Semua Dok Gambar KBS 2TV Korsel
Lalu
Shi Jin berkata ke Letnan Ahn Jung-Joon, Shi Jin,”Apa kamu mengkhianati
tanah airmu ? Atau tanah airmu yang mengkhianatimu ?”. Tanpa ketakutan
dengan senjata Shi Jin, letnan Jung Joon mendekati Shi Jin, dan memaksa
tangan Shi Jin untuk menembak kedadanya, Jung Joon menegaskan seorang
prajurit sejati tidak akan pernah mengkhianati tanah airnya.



Lalu kembali ke masa lalu, saat letnan Jung Joon berhasil membunuh seorang penjahat, Jung joon mengangkat telepon penjahat itu, dan menerima panggilan dari seorang jenderal dari Korut. Di dalam percakapan telepon itu, jenderal Korut bertanya siapakah yang masih hidup apakah dari pihak Korut ataukah Neptune. Jung Joon menjawab,”Bapak Pimpinan..”. Jenderal Korut,”Kamu seperti pahlawan yang mengerek pelatih”.



Jung Joon pun bertanya apakah rencana pengkhianatan sudah dilakukan jenderalnya sendiri. Sang jenderal hanya tertawa lepas dan menegaskan pengkhianat sesunguhnya adalah letnan Jung Joon sendiri. Akhirnya Jung Joon ingin lari, namun dia dihadang oleh kumpulan tentara paskas sepertinya dari Jepang. Jung Joon tertangkap dan tidak bisa pergi kemana2.



Kembali ke masa sekarang, letnan korut Jung Joon meminta Shi Jin untuk menembakkan pistolnya ke arahnya. Jung Joon meminta Shi Jin memberikannya kesempatan untuk bisa lari. Shi Jin,”Bila kamu lari ke Korut, mereka akan pasti membunuhmu. Tak perduli pengkhinatnya adalah dirimu dan republikmu”.

Jung Joon menegaskan dia memiliki sebuah misi untuk diselesaikan di Korut. Shi Jin bersikukuh bahwa Jung Joon akan meninggal jika tetap memaksakan diri pergi ke Korut. Jung Joon,”Bahkan jika harus meninggal, Saya akan meninggal di Korut. Tolong biarkan aku pergi”. Shi Jin tak bergeming dan langsung menodongkan senjatanya ke muka letnan Jung Joon, Shi Jin,”Saya tentunya adalah tentara yang mengikuti perintah yang diberikan. Aku tak bisa membiarkanmu pergi”.

Akhirnya letnan Jung Joon pun dibawa oleh beberapa agen khusus di sebuah mobil. Letnan Jung Joon berada di sebuah mobil dengan kondisi tetap diborgol. Saat sedang diborgol, Jung Joon melihat sebuah makanan ringan. Kembali ke masa lalu saat Shi Jin memberikan Jung Joon sebuah makanan ringan sebagai sebuah ucapan selamat jalan. Shi Jin,”Ini rasanya enak, jadi makanlah dengan seksama”.

Kala itu, Jung Joon sudah dikawal dengan banyak agen Korsel, termasuk Dae Young. Kembali ke masa sekarang, letnan Jung Joon menyimpan makanan ringan pemberian Shi Jin itu di saku celananya. Keesokan harinya Shi Jin bertemu dengan Mo Yeon. Mo Yeon,”Apa kamu berjumpa temanmu dengan selamat ?”.

Mo Yeon menjelaskan Jung Joon pergi dari perawatan di RS Haesung tanpa ijin dokter, sambil memandangkan wajahnya ke jendela yang pecah kacanya. Shi Jin,”Kita enggak sedekat itu sehingga dia bilang selamat tinggal padaku”. Shi Jin lalu berpura2 merasakan sakit di bagian tubuhnya.

Mo Yeon,”Apa kamu yang memecahkan kaca jendelanya ?”. Shi Jin,”Bukan saya yang ngelakuinnya. Pria yang keluar yang merusaknya”. Lalu Mo Yeon kembali bertanya apakah Shi Jin yang merusak kaca jendela di bagian lantai bawah. Shi Jin menjawab,”teman itu yang juga merusaknya”.
Akhirnya Mo Yeon menginginkan Shi Jin serta temannya Jung Joon yang harus membayar biaya kerusakan di RS Haesung. Shi Jin menangapi,”Seperti yang saya bilang, kita enggaklah sedekat itu..”. Mo Yeon kesal karena ulah Shi Jin ini menyebabkan Mo Yeon harus dimarahi dengan Chariman Han. Shi Jin,”Dimana si Chairmannya ?”.

Shi Jin tak senang Chairman Han mengganggu wanita seperti Mo Yeon, Mo Yeon menyinggung,”Karena pacarku diterima di RS dengan prajurit dari Korut”. Akhirnya Shi Jin terdiam, dan Mo Yeon mendapat panggilan telepon. Mo Yeon meminta Shi Jin untuk menghabiskan infusnya hingga akhirnya, dan dalam dua jam kemudian Mo Yeon akan kembali menemui Shi Jin. Mo Yeom menyuruh Shi Jin untuk menunggunya.

Shi Jin seperti anak2 didepan Mo Yeon, Mo Yeon menyuruh Shi Jin tak pergi kemanapun. Lalu Ji Soo dan Hee Eun berbicang bersama di tengah kondisi Hee Eun yang sedang hamil tua. Ji Soo,”Jadi kamu menggunakan sesar dalam perawatanmu sebelum melahirkan. Kamu bilang lagi seminggu lagi kan ?”. Hee Eun,”Yah, minggu depan”.

Lalu Hee Eun menyinggung tentang kabar Shi Jin, sebagai pacar Mo Yeon dan bermuka tampan. Ji Soo malah merasa Shi Jin bukan seorang yang tampan karena Shi Jin datang ke RS Haesung dengan seorang prajurit Korut yang ditembak. Hee Eun,”Saya dengar juga orang Korut itu tampan..”. Tak lama tiba2 saja Eun Ji muncul dan menyinggung Hee Eun tentang pakaiannya yang masih menggunakan seragam bedah, Eun Ji,”Tidakkah kamu pikir pasien akan ngerasa terbeban ?”.

Namun Ji Soo lalu menyinggung Eun Ji sendiri apakah sudah meninggkatkan kemampuan ilmu bedahnya, maklumlah Eun Ji pernah malpraktik dan untung ditolong oleh Mo Yeon. Eun Ji marah,”Hey, selalu mengenakan gaun. Jadi orang tak bisa membedakan apakah kamu pasien atau dokter”. Eun Ji dan Ji Soo bertengkar satu sama lain. Namun Hee Eun yang jengkel dengan sikap Eun Ji langsung menarik rambutnya. Karena Hee Eun dan Eun Ji bertengkar seperti anak kecil, malah menyebabkan air ketuban Hee Eun malah keluar. Ji Soo,”Saya pikir bayinya akan segera lahir”.

Namun tangan Hee Eun belum saja lepas dari rambut Eun Ji. Karena kondisi itu, Ji Soo menyuruh Hee Eun menaruh semua tekanan di tubuhnya pada bagian lengannya. Tanpa berpikir panjang, Hee Eun yang kesakitan karena akan bersalin menarik rambut Eun Ji sekuat2nya, sambil menghela nafas keluar.

Tak lama seorang dari pihak administrasi RS Haesung mendatangi Mo Yeon. Pria itu menyinggung tentang dua kaca jendela rumah sakit yang pecah. Pria itu juga menyinggung tentang Mo Yeon yang adalah wali dari Shi Jin. Karena kondisi dua kaca RS yang pecah tanpa adanya bencana, akhirnya pria itu ingin menagihkan semua biaya perbaikan ke Mo Yeon, sesuai perintah dari Chairman Han.

Chi Hoon juga setuju akan hal itu. Mo Yeon dan Chi Hoon saling bertengkar tentang Shi Jin, Mo Yeon,”Pasien, Yoo Shi Jin, tidak memecahkannya. Prajurit Korut yang merusaknya”. Chi Hoon,”Namun prajurit Korut itu dipindahkan ke Korut”. Tak lama Chi Hoon mendapat telepon bahwa tentang Hee Eun yang sudah bersalin, Chi Hoon buru2 bertemu dengan istrinya, sedangkan Mo Yeon juga kegirangan lalu pergi.

Disisi lain, akhirnya Jung Joon bertemu dengan jenderalnya sewaktu di Korut tadi. Jenderal Korut,”Penjuru Joseon Selatan sedang membicarakan tentang reuni inter Korea tentang pemindahan keluarga. Mereka bilang bahwa masa depan bergantung pada negosiasi perdamaian”. Jenderal Korut ini menyinggung perjanjian pertemuan 100 keluarga Korut dan Korsel. Lalu jenderal itu menyuruh semua agen khususnya meninggalkan ruangannya. Lalu jenderal itu berbincang dengan Jung Joon. Jenderal Korut ini berujar tentang pikirannya yang tak salah,

Jenderal,”Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, adalah dengan ancaman dibandingkan percakapan; kegelisahan daripada kedamaian. Senang melihat wajahmu”. Lalu jenderal Korut itu memegang dengan keras tubuh Jung Joon, dan Jung Joon memberikan salam militer ala Korut kedepan jendralnya. Jung Joon berujar akan melaporkan misi Neptune no 51. Jung Joon,”Saya sudah melaksanakan hukuman Polaris buat tindakannya yang mengkhianati kehormatan prajurit Korut”. Jenderal,”saya sudah dengar berkasnya juga sudah aman. Dimana berkasnya ?”.

Jung Joon tak berbicara apapun saat sang jenderal bertanya tentang berkas rahasia yang dimintanya. Seperti yang sudah dilatihkan kepada para prajurit Korut, sang jenderal curiga Jung Joon menyembunyikan berkas yang dimintanya dalam tubuh Jung Joon sendiri. Lalu sang jenderal membuka jendela ruangannya, dan ada sinar inframerah bidikan senjata dibagian dada Jung Joon. Jenderal,”Rahasia itu seharusnya dikubur bersama dengan jenazah”. Jung Joon,”Dalam meja peringatanku (abu jenazah kepercayaan Korut), hanya taruhkan saya semangkuk mie gandum Pyongyang. Jika mungkin, saya akan memintamu untuk membuat mie gandum Koryo Hotel”.


Sang jenderal menjawab apa yang diminta Jung Joon tak sulit untuk dilakukannya. Jung Joon merasa karena dia sudah melakukan apa yang diperintahkan padanya, Jung Joon hendak melakukan kewajiban terakhirnya. Akhirnya Jung Joon pun memberikan hormat salam militer Korut kepada sang jenderal, Jung Joon,”Atas nama republik Korut, pengkhianat Departemen Keamanan Negara, Saya akan menghukum mati Choi Jung Ho”.

Lalu letnan Jung Joon berteriak dan hendak membunuh sang jenderal dengan sebuah pecahan minuman. Jung Joon mengarahkan pecahan botol minuman itu ke sang jenderal dan membunuhnya. Namun dari kaca jendela, Jung Joon malah kena tembakan dan terlihat seperti meninggal tewas. Lalu sang jenderal meninggalkan tubuh Jung Joon yang tak berdaya. Nama jenderal ini adalah Choi Jung Ho.

Jenderal Jung Ho bertemu dengan seorang staff Korsel dan menyerahkan sebuah berkas. Berkas itu terkait perjanjian pertemuan keluarga dua negara yakni Korut dan Korsel. Jenderal,”Jangan biarkan orang dari Korsel hendak bicara ?. Saya bilang kita harus tetap bicara. Sebelum kondisinya dibereskan, tak ada negosiasi”. Staff,”Kondisinya terdaftar disini, Apakah kita setuju dengan pertemuan perpisahan keluarga atau tidak, apa masalahnya ?. Lupakan komunikasi Korut dan Korsel”.

Lalu Jenderal Jung Ho membicarakan bagaimana komunikasi antara Korut dan Korsel tak membutuhkan juru bahasa. Jenderal Jung Ho,”Saya akan melalukan apa yang saya dengar sebagai jawab, dan akan maju diluan”. Lalu sang jenderal Jung Ho hendak pergi, namun staf itu memintanya untuk melihat apa yang diberikannya sebelum pergi. Lalu Jenderal Jung Ho melihat sebuah berkas rekening bank di ipad, Staff,”Sepertinya kamu mendapatkan beberapa dollar setelah menjual anakmu. Berapa banyak disini ?”.



Tak lama saat sang jenderal Jung Ho keluar, namun dia ditahan oleh beberapa agen Korsel. Sang Jenderal tak mengerti mengapa dia dihadang. Lalu seorang agen Korsel itu menjelaskan bahwa ada perintah yang diperintahkan pada mereka untuk mengirim Letnan Senior Jung-Joon ke Pyeongyang. Jenderal Jung Ho terkaget mendengar bahwa Letnan Ahn Jung Joon masih hidup. Kembali ke masa lalu saat Ahn Jung Joon masih bersama jenderal Jung Ho di hotel Goryo.

Saat itu, jenderal Jung Ho membuka jendela dan ada sinar infra merah bidikan senjata di tubuh Ahn Jung Joon. Namun sang jenderal tak tahu sinar infra merah senapan itu berasal dari bidikan Shi Jin. Penembak jitu yang hendak membunuh Ahn Jung Joon sudah diringkus oleh para anggota paskas tim Alpha Korsel. Dan Shi Jin yang menggantikan posisi penembak jitu yang hendak membunuh Ahn Jung Joon. Kembali ke ruangan hotel, Jenderal,”rahasia akan dikuburkan selamanya bersama jenazah pengkhianat”.


Shi Jin mendengar percakapan keduanya lewat alat komunikasi radio yang dipasang di telinga Shi Jin. Saat silam itu, Shi Jin dengan tepat mengarahkan bidikan senjatanya ke bagian dada Letnan Jung Joon. Shi Jin mendengar percakapan keduanya lewat chip yang ada di celana Jung Joon. Makanan ringan yang diberikan oleh Shi Jin ke Jung Ho sewaktu di RS Haesung sebenarnya sudah dipasang alat perekam oleh Shi Jin.


Shi Jin menembak namun tidak tepat ke arah bagian dada Letnan Jung Joon, Shi Jin,”passwornya sudah dikatakan. Passwordnya adalah…”. Lalu Byung Soo juga melacak lokasi GPS di Hotel Goryo. Lalu Jung Joon berkata dan didengar oleh Shi Jin, Jung Joon kecewa dengan pasukan khusus Korsel, kerena Shi Jin tak menembakan peluru senjatanya dengan tepat di dadanya. Shi Jin hanya tersenyum mendengar sindiran Jung Joon itu.Lalu agen Korsel pun masuk ke ruangan Jung Joon di hotel Goryo Seol, dan memborgolnya. Namun sebelum diborgol, Jung Joon hendak mencicipi makanan ringan yang sempat diberikan oleh Shi Jin.

Jung Joon berterima kasih kepada Shi Jin yang sudah menolongnya. Jung Joon,”Saya kini bisa kembali ke negaraku, dan saya bisa meninggal disana sebagai prajurit. Makasih”. Jung Joon menghabiskan makanan ringan yang diberikan oleh Shi Jin. Lalu Shi Jin masuk kedalam hotel Goryo Seoul, dan melihat bungkusan makanan ringan yang diberikannya yang sudah terdapat chip di dalamnya.

Lalu staf yang bertemu dengan jenderal Jung Ho melihat sebuah berkas “Perjanjian Khusus Kedua antara Korsel dan Korut”. Anak buahnya datang dan memberitahukan tentang pembatalan agenda makan siang jenderal Choi Jung Ho, dan sang jenderal sudah dikirim ke Pyungyang. Sekretaris,”Namun, apakah baik2 saja menyerang salinan asli lewat perdaganan politik ?”. Staff,”Kenapa ? Ada masalahnya dengan itu ? Kita punya banyak duplikasinya”.

Lalu staff itu menjelaskan ada seseorang yang bernama Jenderal Park, yang berada juga berada dibelakang Jenderal Chou Jung Ho. Staff itu sudah mengirim Jenderal Park sebuah email. Staff,”Korsel sungguh kuat dibidang IT. Politik seharus berdasarkan pada pendirian susila. Orang yang melakukan hal buruk seharusnya dihukum. Keadilan akan menang. Penghargaan kebajikan dan penghukuman si jahat”. Lalu staff korsel itu pun hendak menghadiri konferensi pers.

Lalu Shi Jin kembali ke RS Haesung setelah misi menolong letnan Jung Joon. Dae Ho berada di kamar perawatan Shi Jin mengintip melihat Mo Yeon. Dae Young,”Dia datang.. 10 meter”. Shi Jin berusaha untuk mengganti pakaiannya sewaktu menjalankan misi tadi. Lalu Mo Yeon masuk dan Dae Yojung buru2 membantu Shi Jin mengganti pakaiannya.

Saat Mo Yeon masuk dia melihat Shi Jin terbaring, dan Dae Young berpura2 membaca buku. Dae Young,”Kapten tim lagi ketiduran”. Mo Yeon,”Bagus dia tidur banyak”. Melihat pakaian Dae Young, Mo Yeon bertanya apakah Dae Young pergi ke sebuah tempat sebelum datang menjeguk Shi Jin. Dae Young,”Oh.. bagaimana bisa begitu”. Lalu Mo Yeon pun berpura2 pamit pergi. Shi Jin bangkit dari tempat tidurnya, dan Dae Young mengganti celana Shi Jin. Disaat bersamaan Mo Yeon malah masuk kedalam kamar Shi Jin kembali dan melihat keadaan keduanya.

Shi Jin berpura2 menyamar kembali jadi Dae Young, namun Mo Yeon tahu akan hal itu. Mo Yeon,”Kamu melalui banyak masalah menjadi sersan Seo yang ada ditempat tidur”. Mo Yeon merasa sudah rugi mempercayai keduanya. Shi Jin,”Kenapa kamu disini ?”. Akhirnya Mo Yeon pun pergi. Dae Young,”Kejahatan sempurna ? Apa yang kamu lakukan dengan biaya jendelanya ?”. Shi Jin,”saya bilang saya enggak terbaring di tempat tidur”. Dae Young,”Saya bilang saya enggak jantan”, sambil bergaya banci”.

Lalu Mo Yeon bertemu dengan Myeong Joo disebuah ruangan tunggu RS Haesung. Myeong Joo dan Mo Yeon saling bertegur sapa. Mo Yeon bertanya apakah kedatangan Myeong Joo untuk menjeguk Shi Jin. Myeong Joo menjawab,”Yah.. dia enggak meninggalkan kan”. Mo Yeon juga memberitahukan bahwa ada sersan Seo di ruagan Shi Jin.

Myeong Joo tahu akan hal itu karena dia melihat mobil sersan Seo di parkiran. Mo Yeon,”Apa kamu bertengkar dengan Sersan Satu Seo ?”. Myeong Joo,”Enggak..Kami putus. Dia sekarang adalah seseorang yang tak hubungannya denganku”. Mo Yeon kaget mendengarnya. Mo Yeon mengambil kesimpulan Shi Jin dan Dae Young adalah dua orang bodoh. Mo Yeon,”Negara lebih baik tak menemukan kedua orang seperti itu”.

Meskipun mengaku sudah putus, Myeong Joo masih bertanya ke Mo Yeon apakah Dae Young tak terluka. Mo Yeon menjawab,”Bukannya kamu bilang kamu tak ada hubungan dengannya”. Myeong Joo,”Saya hanya bertanya sebagai dokter. Lalu saya akan pergi”. Lalu Myeong Joo pun pergi, Mo Yeon,”Kehidupan cinta mereka juga”, sambil menghela nafasnya. Lalu Myeong Joo pun masuk ke ruangan Shi Jin. Namun Myeong Joo hanya bersikap diam membisu tak bicara kepada Dae Young.

Myeong Joo berkata ke Shi Jin, Myeong Joo,”Pacarmu sungguh kuatir diluar. Haruskah saya menelponnya ?”. Shi Jin,”Enggak usah. Saya sudah kuatir banyak dan pergi”. Kemudian Myeong Joo memberikan Shi Jin sebuah hadiah, Shi Jin menghentakkan suaranya menyuruh Dae Young untuk menawarkan Myeong Joo sebuah kursi. Namun Dae Young tak menanggapi suruhan Shi Jin itu, Dae Young,”Saya biarkan kalian bicara”. Myeong Joo,”Saya akan pergi”. Shi Jin,”Jika kalian berdua pergi, lalu siapa yang tinggal sama aku ?”. Lalu Shi Jin mengungkit tentang Dae Young yang tadi berbaring di tempat tidurnya, sambil merapikan rambutnya tadi dengan bergaya seperti banci.


Dae Young meminta Shi Jin untuk berhenti bercanda. Shi Jin tetap tak berhenti bercanda, dan memperagakan gaya Dae Young tadi yang bergaya ala banci. Karena kesal, Myeong Joo pun menyebut keduanya seperti seorang bodoh dan pergi. Shi Jin lalu menyebut Dae Young seorang yang bodoh, Shi Jin,”Saya melakukan yang terbaik untuk bisa membantumu”. Dae Young,”Saya menghentikanmu karena kamu seperti itu”. Shi Jin bertanya mengapa keduanya putus, dan Dae Young langsung menjawab,”Saya mengisi formulir…pemberhentian”. Shi Jin kaget mendengar Dae Young yang tiba2 berhenti dari militer.

Dae Young mengaku hanya itu pilihan yang bisa dilakukannya. Shi Jin,”lakukan apa ?”. Dae Young,”Saya minta maaf..”. Shi Jin tak menyangka Dae Young mengambil keputusan secara sepihak. Shi Jin,”Saya sungguh kecewa..”. Shi Jin bertanya apakah Letjen Yoon tahu akan hal itu. Dae Young menjawab,” Myeong Joo juga disana saat saya bertemu dengan Komandan”.

Akhirnya Shi Jin menyuruh Dae Young untuk cepat pergi dari ruangannya dan menahan memeluk Myeong Joo, karena Myeong Joo seorang wanita yang sudah mengorbankan hidupnya buat Dae Young. Shi Jin,”Jangan buat dia menunggu terlalu lama”. Atas saran Shi Jin itu, Dae Young mencari Myeong Joo dengan gelisah. Disebuah perhentian, Dae Young pun merasakan kehadiran Myeong Joo. Myeong Joo hanya bersikap diam menyadari kehadiran Dae Young.


Myeong Joo hanya menitihkan airmatanya. Lalu Sang Hyun serta Ja Ae melihat keduanya, Ja Ae,”Apa yang kamu pikirkan diantara mereka berdua ?”. Sang Hyun,”Keduanya sedang bertengkar, namun Lettu Yoon putus demi kepentingan Sersan Seo. Itulah mengapa dia tak bisa menemukan Lettu Yoon. Karena Lettu Yoon seorang wanita yang baik”.

Lalu Ja Ae menanggapi pendapat Sang Hyun, Ja Ae melihat Dae Young sepertinya tahu Myeong Joo sedang bersembunyi. Ja Ae melihat Dae Young sebenarnya ingin memegang dan memeluk Myeong Joo, namun dia tak bisa. Ja Ae,”demi kepentingan kebanggaan Lettu Yoon dia mencoba keras untuk sembunyi. Karena sersan satu Seo lelaki yang baik”. Sang Hyun pun mengajak Ja Ae untuk jalan2 bersamanya untuk berbelanja, Ja Ae,”Apa yang akan kamu beli ?”.

Lalu Sang Hyun mengajak Ja Ae berjalan2 untuk membeli sebuah mobil baru. Pasalnya Sang Hyun sudah berjanji akan membeli sebuah mobil baru bila kembali ke Korsel, setelah mempertaruhkan nyawanya di Urk. Ja Ae,”Gimana jika kamu tak meninggal setelah menghabiskan semuanya ?”. Sang Hyun,”Meskipun saya enggak berpikir itu, Saya akan membeli mobil baru. Pilihlah yang mana kamu sukai ?”.

Lalu Ja Ae memilih sebuah mobil berwarna biru. Sang Hyun narsis mengatakan Jae Ae sepertinya menyukainya. Ja Ae mengaku menyukai Sang Hyun, namun sang Hyun sendiri ingin tahu mengapa Ja Ae menyukainya, Sang Hyun,”Hey.. kamu hanya menyukaiku. Kenapa kamu menyukaiku ? Apa kamu menyukaiku ? Kenapa ?”. Ja Ae meminta Sang Hyun untuk segera memesan mobil Hyundai biru yang dipilihnya karena lapar, dan sang suami pun melakukannya.

Sebaliknya Mo Yeon melihat sebuah berita tentang,”Pihak pemerintah Korut dan Korsel memutuskan untuk mengadakan pertemuan reuni buat 100 orang keluarga bulan depan”. Di dalam berita disebutkan bahwa ini pertama kalinya kedua pemerintah serumpun ini melakukan pertemuan bersama dalam 5 tahun. Mo Yeon sedang melihat jalinan hubungan baik dua negara serumpun ini terlaksana. Lalu Mo Yeon melihat di TV bagaimana pertemuan 100 anggota keluarga dua negara serumpun Korsel dan Korut terjadi. Shi Jin juga melihat berita itu di TV.

Tak lama Mo Yeon pun masuk di kamar Shi Jin. Selepas jaga malam, Mo Yeon pun mengunjungi kamar Shi Jin. Shi Jin,”Kamu enggak pulang ke rumah ?”. Mo Yeon,”karena saya walimu hingga malam ini”. Shi Jin serasa ingin mau pergi dari RS Haesung, dia tak ingin tinggal lama seperti seorang yang lemah. Namun Shi Jin tetap senang bisa melihat muka Mo Yeon setiap dua jam. Mo Yeon,”Kamu sunggun menyukainya, namun kamu masih sering keluar ?”. Mo Yeon ingin tahu kemana Shi Jin pergi barusan. Shi Jin mengaku berada di atas atap kamarnya karena ingin merasakan udara segar.

Mo Yeon,”Saya akan mengecek atapnya”. Shi Jin,”Saya enggak bilang atap dari gedung ini”. Mo Yeon,”Apa kamu pergi ke swalayan lagi dengan temanmu ? Namu kenapa kamu kembali sendiri ?”. Shi Jin,”Karena kami memiliki jalan kecil untuk diikuti”. Lalu Shi Jin mengaku lagi tak enakan badan. Sebagai gantinya Shi Jin meminta Mo Yeon menghiburnya dibandingkan mengomelinya. Mo Yeon,”Kenapa kamu enggak enakan ?”. Mo Yeon ingin tahu apalagi misi rahasia yang dilakukan oleh Shi Jin, dan berusaha untuk disembunyikannya. Akhirnya Shi Jin berkata jujur, Shi Jin,”Saya melindungi kedamaian di semenanjung Korea, namun ini adalah malam ketidakpastian dari kehidupan temanku”. Mo Yeon,”dan pacarmu mengkhawatirkanmu”. Lalu Shi Jin mengajak Mo Yeon untuk tidur disampingnya merasakan ranjang orang sakit. Shi Jin,”Manjatlah disini..”.

Akhirnya Mo Yeon tidur disamping Shi Jin, namun bukan di tempat tidurnya. Shi Jin,”Gimana bisa dia menolaknya ? Kenapa kamu sulit bagiku?”. Shi Jin merasakan dia seorang pasien yang membutuhkan perhatian, Mo Yeon menanggapi,”Pasien enggak pergi ke swalayan. Seorang dokter seharusnya melindungi dirinya sendiri”. Shi Jin tak mengerti maksud perkataan Mo Yeon, Mo Yeon,”Saya enggak tahu. Saya ketiduran”. Lalu Mo Yeon memberitahukan bahwa Chi Hoon kini sudah menjadi seorang ayah pada malam itu, dan bayi Chi Hoon seorang lelaki. Mo Yeon meminta Shi Jin untuk memikirkan hadiah yang bagus buat Hee Eun serta Chi Hoon. Shi Jin,”Dia pastinya imut seperti ayahnya..Tolong beritahukan pada mereka ucapan selamatku”. Mo Yeon,”Tranmisi diterima”, layaknya berkata seperti tentara.

Shi Jin meminta maaf sudah membuat Mo Yeon kuatir, dan Shi Jin berterima kash karena Mo Yeon sudah menyelamatkan nyawanya. Mo Yeon heran mengapa mereka berdua selalu saja mengucapkan terima kasih karena saling menyelamatkan hidup satu sama lain. Sedangkan pasangan lain selalu berterima kasih karena sebuah pemberian hadiah. Mo Yeon,”berterima kasih karena perayaan hadiah, atau sesuatu seperti itu”. Shi Jin tetap meminta maaf, Mo Yeon menanggapi,”Apa itu benar? Saya melihat berita kedamaian yang kamu bawa hari ini. Namun jika saya kamu sungguh meminta maaf padaku, jangan pernah memperlihatkan diselimuti darah. Saya mohon padamu”.


Mo Yeon menangsi kala harus melihat Shi Jin terluka dengan berlumuran darah. Shi Jin,”Transmisi diterima..”. Mo Yeon tersenyum, lalu Shi Jin mengajak Mo Yeon untuk menonton film yang belum sempat mereka nonton saat pertama kali kencan. Shi Jin,”Mereka memiliki sesuatu yang keren di ruangan VIP, dan sesuatu yang keren seperti ini juga”, sambil memperlihatkan proyektor portable. Kemudian keduanya pun menonton bersama lewat proyektor portable itu. Mo Yeon,”Kita enggak tahu siapa yang ketiduran duluan. Sepanjang itu hari panjang melelahkan, Saya berada di lengannya. Berbaring disana, saya bersemangat sepanjang malam. Layaknya wanita yang dicintai. Saya ingin tahu apakah film yang sempat kita enggak lihat akhirnya menyedihkan atau sedih”. Mo Yeon dan Shi Jin pun tidur nyenyak di ranjang rumah sakit menikmati kebersamaan bersama.
Semua Dok Gambar KBS 2 TV Korea Selatan

Lalu kembali ke masa lalu, saat letnan Jung Joon berhasil membunuh seorang penjahat, Jung joon mengangkat telepon penjahat itu, dan menerima panggilan dari seorang jenderal dari Korut. Di dalam percakapan telepon itu, jenderal Korut bertanya siapakah yang masih hidup apakah dari pihak Korut ataukah Neptune. Jung Joon menjawab,”Bapak Pimpinan..”. Jenderal Korut,”Kamu seperti pahlawan yang mengerek pelatih”.
Jung Joon pun bertanya apakah rencana pengkhianatan sudah dilakukan jenderalnya sendiri. Sang jenderal hanya tertawa lepas dan menegaskan pengkhianat sesunguhnya adalah letnan Jung Joon sendiri. Akhirnya Jung Joon ingin lari, namun dia dihadang oleh kumpulan tentara paskas sepertinya dari Jepang. Jung Joon tertangkap dan tidak bisa pergi kemana2.
Kembali ke masa sekarang, letnan korut Jung Joon meminta Shi Jin untuk menembakkan pistolnya ke arahnya. Jung Joon meminta Shi Jin memberikannya kesempatan untuk bisa lari. Shi Jin,”Bila kamu lari ke Korut, mereka akan pasti membunuhmu. Tak perduli pengkhinatnya adalah dirimu dan republikmu”.
Jung Joon menegaskan dia memiliki sebuah misi untuk diselesaikan di Korut. Shi Jin bersikukuh bahwa Jung Joon akan meninggal jika tetap memaksakan diri pergi ke Korut. Jung Joon,”Bahkan jika harus meninggal, Saya akan meninggal di Korut. Tolong biarkan aku pergi”. Shi Jin tak bergeming dan langsung menodongkan senjatanya ke muka letnan Jung Joon, Shi Jin,”Saya tentunya adalah tentara yang mengikuti perintah yang diberikan. Aku tak bisa membiarkanmu pergi”.
Akhirnya letnan Jung Joon pun dibawa oleh beberapa agen khusus di sebuah mobil. Letnan Jung Joon berada di sebuah mobil dengan kondisi tetap diborgol. Saat sedang diborgol, Jung Joon melihat sebuah makanan ringan. Kembali ke masa lalu saat Shi Jin memberikan Jung Joon sebuah makanan ringan sebagai sebuah ucapan selamat jalan. Shi Jin,”Ini rasanya enak, jadi makanlah dengan seksama”.
Kala itu, Jung Joon sudah dikawal dengan banyak agen Korsel, termasuk Dae Young. Kembali ke masa sekarang, letnan Jung Joon menyimpan makanan ringan pemberian Shi Jin itu di saku celananya. Keesokan harinya Shi Jin bertemu dengan Mo Yeon. Mo Yeon,”Apa kamu berjumpa temanmu dengan selamat ?”.
Mo Yeon menjelaskan Jung Joon pergi dari perawatan di RS Haesung tanpa ijin dokter, sambil memandangkan wajahnya ke jendela yang pecah kacanya. Shi Jin,”Kita enggak sedekat itu sehingga dia bilang selamat tinggal padaku”. Shi Jin lalu berpura2 merasakan sakit di bagian tubuhnya.
Mo Yeon,”Apa kamu yang memecahkan kaca jendelanya ?”. Shi Jin,”Bukan saya yang ngelakuinnya. Pria yang keluar yang merusaknya”. Lalu Mo Yeon kembali bertanya apakah Shi Jin yang merusak kaca jendela di bagian lantai bawah. Shi Jin menjawab,”teman itu yang juga merusaknya”.
Akhirnya Mo Yeon menginginkan Shi Jin serta temannya Jung Joon yang harus membayar biaya kerusakan di RS Haesung. Shi Jin menangapi,”Seperti yang saya bilang, kita enggaklah sedekat itu..”. Mo Yeon kesal karena ulah Shi Jin ini menyebabkan Mo Yeon harus dimarahi dengan Chariman Han. Shi Jin,”Dimana si Chairmannya ?”.
Shi Jin tak senang Chairman Han mengganggu wanita seperti Mo Yeon, Mo Yeon menyinggung,”Karena pacarku diterima di RS dengan prajurit dari Korut”. Akhirnya Shi Jin terdiam, dan Mo Yeon mendapat panggilan telepon. Mo Yeon meminta Shi Jin untuk menghabiskan infusnya hingga akhirnya, dan dalam dua jam kemudian Mo Yeon akan kembali menemui Shi Jin. Mo Yeom menyuruh Shi Jin untuk menunggunya.
Shi Jin seperti anak2 didepan Mo Yeon, Mo Yeon menyuruh Shi Jin tak pergi kemanapun. Lalu Ji Soo dan Hee Eun berbicang bersama di tengah kondisi Hee Eun yang sedang hamil tua. Ji Soo,”Jadi kamu menggunakan sesar dalam perawatanmu sebelum melahirkan. Kamu bilang lagi seminggu lagi kan ?”. Hee Eun,”Yah, minggu depan”.
Lalu Hee Eun menyinggung tentang kabar Shi Jin, sebagai pacar Mo Yeon dan bermuka tampan. Ji Soo malah merasa Shi Jin bukan seorang yang tampan karena Shi Jin datang ke RS Haesung dengan seorang prajurit Korut yang ditembak. Hee Eun,”Saya dengar juga orang Korut itu tampan..”. Tak lama tiba2 saja Eun Ji muncul dan menyinggung Hee Eun tentang pakaiannya yang masih menggunakan seragam bedah, Eun Ji,”Tidakkah kamu pikir pasien akan ngerasa terbeban ?”.
Namun Ji Soo lalu menyinggung Eun Ji sendiri apakah sudah meninggkatkan kemampuan ilmu bedahnya, maklumlah Eun Ji pernah malpraktik dan untung ditolong oleh Mo Yeon. Eun Ji marah,”Hey, selalu mengenakan gaun. Jadi orang tak bisa membedakan apakah kamu pasien atau dokter”. Eun Ji dan Ji Soo bertengkar satu sama lain. Namun Hee Eun yang jengkel dengan sikap Eun Ji langsung menarik rambutnya. Karena Hee Eun dan Eun Ji bertengkar seperti anak kecil, malah menyebabkan air ketuban Hee Eun malah keluar. Ji Soo,”Saya pikir bayinya akan segera lahir”.
Namun tangan Hee Eun belum saja lepas dari rambut Eun Ji. Karena kondisi itu, Ji Soo menyuruh Hee Eun menaruh semua tekanan di tubuhnya pada bagian lengannya. Tanpa berpikir panjang, Hee Eun yang kesakitan karena akan bersalin menarik rambut Eun Ji sekuat2nya, sambil menghela nafas keluar.
Tak lama seorang dari pihak administrasi RS Haesung mendatangi Mo Yeon. Pria itu menyinggung tentang dua kaca jendela rumah sakit yang pecah. Pria itu juga menyinggung tentang Mo Yeon yang adalah wali dari Shi Jin. Karena kondisi dua kaca RS yang pecah tanpa adanya bencana, akhirnya pria itu ingin menagihkan semua biaya perbaikan ke Mo Yeon, sesuai perintah dari Chairman Han.
Chi Hoon juga setuju akan hal itu. Mo Yeon dan Chi Hoon saling bertengkar tentang Shi Jin, Mo Yeon,”Pasien, Yoo Shi Jin, tidak memecahkannya. Prajurit Korut yang merusaknya”. Chi Hoon,”Namun prajurit Korut itu dipindahkan ke Korut”. Tak lama Chi Hoon mendapat telepon bahwa tentang Hee Eun yang sudah bersalin, Chi Hoon buru2 bertemu dengan istrinya, sedangkan Mo Yeon juga kegirangan lalu pergi.
Disisi lain, akhirnya Jung Joon bertemu dengan jenderalnya sewaktu di Korut tadi. Jenderal Korut,”Penjuru Joseon Selatan sedang membicarakan tentang reuni inter Korea tentang pemindahan keluarga. Mereka bilang bahwa masa depan bergantung pada negosiasi perdamaian”. Jenderal Korut ini menyinggung perjanjian pertemuan 100 keluarga Korut dan Korsel. Lalu jenderal itu menyuruh semua agen khususnya meninggalkan ruangannya. Lalu jenderal itu berbincang dengan Jung Joon. Jenderal Korut ini berujar tentang pikirannya yang tak salah,
Jenderal,”Untuk mendapatkan apa yang kita inginkan, adalah dengan ancaman dibandingkan percakapan; kegelisahan daripada kedamaian. Senang melihat wajahmu”. Lalu jenderal Korut itu memegang dengan keras tubuh Jung Joon, dan Jung Joon memberikan salam militer ala Korut kedepan jendralnya. Jung Joon berujar akan melaporkan misi Neptune no 51. Jung Joon,”Saya sudah melaksanakan hukuman Polaris buat tindakannya yang mengkhianati kehormatan prajurit Korut”. Jenderal,”saya sudah dengar berkasnya juga sudah aman. Dimana berkasnya ?”.
Jung Joon tak berbicara apapun saat sang jenderal bertanya tentang berkas rahasia yang dimintanya. Seperti yang sudah dilatihkan kepada para prajurit Korut, sang jenderal curiga Jung Joon menyembunyikan berkas yang dimintanya dalam tubuh Jung Joon sendiri. Lalu sang jenderal membuka jendela ruangannya, dan ada sinar inframerah bidikan senjata dibagian dada Jung Joon. Jenderal,”Rahasia itu seharusnya dikubur bersama dengan jenazah”. Jung Joon,”Dalam meja peringatanku (abu jenazah kepercayaan Korut), hanya taruhkan saya semangkuk mie gandum Pyongyang. Jika mungkin, saya akan memintamu untuk membuat mie gandum Koryo Hotel”.
Sang jenderal menjawab apa yang diminta Jung Joon tak sulit untuk dilakukannya. Jung Joon merasa karena dia sudah melakukan apa yang diperintahkan padanya, Jung Joon hendak melakukan kewajiban terakhirnya. Akhirnya Jung Joon pun memberikan hormat salam militer Korut kepada sang jenderal, Jung Joon,”Atas nama republik Korut, pengkhianat Departemen Keamanan Negara, Saya akan menghukum mati Choi Jung Ho”.
Lalu letnan Jung Joon berteriak dan hendak membunuh sang jenderal dengan sebuah pecahan minuman. Jung Joon mengarahkan pecahan botol minuman itu ke sang jenderal dan membunuhnya. Namun dari kaca jendela, Jung Joon malah kena tembakan dan terlihat seperti meninggal tewas. Lalu sang jenderal meninggalkan tubuh Jung Joon yang tak berdaya. Nama jenderal ini adalah Choi Jung Ho.
Jenderal Jung Ho bertemu dengan seorang staff Korsel dan menyerahkan sebuah berkas. Berkas itu terkait perjanjian pertemuan keluarga dua negara yakni Korut dan Korsel. Jenderal,”Jangan biarkan orang dari Korsel hendak bicara ?. Saya bilang kita harus tetap bicara. Sebelum kondisinya dibereskan, tak ada negosiasi”. Staff,”Kondisinya terdaftar disini, Apakah kita setuju dengan pertemuan perpisahan keluarga atau tidak, apa masalahnya ?. Lupakan komunikasi Korut dan Korsel”.
Lalu Jenderal Jung Ho membicarakan bagaimana komunikasi antara Korut dan Korsel tak membutuhkan juru bahasa. Jenderal Jung Ho,”Saya akan melalukan apa yang saya dengar sebagai jawab, dan akan maju diluan”. Lalu sang jenderal Jung Ho hendak pergi, namun staf itu memintanya untuk melihat apa yang diberikannya sebelum pergi. Lalu Jenderal Jung Ho melihat sebuah berkas rekening bank di ipad, Staff,”Sepertinya kamu mendapatkan beberapa dollar setelah menjual anakmu. Berapa banyak disini ?”.
Tak lama saat sang jenderal Jung Ho keluar, namun dia ditahan oleh beberapa agen Korsel. Sang Jenderal tak mengerti mengapa dia dihadang. Lalu seorang agen Korsel itu menjelaskan bahwa ada perintah yang diperintahkan pada mereka untuk mengirim Letnan Senior Jung-Joon ke Pyeongyang. Jenderal Jung Ho terkaget mendengar bahwa Letnan Ahn Jung Joon masih hidup. Kembali ke masa lalu saat Ahn Jung Joon masih bersama jenderal Jung Ho di hotel Goryo.
Saat itu, jenderal Jung Ho membuka jendela dan ada sinar infra merah bidikan senjata di tubuh Ahn Jung Joon. Namun sang jenderal tak tahu sinar infra merah senapan itu berasal dari bidikan Shi Jin. Penembak jitu yang hendak membunuh Ahn Jung Joon sudah diringkus oleh para anggota paskas tim Alpha Korsel. Dan Shi Jin yang menggantikan posisi penembak jitu yang hendak membunuh Ahn Jung Joon. Kembali ke ruangan hotel, Jenderal,”rahasia akan dikuburkan selamanya bersama jenazah pengkhianat”.
Shi Jin mendengar percakapan keduanya lewat alat komunikasi radio yang dipasang di telinga Shi Jin. Saat silam itu, Shi Jin dengan tepat mengarahkan bidikan senjatanya ke bagian dada Letnan Jung Joon. Shi Jin mendengar percakapan keduanya lewat chip yang ada di celana Jung Joon. Makanan ringan yang diberikan oleh Shi Jin ke Jung Ho sewaktu di RS Haesung sebenarnya sudah dipasang alat perekam oleh Shi Jin.
Shi Jin menembak namun tidak tepat ke arah bagian dada Letnan Jung Joon, Shi Jin,”passwornya sudah dikatakan. Passwordnya adalah…”. Lalu Byung Soo juga melacak lokasi GPS di Hotel Goryo. Lalu Jung Joon berkata dan didengar oleh Shi Jin, Jung Joon kecewa dengan pasukan khusus Korsel, kerena Shi Jin tak menembakan peluru senjatanya dengan tepat di dadanya. Shi Jin hanya tersenyum mendengar sindiran Jung Joon itu.Lalu agen Korsel pun masuk ke ruangan Jung Joon di hotel Goryo Seol, dan memborgolnya. Namun sebelum diborgol, Jung Joon hendak mencicipi makanan ringan yang sempat diberikan oleh Shi Jin.
Jung Joon berterima kasih kepada Shi Jin yang sudah menolongnya. Jung Joon,”Saya kini bisa kembali ke negaraku, dan saya bisa meninggal disana sebagai prajurit. Makasih”. Jung Joon menghabiskan makanan ringan yang diberikan oleh Shi Jin. Lalu Shi Jin masuk kedalam hotel Goryo Seoul, dan melihat bungkusan makanan ringan yang diberikannya yang sudah terdapat chip di dalamnya.
Lalu staf yang bertemu dengan jenderal Jung Ho melihat sebuah berkas “Perjanjian Khusus Kedua antara Korsel dan Korut”. Anak buahnya datang dan memberitahukan tentang pembatalan agenda makan siang jenderal Choi Jung Ho, dan sang jenderal sudah dikirim ke Pyungyang. Sekretaris,”Namun, apakah baik2 saja menyerang salinan asli lewat perdaganan politik ?”. Staff,”Kenapa ? Ada masalahnya dengan itu ? Kita punya banyak duplikasinya”.
Lalu staff itu menjelaskan ada seseorang yang bernama Jenderal Park, yang berada juga berada dibelakang Jenderal Chou Jung Ho. Staff itu sudah mengirim Jenderal Park sebuah email. Staff,”Korsel sungguh kuat dibidang IT. Politik seharus berdasarkan pada pendirian susila. Orang yang melakukan hal buruk seharusnya dihukum. Keadilan akan menang. Penghargaan kebajikan dan penghukuman si jahat”. Lalu staff korsel itu pun hendak menghadiri konferensi pers.
Lalu Shi Jin kembali ke RS Haesung setelah misi menolong letnan Jung Joon. Dae Ho berada di kamar perawatan Shi Jin mengintip melihat Mo Yeon. Dae Young,”Dia datang.. 10 meter”. Shi Jin berusaha untuk mengganti pakaiannya sewaktu menjalankan misi tadi. Lalu Mo Yeon masuk dan Dae Yojung buru2 membantu Shi Jin mengganti pakaiannya.
Saat Mo Yeon masuk dia melihat Shi Jin terbaring, dan Dae Young berpura2 membaca buku. Dae Young,”Kapten tim lagi ketiduran”. Mo Yeon,”Bagus dia tidur banyak”. Melihat pakaian Dae Young, Mo Yeon bertanya apakah Dae Young pergi ke sebuah tempat sebelum datang menjeguk Shi Jin. Dae Young,”Oh.. bagaimana bisa begitu”. Lalu Mo Yeon pun berpura2 pamit pergi. Shi Jin bangkit dari tempat tidurnya, dan Dae Young mengganti celana Shi Jin. Disaat bersamaan Mo Yeon malah masuk kedalam kamar Shi Jin kembali dan melihat keadaan keduanya.
Shi Jin berpura2 menyamar kembali jadi Dae Young, namun Mo Yeon tahu akan hal itu. Mo Yeon,”Kamu melalui banyak masalah menjadi sersan Seo yang ada ditempat tidur”. Mo Yeon merasa sudah rugi mempercayai keduanya. Shi Jin,”Kenapa kamu disini ?”. Akhirnya Mo Yeon pun pergi. Dae Young,”Kejahatan sempurna ? Apa yang kamu lakukan dengan biaya jendelanya ?”. Shi Jin,”saya bilang saya enggak terbaring di tempat tidur”. Dae Young,”Saya bilang saya enggak jantan”, sambil bergaya banci”.
Lalu Mo Yeon bertemu dengan Myeong Joo disebuah ruangan tunggu RS Haesung. Myeong Joo dan Mo Yeon saling bertegur sapa. Mo Yeon bertanya apakah kedatangan Myeong Joo untuk menjeguk Shi Jin. Myeong Joo menjawab,”Yah.. dia enggak meninggalkan kan”. Mo Yeon juga memberitahukan bahwa ada sersan Seo di ruagan Shi Jin.
Myeong Joo tahu akan hal itu karena dia melihat mobil sersan Seo di parkiran. Mo Yeon,”Apa kamu bertengkar dengan Sersan Satu Seo ?”. Myeong Joo,”Enggak..Kami putus. Dia sekarang adalah seseorang yang tak hubungannya denganku”. Mo Yeon kaget mendengarnya. Mo Yeon mengambil kesimpulan Shi Jin dan Dae Young adalah dua orang bodoh. Mo Yeon,”Negara lebih baik tak menemukan kedua orang seperti itu”.
Meskipun mengaku sudah putus, Myeong Joo masih bertanya ke Mo Yeon apakah Dae Young tak terluka. Mo Yeon menjawab,”Bukannya kamu bilang kamu tak ada hubungan dengannya”. Myeong Joo,”Saya hanya bertanya sebagai dokter. Lalu saya akan pergi”. Lalu Myeong Joo pun pergi, Mo Yeon,”Kehidupan cinta mereka juga”, sambil menghela nafasnya. Lalu Myeong Joo pun masuk ke ruangan Shi Jin. Namun Myeong Joo hanya bersikap diam membisu tak bicara kepada Dae Young.
Myeong Joo berkata ke Shi Jin, Myeong Joo,”Pacarmu sungguh kuatir diluar. Haruskah saya menelponnya ?”. Shi Jin,”Enggak usah. Saya sudah kuatir banyak dan pergi”. Kemudian Myeong Joo memberikan Shi Jin sebuah hadiah, Shi Jin menghentakkan suaranya menyuruh Dae Young untuk menawarkan Myeong Joo sebuah kursi. Namun Dae Young tak menanggapi suruhan Shi Jin itu, Dae Young,”Saya biarkan kalian bicara”. Myeong Joo,”Saya akan pergi”. Shi Jin,”Jika kalian berdua pergi, lalu siapa yang tinggal sama aku ?”. Lalu Shi Jin mengungkit tentang Dae Young yang tadi berbaring di tempat tidurnya, sambil merapikan rambutnya tadi dengan bergaya seperti banci.
Dae Young meminta Shi Jin untuk berhenti bercanda. Shi Jin tetap tak berhenti bercanda, dan memperagakan gaya Dae Young tadi yang bergaya ala banci. Karena kesal, Myeong Joo pun menyebut keduanya seperti seorang bodoh dan pergi. Shi Jin lalu menyebut Dae Young seorang yang bodoh, Shi Jin,”Saya melakukan yang terbaik untuk bisa membantumu”. Dae Young,”Saya menghentikanmu karena kamu seperti itu”. Shi Jin bertanya mengapa keduanya putus, dan Dae Young langsung menjawab,”Saya mengisi formulir…pemberhentian”. Shi Jin kaget mendengar Dae Young yang tiba2 berhenti dari militer.
Dae Young mengaku hanya itu pilihan yang bisa dilakukannya. Shi Jin,”lakukan apa ?”. Dae Young,”Saya minta maaf..”. Shi Jin tak menyangka Dae Young mengambil keputusan secara sepihak. Shi Jin,”Saya sungguh kecewa..”. Shi Jin bertanya apakah Letjen Yoon tahu akan hal itu. Dae Young menjawab,” Myeong Joo juga disana saat saya bertemu dengan Komandan”.
Akhirnya Shi Jin menyuruh Dae Young untuk cepat pergi dari ruangannya dan menahan memeluk Myeong Joo, karena Myeong Joo seorang wanita yang sudah mengorbankan hidupnya buat Dae Young. Shi Jin,”Jangan buat dia menunggu terlalu lama”. Atas saran Shi Jin itu, Dae Young mencari Myeong Joo dengan gelisah. Disebuah perhentian, Dae Young pun merasakan kehadiran Myeong Joo. Myeong Joo hanya bersikap diam menyadari kehadiran Dae Young.
Myeong Joo hanya menitihkan airmatanya. Lalu Sang Hyun serta Ja Ae melihat keduanya, Ja Ae,”Apa yang kamu pikirkan diantara mereka berdua ?”. Sang Hyun,”Keduanya sedang bertengkar, namun Lettu Yoon putus demi kepentingan Sersan Seo. Itulah mengapa dia tak bisa menemukan Lettu Yoon. Karena Lettu Yoon seorang wanita yang baik”.
Lalu Ja Ae menanggapi pendapat Sang Hyun, Ja Ae melihat Dae Young sepertinya tahu Myeong Joo sedang bersembunyi. Ja Ae melihat Dae Young sebenarnya ingin memegang dan memeluk Myeong Joo, namun dia tak bisa. Ja Ae,”demi kepentingan kebanggaan Lettu Yoon dia mencoba keras untuk sembunyi. Karena sersan satu Seo lelaki yang baik”. Sang Hyun pun mengajak Ja Ae untuk jalan2 bersamanya untuk berbelanja, Ja Ae,”Apa yang akan kamu beli ?”.
Lalu Sang Hyun mengajak Ja Ae berjalan2 untuk membeli sebuah mobil baru. Pasalnya Sang Hyun sudah berjanji akan membeli sebuah mobil baru bila kembali ke Korsel, setelah mempertaruhkan nyawanya di Urk. Ja Ae,”Gimana jika kamu tak meninggal setelah menghabiskan semuanya ?”. Sang Hyun,”Meskipun saya enggak berpikir itu, Saya akan membeli mobil baru. Pilihlah yang mana kamu sukai ?”.
Lalu Ja Ae memilih sebuah mobil berwarna biru. Sang Hyun narsis mengatakan Jae Ae sepertinya menyukainya. Ja Ae mengaku menyukai Sang Hyun, namun sang Hyun sendiri ingin tahu mengapa Ja Ae menyukainya, Sang Hyun,”Hey.. kamu hanya menyukaiku. Kenapa kamu menyukaiku ? Apa kamu menyukaiku ? Kenapa ?”. Ja Ae meminta Sang Hyun untuk segera memesan mobil Hyundai biru yang dipilihnya karena lapar, dan sang suami pun melakukannya.
Sebaliknya Mo Yeon melihat sebuah berita tentang,”Pihak pemerintah Korut dan Korsel memutuskan untuk mengadakan pertemuan reuni buat 100 orang keluarga bulan depan”. Di dalam berita disebutkan bahwa ini pertama kalinya kedua pemerintah serumpun ini melakukan pertemuan bersama dalam 5 tahun. Mo Yeon sedang melihat jalinan hubungan baik dua negara serumpun ini terlaksana. Lalu Mo Yeon melihat di TV bagaimana pertemuan 100 anggota keluarga dua negara serumpun Korsel dan Korut terjadi. Shi Jin juga melihat berita itu di TV.
Tak lama Mo Yeon pun masuk di kamar Shi Jin. Selepas jaga malam, Mo Yeon pun mengunjungi kamar Shi Jin. Shi Jin,”Kamu enggak pulang ke rumah ?”. Mo Yeon,”karena saya walimu hingga malam ini”. Shi Jin serasa ingin mau pergi dari RS Haesung, dia tak ingin tinggal lama seperti seorang yang lemah. Namun Shi Jin tetap senang bisa melihat muka Mo Yeon setiap dua jam. Mo Yeon,”Kamu sunggun menyukainya, namun kamu masih sering keluar ?”. Mo Yeon ingin tahu kemana Shi Jin pergi barusan. Shi Jin mengaku berada di atas atap kamarnya karena ingin merasakan udara segar.
Mo Yeon,”Saya akan mengecek atapnya”. Shi Jin,”Saya enggak bilang atap dari gedung ini”. Mo Yeon,”Apa kamu pergi ke swalayan lagi dengan temanmu ? Namu kenapa kamu kembali sendiri ?”. Shi Jin,”Karena kami memiliki jalan kecil untuk diikuti”. Lalu Shi Jin mengaku lagi tak enakan badan. Sebagai gantinya Shi Jin meminta Mo Yeon menghiburnya dibandingkan mengomelinya. Mo Yeon,”Kenapa kamu enggak enakan ?”. Mo Yeon ingin tahu apalagi misi rahasia yang dilakukan oleh Shi Jin, dan berusaha untuk disembunyikannya. Akhirnya Shi Jin berkata jujur, Shi Jin,”Saya melindungi kedamaian di semenanjung Korea, namun ini adalah malam ketidakpastian dari kehidupan temanku”. Mo Yeon,”dan pacarmu mengkhawatirkanmu”. Lalu Shi Jin mengajak Mo Yeon untuk tidur disampingnya merasakan ranjang orang sakit. Shi Jin,”Manjatlah disini..”.
Akhirnya Mo Yeon tidur disamping Shi Jin, namun bukan di tempat tidurnya. Shi Jin,”Gimana bisa dia menolaknya ? Kenapa kamu sulit bagiku?”. Shi Jin merasakan dia seorang pasien yang membutuhkan perhatian, Mo Yeon menanggapi,”Pasien enggak pergi ke swalayan. Seorang dokter seharusnya melindungi dirinya sendiri”. Shi Jin tak mengerti maksud perkataan Mo Yeon, Mo Yeon,”Saya enggak tahu. Saya ketiduran”. Lalu Mo Yeon memberitahukan bahwa Chi Hoon kini sudah menjadi seorang ayah pada malam itu, dan bayi Chi Hoon seorang lelaki. Mo Yeon meminta Shi Jin untuk memikirkan hadiah yang bagus buat Hee Eun serta Chi Hoon. Shi Jin,”Dia pastinya imut seperti ayahnya..Tolong beritahukan pada mereka ucapan selamatku”. Mo Yeon,”Tranmisi diterima”, layaknya berkata seperti tentara.
Shi Jin meminta maaf sudah membuat Mo Yeon kuatir, dan Shi Jin berterima kash karena Mo Yeon sudah menyelamatkan nyawanya. Mo Yeon heran mengapa mereka berdua selalu saja mengucapkan terima kasih karena saling menyelamatkan hidup satu sama lain. Sedangkan pasangan lain selalu berterima kasih karena sebuah pemberian hadiah. Mo Yeon,”berterima kasih karena perayaan hadiah, atau sesuatu seperti itu”. Shi Jin tetap meminta maaf, Mo Yeon menanggapi,”Apa itu benar? Saya melihat berita kedamaian yang kamu bawa hari ini. Namun jika saya kamu sungguh meminta maaf padaku, jangan pernah memperlihatkan diselimuti darah. Saya mohon padamu”.
Mo Yeon menangsi kala harus melihat Shi Jin terluka dengan berlumuran darah. Shi Jin,”Transmisi diterima..”. Mo Yeon tersenyum, lalu Shi Jin mengajak Mo Yeon untuk menonton film yang belum sempat mereka nonton saat pertama kali kencan. Shi Jin,”Mereka memiliki sesuatu yang keren di ruangan VIP, dan sesuatu yang keren seperti ini juga”, sambil memperlihatkan proyektor portable. Kemudian keduanya pun menonton bersama lewat proyektor portable itu. Mo Yeon,”Kita enggak tahu siapa yang ketiduran duluan. Sepanjang itu hari panjang melelahkan, Saya berada di lengannya. Berbaring disana, saya bersemangat sepanjang malam. Layaknya wanita yang dicintai. Saya ingin tahu apakah film yang sempat kita enggak lihat akhirnya menyedihkan atau sedih”. Mo Yeon dan Shi Jin pun tidur nyenyak di ranjang rumah sakit menikmati kebersamaan bersama.
Semua Dok Gambar KBS 2 TV Korea Selatan
Comments
Post a Comment