Setelah kepergian Agus bersama anak buahnya, Ja Ae datang menghampiri Mo Yeon dan menebak mereka adalah orang yang mencoba untuk berbuat jahat pada Fatima.
Mo Yeon kemudian memerintahkan Ja Ae untuk menjaga Sang Hyun sementara dia untuk sementara akan menjaga Fatima.
Ja Ea datang menemui Sang Hyun yang sedang dirawat di ruang isolasi, dan mendapatinya malah sibuk di depan laptop.
Sang Hyun yang merasa dirinya baik-baik saja, bersiap untuk keluar dari ruang isolasi. Dia menegaskan pada Ja Ae gejala awal yang ia alami dimulai dari demam, sakit kepala, sakit di hati diikuti batuk adalah gejala awal M3 yang sama dengan ebola tapi penglihatannya masih jelas sehingga ia tidak khawatir sedikitpun terinfeksi oleh M3. Dia hanya mendiagnosa dirinya terkena sebuah virus, dan hanya sebuah demam yang biasa terjadi.
Karna lega mengetahui Sang Hyun sama sekali tidak terinveksi virus M3 setelah mendengarnya dari Mo Yeon, dia tak bisa lagi mengendalikan dirinya sehingga Ja Ae tiba-tiba saja memeluknya. Ja Ae yang selalu jaga image di depan Sang Hyun, dan tidak pernah menunjukkan perasaannya yang sebenarnya akhirnya kali ini luluh juga.
Tapi, beberapa detik kemudian Ja Ae tersadar tidak seharusnya dia memeluk Sang Hyun, sehingga dia segera melepaskan pelukannya. Hanya saja Sang Hyun tak melewatkan kesempatannya kali ini, dia menarik Ja Ae ke dalam pelukannya.
Sang Hyun tiba-tiba saja memberinya secarik kertas di tangannya. Dia menyuruh Ja Ae melihatnya dan berkata dengan serius: “Konfirmasi dulu ini. Saat kita bersama-sama, saya telah banyak merenung dan saya pikir saya telah menemukan jawabannya.”
Sepertinya Ja Ae berharap isi surat itu adalah sebuah kata ucapan yang spesial untuknya, karna raut wajahnya berubah pucat setelah hanya mendapati sebuah kata “Cefotaxime,” sebuah kata kunci yang ia tujukan untuk penyembuhan Myung Ju.
Sang Hyun menemui Mo Yeon dan melaporkan hasil temuannya dimana setelah membaca hasil laporan kesehatan para dokter di Afrike selatan, rata-rata 85% pasien menunjukkan hasil dimana 53 dari 63 orang, 73 dari 85 orang.
Mo Yeon penasaran bagaimana dia bisa menemukan cara untuk membantu pengobatan Myung Ju, karna cara yang ia gunakan berbeda dari cefotaxime biasa. Sang Hyun awalnya bercanda dengan menjelaskan bahwa dia hanya menganalisa bentuk DNA dari vitrus M3 dan zat kimia yang ada dalam cefotaxime sampai membuat Mo Yeon kagum.
Hanya saja, Sang Hyun segera mengkonfirmasi bahwa semua yang ia ucapkan tadi bohong, yang ia lakukan hanya menghabiskan dengan membaca laporan kesehatan virus M3 dari tahun yang berbeda, satu persatu dengan penuh kesabaran.
Mo Yeon setuju untuk mencobanya, hanya saja dia mendapati obat-obatan yang sekarang ada pada mereka tidak ada dalam daftar obat yang dibutuhkan untuk menolong Myung Joo dan Jin Young Soo sehingga Sang Hyun meminta Ja Ae untuk menghubungi Daniel dan mengantarkan obat yang mereka butuhkan.
Dengan wajah cemberut, Ja Ae memberitahu Sang Hyun bahwa dia sudah menghubunginya, dan segera meninggalkan ruangan.
Mo Yoen melihat sikap Ja Ae sangat aneh, sehingga menebak mereka berdua sedang bertengkar. Sang Hyun lantas menjelaskan dengan santai, ”Dalam sebuah istilah khuhus, itu disebut tarik-ulur.”
Di ruang isolasi, setelah mengukur demamnya, Myung Joo menelpon ayahnya. Dia memberitahu Letjen Yoon bahwa sekarang dia sedang sakit hanya saja dia bingung mengapa ayahnya tidak pernah menelpon sedikitpun, padahal dia sudah tahu keadaannya.
Letjen Yoon berkata pada Myung Joo bahwa dia sudah diberitahu tentang kesempatan selamatnya hanya 50:50, tapi dia merasa sedih karna tidak ada yang bisa ia lakukan sebagai seorang ayah dan tidak ada yang bisa ia perintahkan sebagai seorang Komandan.
Dengan mata yang berkaca-kaca, Myong Joo meminta ayahnya untuk tidak khawatir. Dia meyakinkan ayahnya bahwa dia tidak akan kalah dan akan bisa melewatinya. Hanya saja dia meminta ayahnya untuk mendengarkan baik-baik dua keinginannya.
Di telpon sambil menangis, Myung Ju berkata: “Tolong maafkan saya, ayah. Sebelum saya datang kesini, Letnan Satu, putrimu, Yoon Myung Joo, mengancam bahwa kau akan kehilangan segalanya. Saya yang salah, Ayah.”
Letjen Yoon berusaha kuat di depan putrinya terlepas dari keadannya, dan kemudian bertanya apa keinginannya yang kedua.
Myung Ju menjawab, ”Ketika keadaanku sudah pulih. Jika saya tidak mati, tolong jangan lepaskan seragam militer Sersan Seo. Tolong jangan lakukan itu, Ayah.”
Myung Ju memberitahu ayahnya bahwa dia sebenarnya mendengar perbincangan mereka di Markas Utama Unit Taebaek.
Flashback: Myung Ju keluar dari ruangaan, dan meninggalkan ayahnya berbicara empat mata dengan Dae Young. Dia menutup pintunya, hanya saja langkah kakinya terhenti karna mendengar dari balik ruangan tersebut keinginan ayahnya yang tidak berniat untuk memiliki menantu seorang sersan, kecuali Dae Young melepaskan pakaian seragamnya.
Usai bertemu Letjen Yoon, Dae Young memberitahu Myung Joo tentang persetujuan yang diberikan oleh ayahnya tentang hubungan mereka. Myung Ju sangat bahagia mendengarnya , tapi di sebuah tempat sunyi Myung Joo malah menangis.
Kembali ke masa sekarang, Myung Ju memberitahu ayahnya bahwa dia berpura-pura tidak tahu.
“Maaf, Ayah. Kau mengkhawatirkanku tapi saya mengkhawatirkannya.”
Mendengar ucapannya, Letjen Yoon lantas berkata dengan nada yang sendu: “Ini baru putriku. Kau harus membuatku khawatir seperti ini untuk menjadi putriku.”
Myung Joo kemudian menutup telponnya karna melihat kedatangan Mo Yeon. Tapi, segera setelah dia menutup telponnya, Myung Joo malah jatuh pingsan.
Daniel yang sedang dalam perjalanan membawa obat-obatan yang dibutuhkan oleh Mo Yeon dan Sang Hyun untuk pengobatan Myung Ju, tiba-tiba saja dihadang ditengah jalan oleh sekelompok orang bersenjata.
Sementara, para tim medis bergegas memberi pertolongan pada Myung Joo dimana Mo Yeon mendapati suhu tubuhnya mencapai mencapai 41 derajat. Hanya saja Sang Hyun telah menuangkan peredam demam pada Myung Joo, sayang demamnya tidak semakin lebih baik.
Sementara Dae Young bersama Si Jin dari balik pintu ruang isolasi hanya bisa melihat bagaimana tim medis berjuang yang terbaik untuk menyelamatkan Myung Joo.
Mereka segera menuangkan es batu di sebuah bak mandi, dan membaringkan Myung Joo untuk menurunkan suhu tubuhnya. Sementara Mo Yeon menjelaskan pada Dae Young dan Si Jin tentang keadaan Myung Joo dimana sekarang mereka hanya bisa memberikan pertolongan berdasarkan gejala yang terjadi.
Dia menyampaikan untuk sekarang mereka hanya bisa berharap dengan obat yang disarankan oleh Sang Hyun akan bekerja.
Mo Yeon memberitahu mereka bahwa obat beserta vaksin pencegahan akan segera tiba. Tapi dia tiba-tiba menerima telpon dari Daniel, yang menyampaikan sebuah kabar buruk. Dia memberitahu Si Jin dan Do Yeong bahwa truk yang membawa vaksin tersebut telah dicuri, beserta obat untuk Myung Joo. Dia memperingatkan jika mereka tidak mendapatkannya dalam sejam, maka akan terlalu terlambat.
Si Jin menyarankan agar mereka menangkap orang yang telah mencuri truknya, tapi dia kemudian menerima telpon dari Agus.
Di telpon, dia menuntut Agus untuk mengembalikan obatnya, sementara Agus memberinya sebuah penawaran. Dia memerintahkan Si Jin untuk membawa berlian miliknya, dan berjanji akan mengembalikan truk mereka.
Si Jin datang bersama Dae Young dan Daniel di tempat yang telah mereka sepakati. Dan di tempat tersebut, mereka telah ditunggui oleh anak buah Agus.
Si Jin memberikan berlian yang mereka inginkan, sebagai gantinya anak buah Agus mengembalikan kunci mobil truk yang berisi obat dan vaksin yang telah mereka curi. Daniel kemudian mengemudikan mobil truk tersebut menuju markas, tapi Dae Young yang terlanjur marah karna kondisi Myung Joo menghajar habis-habisan anak buah Agus.
Sementara itu di Medi Cube, melihat wajahnya yang pucat Mo Yeon menyuruh Myung Joo untuk berteriak jika dia memang merasa sakit. Meskipun demikian, Myung Joo berusaha sekuat tenaga untuk menahannya.
Mo Yeon keluar dari Medi Cube untik memeriksa apa truk obatnya telah tiba, hanya saja dia mendapati Fatima ingin dibawa oleh polisi setempat. Polisi tersebut menunjukkan surat penangkapan Fatima kepada Mo Yeon atas tuduhan penjualan obat-obatan di pasar gelap.
Dia memberitahu Mo Yeon bahwa yang menjadi kaki tangan Fatima telah mengaku. Tommy keluar dari mobil dengan keadaan tangan diborgol dan berbisik pada polisi tersebut.
Mo Yeon berusaha membela Fatima, dengan menjelaskan bahwa dia sendiri yang telah memberikan obat-obatan itu hanya saja pihak kepolisian tidak perduli dengan alasannya dan bersikeras akan menangkap Fatima karna telah melakukan sebuah transaksi di pasar gelap.
Tapi, polisi tersebut juga ikut membawa Mo Yeon dengan alasan karna mengetahui dia juga berada di TKP, setelah dibisik oleh Tommy. Sayangnya , tanpa Mo Yeon sadari, polisi tersebut adalah kaki tangan Agus.
Sedang merebus obat rempah-rempah untuk Myung Joo, Kim Ki Bum bertanya pada Ye Hwa karna penasaran, “Mengapa tidak ada obatnya padahal perkembangan obat-obatan telah meningkat begitu banyak selama bertahun-tahun.
Ye Hwa lantas menjawab, “Karna itu adalah obat yang tidak dijual. Jika tidak dijual, maka tidak ada uang. Mereka tidak akan membuatnya jika tidak ada uang.”
Kim Ki Bum tak habis pikir mengapa mereka tidak akan membuat obat hanya karna tidak ada uang padahal ada seseorang yang akan meninggal.
Menanggapi komentarnya, Ye Hwa hanya berkata: “Itulah mengapa orang-orang seperti kita melakukan apa yang diperintahkan untuk tidak dilakukan dan pergi ke tempat dimana kita tidak seharusnya pergi.”
Kim Ki Bum berharap obat rempah-rempah buatannya bisa mujarab untuk Myung Joo. Sementara Min Ji ragu apa obat rempah itu akan berhasil.
Ja Ae memnberitahu Min Ji bahwa sekarang yang mereka bisa lakukan hanya berdoa, dan melakukan apapun yang mereka bisa entah itu obat barat, atau obat oriental ataupun berdoa.
Tapi, Min Ji dan Ja Ae bergegas mengambil obat-obatan yang dibawa oleh Daniel ke Medi Cube setelah dihubungi oleh Sang Hyun lewat walkie talkie.
Bantuan obatnya telah tiba, Myung Joo dan Jin Young So segera disuntikan obat untuk virus M3 yang mereka derita.
Sementara, setibanya Dae Young di markas — dia bergegas berlari ke MediCube untuk melihat keadaan Myung Joo.
Dae Young memegang tangannya yang gemetaran karna dinginnya air es yang ada disekeliling tubuhnya dan menemaninya semalaman. Untungnya, mereka boleh bernafas lega karna suhu tubuh Myung Joo berhasil turun mencapai angka 37.5 derajat celcius.
Keesokan harinya, Si Jin yang dari tadi malam tidak melihat keberadaan Mo Yeon lantas bertanya pada Min Ji.
Min Ji menjelaskan bahwa kemarin polisi datang untuk membawa Fatima sehingga Mo Yeon pergi ke kantor polisi bersamanya. Si Jin sangat terkejut mendengarnya, dan bertanya: “Apa kau yakin mereka adalah polisi Urk?”
Dia bergegas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju kantor polisi untuk mengkonfirmasi keberadaan Mo Yeon dan Fatima. Tapi di tengah perjalanannya Si Jin tiba-tiba saja dikagetkan melihat Fatima berdiri di tengah jalan sehingga dia bergegas membanting stirnya ke kanan.
Si Jin keluar dari mobilnya untuk melihat keadaan Fatima, tapi terdengar suara tembakan yang ternyata mengenai lutut Fatima.
Tapo betapa terlejtunya Si Jin setelah beberapa pria bersenjata muncul dihadapannya bersama Mo Yeon yang menjadi sandera mereka dalam keadaan tangan terborgol dan mulut yang diplester sehingga Si Jin terpaksa menurunkan senjatanya.
Tak berselang lama, dua mobil datang membawa Agus bersama anak buahnya. Dia keluar dari mobilnya, dan datang menghampiri Si Jin bersama Fatima. Dia membalut luka tembakan Fatima dengan syalnya dan mengikatnya dengan kencang, lalu berkata, “Dokter itu sekarang tidak bisa merawatmu.”
Si Jin menyuruh Agus untuk menyingkirkan tangannya dari Fatima hanya saja kali ini Agus balik mengancamnya.
“Apa kau tak lihat apa yang sedang terjadi sekarang? Apa kau mau mati? Atau apa kau mau kekasihmu dibunuh? Sekarang giliranku untuk memberikan perintah sekarang, kapten.”
Si Jin menyerah, dan bertanya apa yang Agus inginkan. Tapi, sebelum menyampaikan keinginannya, Agus memerintahkan anak buahnya untuk memasukkan Mo Yeon ke dalam mobil.
Mo Yeon berjalan masuk ke dalam mobil, sambil wajahnya hanya terus memandangi Si Jin.
Agus kemudian memberitahu Si Jin bahwa senjata akan dikirimkan ke Urk Utara tengah malam, dan dia sepenuhnya sadar bahwa negaranya sendiri akan mencoba untuk membunuhnya setelah kiriman senjata itu tiba.
Dia lantas menegaskan bahwa yang ia inginkan adalah ingin tetap hidup dan mendapatkan uangnya. Sehingga dia memerintahkan Si Jin untuk mencari cara bagaimana membuatnya keluar dari Urk setelah pengiriman senjata berhasil malam ini.
Agus meminta Si Jin untuk kembali menyelamatkannya seperti yang telah ia lakukan terakhir kali.
“Malam ini pukul 2. Kau tidak boleh datang terlalu cepat dan terlalu lambat. Saya tidak akan menjualnya (Mo Yeon) pada dendam pribadi.”
Mendengar permintaannya, Si Jin bersumpah Agus akan mati di tangannya tapi dia hanya tertawa mendengar ancamannya.
Agus kemudian naik ke mobil dan duduk di samping Mo Yeon. Duduk di kursi belakang, Mo Yeon berbalik memandangi Si Jin sambil menangis saat mobil yang membawanya perlahan berjalan menjauh darinya.
Mo Yeon tak kuasa menahan tangisnya berpisah dari Si Jin, sementara Agus berkata padanya, “Saya memiliki kenangan yang indah di Urk. Dan kau orang yang sempurna untuk diajak menghabiskan malam terakhirku.”
Tapi, Si Jin tiba-tiba saja menghubungi Mo Yeon lewat walkie talkie yang dipegang MoYeon dikantong bajunya.
Si Jin berpesan padanya, “Dokter Kang, mulai dari sekarang, dengarkan baik-baik apa yang kukatakan. Saya pasti akan menemukanmu dan saya pasti akan menyelamatkanmu. Kau tahu kan saya seorang pria yang melakukan pekerjaannya dengan baik. Jadi, jangan takut dan jangan menangis. Saya secepatnya akan menemukanmu.”
Mo Yeon menangis dengan tersedu-sedu mendengar pesan Si Jin, tapi Agus tak ingin berlama-lama memberikan kesempatan bagi mereka untuk berkomunikasi sehingga dia mengambil walkie talkie dari saku baju Mo Yeon dan membuangnya.
Si Jin datang ke markas utama Unit Taebaek dan menceritakan kejadian yang menimpa Mo Yeon dan rencana Si Jin untuk menyelamatkannya kepada Byung Soo.
Tapi, keinginan Si Jin untuk menyelamatkan Mo Yeon membuat geram Komandan Byung Soo.
“Menyelamatkan seorang sandera? Apa kau bagian dari tim Alpha sekarang huh? Kau bukan siapa-siapa tapi sekarang hanya seorang prajurit yang dikirim. Kau hanya seorang petugas militer yang berada ditempat ini untuk memulihkan kedamaian,” ucap Byung Soo dengan nada yang meluap-luap.
Tapi meskipun telah diperingati oleh atasannya, Si Jin tetap bersikeras akan pergi menyelamatkan Mo Yeon.
Byung Soo sudah dipusingkan dengan keputusan Si Jin, masih harus menghadapi pangilan tiba-tiba dari Blue House (Gedung Biru) dan Letjen Yoon
Byung Soo menyambungkan saluran telpon dari Blue House, dan seorang pejabat pemerintah segera bertanya untuk mengkonfirmasi apa benar telah terjadi sebuah insiden penculikan.
Park Byung Soo memberi isyarat agar Si Jin tidak bicara, sementara Byung Soo berusaha menutup-nutupinya.
Hanya saja Si Jin tiba-tiba angkat bicara, dan mengkonfirmasi bahwa telah terjadi sebuah penculikan. Si pejabat istana presiden bertanya apa benar yang ia katakan karna sebelumnya telah mendengar cerita yang sedikit berbeda dari CIA. Sehingga Si Jin kembali menegaskan bahwa memang telah terjadi sebuah insiden penculikan.
Si Jin bermaksud untuk menceritakan kejadian proses penculikannya, tapi si pejabat tersebut langsung memotong ucapannya. Dia memberitahu Si Jin akan akan segera melakukan pertemuan singkat dengan pihak militer Amerika, dan berjanji akan segera menghubunginya setelah pembicaraan tersebut selesai. Dia kemudian memerintahkan Si Jin untuk menutup rapat-rapat insiden ini sampai mereka mendapatkan situasi yang jelas.
Tapi, Si Jin dibuat jengkel dengan keputusannya yang lebih memilih untuk menunggu.
“Kita tidak punya waktu lagi untuk menunggu,” teriak Si Jin.
Sehingga dia memutuskan akan melakukan sendiri penyelamatan terhadap sandera, hanya saja si pejabat dibuat geram dengan keputusannya karna tidak setuju.
Si pejabat tak habis pikir karna untuk kedua kalinya Si Jin membangkang dengan perintahnya dimulai dari pasien VIP Arab dan sekarang masalah sandera. Dia mengingatkan hal ini bukan hanya tentang situasi hidup dan mati seseorang, tapi juga masalah bangsa.
Menanggapi responnya yang terkesan cuek dengan masalah yang menimpa Mo Yeon, Si Jin berkata di telpon: “Saya tak tahu dimana tanah air anda tapi saya akan melindungi milikku pak.”
Byung Soo terpaksa memerintahkan anak buahnya untuk menghentikan Si Jin melewati pintu gerbang yang ingin meninggalkan markas utama Unit Taebaek.
Si Jin bersikeras akan menabrak pintu gerbang markas jika para prajurit tetap berusaha menghalanginya. Tapi seorang pasukan mendatangi Si Jin dan menyerahkannya telpon dari Letjen Yoon.
Di telpon, Letjen Yoon berpesan pada Si Jin, “Hanya selama tiga jam, saya tidak akan mengetahui keberadaanmu. Selama tiga jam itu, kau bukan bagian dari Tim Alpha ataupun kau bukan komandan kompi dari markas militer Taebaek Mohoru. Kau juga bukan seorang kapten dari tentara Republik Korea.”
“Apa kau menentangnya,” tanya Letjen Yoon, dan Si Jin menjawab tidak.
Si Jin tiba di markasnya, dan menghubungi Dae Young lewat walkie talkie untuk mengetahui keadaan Myung Joo.
Dae Young memberitahu keadaan Myung Joo yang masih belum siuman, hanya saja demamnya sudah turun.
Dia lega mendengar keadaannya yang sudah jauh lebih baik. Tapi, Si Jin kemudian memberitahu Dae Young bahwa dia akan keluar sehingga tidak akan sempat menemuinya sebelum pergi.
Dae Young ingin bertanya tentang rencana kepergian Si Jin, tapi dia tidak jadi menanyakannya lebih lanjut karna Myung Joo tiba-tiba siuman.
Sebelum pergi dalam misi penyelamatannya untuk Mo Yeon, Si Jin melepaskan seragam militernya dan mengenakan pakaian serba hitam juga lengkap dengan sebuah topi hitam di kepalanya.
Setelah itu, dia kemudian datang ke bar langganannya untuk mengambil senjata.
Sementara di tempat persembunyiannya, Agus kemudian melepaskan plester yang menutup mulut Mo Yeon.
Mo Yeon lantas bertutur padanya, “Saya tidak tahu mengapa kau membawaku kesini, tapi jika kau memintaku untuk memberimu bagian tubuhku yang bernilai, maka lupakan saja hal itu. Saya lebih punya banyak hutang dibanding uang.”
Agus tertawa mendengar ucapannya, tapi dia lantes memuku wajah Mo Yeon sampai membuat bibirnya terluka.
Dia kemudian menodongkan senjatanya ke kepala Mo Yeon dan berkata, “Sekarang, berapa kali sudah kuberitahu? Kau bisa saja terkena tembakan ketika berada di dekat seorang pria yang memegang senjata.”
Agus menurunkan senjatanya, dan berkata, “Big Boss (Si Jin) adalah orang yang lucu, pintar dan misterius. Tapi dia mempunyai banyak rahasia. Dia akan menghilang dari waktu ke waktu dan akan sulit untuk dihubungi dan kemudian suatu hari dia tidak akan pernah kembali. ”
Dia kemudian menasihati Mo Yeon untuk putus dengan Si Jin, sayangnya Mo Yeon tak sedikitpun terpengaruh dengan ucapannya.
Mo Yeon menatap Agus dengan penuh keberanian dan berkata, “Kau mengatakan hal seperti itu sementara kau menerima sebuah amplop yang penuh dengan uang. Mengapa kau menyuruhku untuk putus sementara kau tidak menawarkanku apapun. Kau penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang kukatakan, kan? Baiklah, hal itu bukan urusanmu. Kau sampah sialan”
Sementara itu, Dae Young berusaha menghubungi Si Jin lewat wakkei talkie maupun ponselnya, tapi tidak ada jawaban sedikitpun.
Dae Young kemudian bertanya kapan Si Jin pergi, dan Woo Geun memberitahu Dae Young bahwa Si Jin melewati gerbang utama pukul 27:30.
Dia kembali bertanya tentang keberadaan Mo Yeon, dan Woo Geun sekali lagi menjelaskan bahwa Mo Yeon tadi malam pergi ke kantor polisi lokal tapi belum ada laporan tentang kepulangannya.
Mendengar laporannya, seketika itu wajah Dae Young berubah pucat, sehingga Woo Geun bertanya apa telah terjadi sesuatu.
Dae Young berbalik ke atas ranjang Si Jin dan berkata pada Woo Geun,”Ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi,” dimana kita melihat di atas ranjang tersebut ada seragam yang bernoda darah dan kalung ID tag Si Jin yang ia tinggalkan.
Sementara itu, Si Jin menghubungi seorang pengawal pribadi VIP dari Arab yang pernah ditolong oleh Mo Yeon untuk meminta bantuan yang kedua kalinya.
Si Jin berkata: “Saya akan menggunakan kartu terakhirmu. Saya membutuhkan sebuah helikopter. Untuk kembali berkencan.”
Dan kita melihat Si Jin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Sumber Dok Gambar: KBS 2
Comments
Post a Comment