon menutup jendela luar lalu pergi.
Myeong Ju melintas, ia penasaran kenapa Mo Yeon menutup jendela, lalu ia
membukanya kembali. Dan tepat saat itu Dae Young juga membuka jendela
dalam. Myeong Ju kembali menutup jendela luar setelah melihat dae Young
dan segera pergi dari sana.
Gi Beom menjelaskan kalau ia sedang belajar untuk ujian GED, lalu
bertanya apa Yi Hwa juga belajar pengobatan tradisional karena sebagai
perawat aneh jika bisa melakukan akupuntur juga. Yi Hwa menjawab kalau
ia mempelajari teknik akupuntur dari ayahnya.
“Maka itu artinya, kau tidak punya lisensi?” tanya Gi Beom.
“Ya.. bisa dibilang begitu.”
Gi Beom jadi tak yakin dan akan pergi tapi Yi Hwa memaksanya untuk diam dan menurut saja. Gi Beom pun pasrah.
Gi Beom kemudian bertanya daerah asal Yi Hwa, karena aksen Yi Hwa sangat
berbeda dari kebanyakan orang Korea. Yi Hwa menjawab kalau ia keturunan
Goryeo.
Gi Beom makin bertanya-tanya, Goryeo? Bukannya itu jaman kerajaan yang
lamaaa banget dan Cuma muncul di drama-drama sejarah saja. Tapi kenapa
bisa Yi Hwa masih hidup sampai saat ini.
Sersan Im yang tiduran di depannya menimpuknya dengan seragam. Kemudian Yi hwa menekan kepalanya ke bantal.
“Pantesan kau tak lulus.” Ujar Yi Hwa.
Secara semua orang Korea juga keturunan Goryeo keles.. Polos banget sih Gi Beom ini..
Mo Yeon dan Shi Jin sudah di dalam mobil menuju tempat meeting. Mo Yeon
menebak pasti nanti pertemuannya sangat kaku. Shi Jin menjelaskan kalau
pertemuannya gak bakalan kaku, karena semua orang begitu menyenangkan.
karena Mereka bertemu hanya selama keadaan darurat. Jadi humor adalah
suatu keharusan.
Ah.. Mo Yeon jadi mengeti sekarang kenapa Shi Jin bercanda juga di saat
terburuk. Shi Jin menjelaskan kalau menjadi serius pada saat serius
hanya membuat lebih buruk.
"Bagaimana rasanya melakukan sesuatu yang harus dilakukan? Apa kau bangga?" Tanya Mo Yeon.
"Tidak mungkin untuk menemukan teman kencan." Jawab Shi Jin.
Mo Yeon tersenyum, begitu rupanya...
lalu Shi Jin bertanya, Mo Yeon sudah pacaran berapa kali?
"Kenapa kau bertanya begitu?"
"Siapa lagi yang akan bertanya begitu?"
Emmm.. Mo Yeon baru akan menjawab tapi tiba-tiba ada ledakan di bawah
mobil, untung Shi Jin gak hilang kendali dan masih bisa menghentikan
mobil di tempat aman, walaupun jadi keluar agak jauh dari jalan.
Mo Yeon takut, apa yang terjadi. Shi Jin akan memeriksanya, ia meminta
Mo Yeon untuk tetap diam di mobil. Shi Jin membuka pintu mobil lalu
mengambil batu terdekat kemudian melemparkannya ke posisi tertentu, tapi
tak terjadi apa-apa.
Mo Yeon bertanya ada apa sebenarnya. Shi Jin menduga kalau mereka sedang
berada di lading ranjau darat. Lalu ia melempar botol minum, pas
mengenai ranjau dan terjadilah ledakan. Mo Yeon menjerit takut.
"Apa itu benar-benar ranjau? Apa kita menginjaknya?" Tanya Mo yeon.
"Iya. Sepertinya gempa memindahkan lokasi mereka."
Shi Jin melarang Mo Yeon pergi kemana pun sendirian karena mereka berada
di tengah-tengah ladang ranjau. Mo Yeon bingung harus melakukan apa,
Ponselnya juga tidak bekerja. Begitu juga walkie-talkie Shi Jin.
Shi Jin minta tas Mo Yeon, lalu ia memasukkan bendera kecil+tiangnya
yang bertuliskan 'awas ranjau' ke dalam tas tersebut. kemudian Shi Jin
menyerahkan tas itu kembali ke Mo Yeon, ia juga mengambil beberapa
peralatan dan mengajak Mo Yeon turun.
"Kita harus keluar dari sini." Kata Shi Jin.
"Bukakah kita dikelilingi ranjau?" Tanya Mo Yeon bingung.
Shi Jin memerintahkan Mo Yeon untuk mengambil langkah persis seperti
yang ia lakukan. Ia tidak akan membiarkan Mo Yeon mati, jadi tak perlu
khawatir.
Shi Jin perlahan-lahan memeriksa stiap tanah yang akan ia injak. mo Yeon
mengikutinya dengan sabar sembari bertanya, Apa yang sebenarnya akan
terjadi jika menginjak ranjau?
"Tidak ada yang dapat kau lakukan. Tidak seperti di film, jika kau menginjaknya, itu akan meledak." Jelas Shi Jin.
tapi kejadian ini malah membuat mereka semakin dekat, karena saat Mo Yeon akan melangkah, Shi Jin mengakonya ke pelukannya.
lalu Shi Jin menemukan ranjau, ia minta bendara ke Mo Yeon lalu menancapkannya ke dekat ranjau tersebut.
"Satu-satunya cara untuk mengalahkan ladang ranjau.. adalah bergerak
pelan-pelan. Cobalah untuk rileks. Dan nikmati pemandangan seksinya."
Saran Shi Jin.
"Ini pasti waktu... ketika lelucon memberimu keberanian."
"Leluconku untuk membuatmu rileks. Sisanya adalah fakta."
"Dasar kau."
dan mereka berjalan langkah demi langkah dengan sangat berhati-hati,
tiap kalai menemukan ranjau, maka Shi Jin menancapkan bendera di
sebelahnya.
Akhirnya mereka sampai di jalan.
"Kau melakukannya dengan baik. Sangat baik." Puju Shi Jin dengan memegang pundak Mo Yeon.
"Sudah berapa kali ini terjadi? Kenapa aku selalu dalam bahaya? Aku juga menghancurkan dua mobil."
"Kau melakukannya. Aku ingin hubungan kita menjadi melodrama.. tapi
berubah menjadi blockbuster. Kau menghancurkan dua mobil, jadi sekarang
aku akan merusak lipstikmu. Kau bawa lipstikmu, 'kan?"
lalu Shi Jin membuat peringatan tanda bahaya dengan menggunakan lipstik
Mo Yeon sebagai alat tulis. Setelah selesai menancapkannya, Shi Jin
mengajak Mo Yeon pergi. Mo Yeon memintanya menunnggu, lalu ia menggambar
tengkorak di tanda yang dibuat Shi jin.
"Tidak semua orang tahu bahasa Inggris." Ujar Mo Yeon.
dan mereka terus berjalan. Mo Yeon tidak mengeluh, ia hanya ingin tahu.
Apa mereka benar-benar harus berjalan untuk kembali ke Markas?
"Untuk saat ini, setidaknya begitu. Kita mengemudi sekitar 40 menit
dengan kecepatan 60km per jam....jadi kita harus berjalan 40km lagi.
Kita akan sampai ke barak saat malam....tapi kalau berjalan begini,
kita akan sampai sana pagi." jelas Shi Jin.
Mo Yeon mendesah.
"Kalau berjalan terlalu membosankan.. Kita bisa berjalan bergandengan tangan." saran Shi Jin.
"Tidak, terima kasih."
Shi Jin kembali mengingatkan kalau Mo Yeon Kau menyebut namanya di
rekaman wasiat. Mo Yeon kembali membantah kalau itu bukan dirinya.
"Aku menyelamatkan hidupmu untuk sesuatu yang tak ada artinya lagi. Apa
kau biasanya....berubah begitu drastis sebelum dan setelah krisis?" lalu
ia bergumam sangat pelan "Dia berbeda di pagi hari dan di sore hari."
"Memangnya seperti apa aku di pagi dan sore hari?" Tanya Mo Yeon.
"Di pagi hari, kau cantik. Pada sore hari, kau... sangat cantik."
"Astaga. Katakan padaku yang sebenarnya. Kau mengencani banyak wanita kan?"
"Kenapa wanita selalu begitu? Mereka marah kalau aku bilang ya....tapi tidak percaya kalau aku bilang tidak.
Mo Yeon balik bertnya, Siapa wanita yang marah dan tidak percaya pada
Shi Jin itu? Shi Jin mengalihkan pembicaraan kalau ada truk lewat lalu
ia lanjut berjalan.
"Oh... Apa Kau mengencani banyak wanita yang cukup untuk mengisi penuh truk itu?" Tanya Mo Yeon.
Mo Yeon melambai untuk menghentikan truk itu tapi tidak berhasil. Shi
Jin merasa kalau penduduk setempat tidak menganggap Mo Yeon cantik. Mo
Yeon tak rela. lalu ada truk lagi. Shi Jin mengeluarkan pistolnya kalau
memang Mo Yeon mau tumpangan, ia bisa mencuri mobilnya.
Mo Yeon menyuruh Shi Jin Diam saja dan ia mulai melambai lagi, namun truk kedua kembali melewati mereka begitu saja.
"Aku suka idemu. Curi mobilnya." kata Mo Yeon putus asa.
Shi Jin menunjuk ke suatu arah, Mo Yeon menengok dan ternyata mobilnya
berhenti. mereka pun menumpang mobil itu untuk kembali ke markas.
"Kurasa semua petani di dunia ini baik hati." ujar Mo Yeon.
"Kau juga berubah sebelum dan sesudah dapat tumpangan." balas Shi Jin.
Mo Yeon mengucapkan terima kasih karena Shi Jin telah menyelamatkan
hidupnya lagi. Shi Jin merasa jauh lebih aman jika Mo Yeon berada
dibelakangnya.
"Aku senang." kata Mo Yeon.
"Dengan orang lain? Jika itu yang terjadi, jangan senang."
lalu Shi Jin menanyakan jawaban yang diberikan Myeong Ju pada Mo Yeon.
"Letnan Yoon mengatakan berpisah dari pacarnya....membuatnya lebih khawatir." jawab Mo Yeon.
"Bagaimana dengan kita? Akankah kita....berpisah segera? Apa namamu ada pada daftar orang-orang....yang kembali ke Korea?"
Mo Yeon menjawab Tidak, ia akan tinggal. Shi Jin menduga pasti bukan karenanya.
"Benar. Aku tinggal karena kau. Aku ingin....menghabiskan lebih banyak
waktu denganmu. Kupikir aku baru saja menyatakan perasaanku. Haruskah
aku meminta maaf?"
"Lalu aku harus bagaimana?"
Dan Shi Jin menarik Mo Yeon lalu menciumnya.
Setelah Shi Jin menyudahi ciumannya giliran Mo Yeon yang menarik Shi Jin.
Mereka sampai di markas, suasana romantic masih menyelimuti, bahkan
lampu yang di bluraja bentuknya love. Tapi mereka jadi canggung banget.
"Kau memiliki hari yang panjang. Aku harus pergi ke barak untuk absen malam." Kata Shi Jin.
"Kau melalui banyak hal, juga. Aku harus memeriksa pasien."
Mereka mengucapkan salam, Shi Jin menghormat dan Mo Yeon menunduk.
lalu mereka berjalan berlawanan arah, rambut Mo Yeon dan Shi Jin sama-sama ada jeraminya.
Dr sang Hyun dan Ja Ae melihat mereka berpisah.
"Mereka akan merasa sangat malu nanti." Ujar Ja Ae.
"Mereka pasti merasa sangat bahagia tadi." Balas Dr Sang Hyun.
Ja Ae ingin memisahkan mereka. Tapi Dr Sang Hyun ingin menaandingi mereka.
Ucapan Dr Sang Hyun itu mendapat tatapan tajam dari Ja Ae,
"Apa?" Tanya Dr Sang Hyun.
"Aku ingin menghajarmu."







































































































Comments
Post a Comment