Sumber Dok Gambar: KBS 2TV
[ Baca juga: Sinopsis Descendants of the Sun Drama Korea Episode 15 Bagian Pertama]
Myung Ju tak kuasa menahan tangisnya dan merasakan penyesakan karna belum sempat berbaikan dengan Dae Young.
“Saya hanya mengatakan kata-kata kasar itu dan mengirimnya pergi.”
Dengan berat hati, Letjen Yoon meminta Myung Ju mengambil surat Dae Young, dan Myung Ju berlari keluar dari ruangan ayahnya sambil menangis.
Sementara itu, Mo Yeon bergegas datang ke markas militer sambil membawa surat Si Jin di tangannya dan mendapati Myung Ju sedang menangis terisak-isak.
“Apa yang akan kulakuan jika kau seperti ini? Saya tidak bisa bertanya apa-apa. Bukankah kau sendiri yang bilang ayahmu mempunyai jabatan yang tinggi. Apa kau sudah memeriksa segalanya! Mereka bisa saja salah! Mereka mungkin akan kembali! Apa kau menangis setelah mengetahui segalanya?”
“Berhenti menangis dan jawab saya, Yoon Myung Ju,” teriak Mo Yeon
Mo Yeon melihat sebuah surat yang ada ditangan Myung ju dan menebak itu adalah surat Dae Young. Dengan berlinang air mata, Mo Yeon bertanya: “Benarkah? Dia tidak akan datang?”
“Saya benar-benar tidak akan melihatnya? Dia tidak akan datang?,” dan Myung Ju hanya mengangguk. Seketika itu, badannya lemas dan menangis tersedu-sedu.
Karna dirundung kesedihan yang mendalam telah kehilangan orang yang paling ia cintai, Mo Yeon hanya berbaring di sofa dan Si Jin bernarasi (untuk surat yang ia berikan kepada Mo Yeon)
“Saya tahu ini memalukan, saya ingin kau tak menangis untuk waktu yang sangat lama. Lebih dari siapapun, dengan ceria. Kau harus hidup dengan baik. Dan, jangan mengingatku untuk waktu yang sangat lama. Ini permintaanku.”
Park Byung Soo datang menemui Mo Yeon di rumahnya, dan memberitahu bahwa akan ada pengumuman secara resmi kematian Si Jin dan dae Young seminggu kemudian, dan kematian mereka akan diumumkan sebagai kecelakaan mobil.
Dia kemudian meminta Mo Yeon menandatangani sebuah dokumen sumpah kerahasiaan sebagai aturan yang harus ia taati. Tapi Mo Yeon tiba-tiba bertanya apa kematian Si Jin karna menyelamatkan nyawa seseorang, apakah kematiannya melindungi kedamaian suatu tempat, dan apakah kematiannya untuk bangsa kita – dan Park Byung Soo menjawab ya.
Mendengar semua jawabannya, Mo Yeon mengungkapkan kesedihannya mengapa Si Jin harus menjalani kehidupan seperti ini, bahkan untuk kematiannya pun harus menjadi sebuah rahasia.
“Saya berharap apa yang kulakukan sekarang adalah yang kau inginkan Yoo Soo Jin.” Mo yeon menandatangi dokumennya meskipun dengan berurai air mata.
Mo Yeon menjalani hari-harinya dengan menjalankan tugasnya di rumah sakit sebagai seorang dokter yang disibukkan dengan mengoperasi pasien terlepas dari kesedihan yang sedang dirasakannya.
Saat jam istirahat, Mo Yeon duduk sendirian di kantin rumah sakit sambil melepas kelelahannya dan menyantap bekal makan siangnya. Tapi beberapa saat kemudian Eun Ji datang menemuinya.
Eun Ji datang dan mengucapkan selamat karna Mo Yeon mendapat promosi, dan gelar Mo Yeon yang berhasil ia dapatkan kembali.
Dia kemudian menyinggung tentang ketidaksetujuan Mo Yeon mempergunakan obat tekanan darah dari farmasi Cosmo dimana pemimpin farmasi tersebut adalah suami dari tantenya. Mo Yeon hanya beralasan mengapa rumah sakit harus menggunakan obat yang mahal padahal sekarang banyak obat yang sejenis dan murah.
Sehingga Eun Ji meledeknya jika Mo Yeon sangat ingin menjadi dokter si baik hati Schweitzer, dia menyarankan Mo Yeon menjadi relawan daerah terpencil contohnya di Afrika yang sama sekali tidak punya dokter sehingga tiga orang mati tiap tiga menit.
Mo Yeon tak tinggal diam, dan membalas dengan menyinggung tentang dokter yang tidak mempunyai keahlian yang bertugas dikantor Eun Ji, dimana tiga dari empat dokter salah mendiagnosa. Dia menyarankan Eun Ji menemui pengacara agar lisensi medisnya tidak hilang sampai membuatnya marah. Tapi, dengan ketus Mo Yeon malah menyuruhnya pergi.
Malamnya, Mo Yeon masih bertugas di rumah sakit. Dan disela-sela istirahatnya, Mo Yeon minum soju bersama Ji Soo di ruangannya. Hanya saja Ji Soo menyuruhnya untuk pulang ke rumah hari ini.
“Sudah berapa lama kau berada di kamar tempat bermalam sampai menyusahkan para Dokter Koas?”
Mo Yeon tak mengindahkannya, dan memberitahu Ji Soo bahwa besok dia akan ada operasi. Meskipun demikian, Ji Soo malah menyarankan Mo Yeon untuk berhenti masuk ke ruang operasi. Tapi, Mo Yeon hanya berkata bahwa dia yang paling seksi di ruang operasi.
Sejenak Mo Yeon terdiam, dan Ji Soo bertanya ada apa. Mo Yeon berkata dia hanya memikirkan sesuatu.
“Hanya ini dan itu. Air. Anggur. Lilin. Foto X-ray. Ikat rambut.”
“Saya sudah gila,”ucap Mo Yeon sambil tertawa tapi matanya berkaca-kaca karna menahan air matanya.
“Saya pikir saya baik-baik saja, tapi .. Saya pikir saya benar-benar sudah gila, Ji Soo.”
Mo Yeon kembali menangis, dan untuk meredakan kesedihannya Ji Soo kembali menuangan soju ke gelasnya.
Sementara itu, Myung Ju datang ke ruangan ayahnya untuk melapor bahwa dia telah mendapat perintah untuk pergi ke Unit Kesehatan Taebaek di Urk. Dia berterima kasih pada ayahnya karna telah memberikannya perintah pemindahan yang adil.
Letjen Yoon mengakui bahwa satu-satunya perintah tidak adil yang pernah ia berikan hanya pada Dae Young. Dia mengungkapkan penyesalannya karna perintahnya saat itu telah membuat putrinya mengalami penderitaan yang mendalam, dan meminta Myung Ju untuk memaafkannya.
Mo Yeon datang menemui Myung Ju di sebuah bar, dan Mo Yeon sedikit merasa iri setelah diberitahu oleh Myung Ju bahwa dia akan kembali dikirim ke Urk.
Myung Ju kemudian bertanya apa Mo Yeon ingin pergi bersamanya. Mo Yeon menjawab: “haruskah? Mereka pergi bersama, jadi mengapa tidak kita juga pergi bersama.” Tapi Myung Ju hanya menganggapnya sedang mengada-ngada.
Myung Ju memberikan sebuah boneka kepada Mo Yeon yang melambangkan Si Jin sebagai hadiah perpisahan mereka. Dia kemudian memegang tangan boneka kelinci miliknya dan berkata: “Ini adalah kekasih Sersan Pertama Seo. Dan itu adalah teman Yoo Si Jin.”
Mo Yeon mengakui ada satu hal yang belum ia sempat tanyakan pada Si Jin, sehingga dia bertanya bagaimana Si Jin dan Dae Young bertemu, dan bagaimana mereka bisa sedekat itu.
Myung Ju menjawab dia tahu jawabannya, dan menjelaskan bahwa mereka berdua bertemu karna seorang wanita.
Flashback: Dae Young memikirkan pertemuannya bersama Myung Ju di sebuah bar yang menagih janjinya untuk memberitahu Si Jin bahwa mereka sekarang adalah pasangan kekasih.
Dia memakai payungnya, mulai berjalan ditengah guyuran hujan dan tiba-tiba seorang pria datang berteduh di bawah payungnya. Dan saat payung itu terangkat, kita melihat wajah Si Jin yang tersenyum lebar.
“Saya seorang komandan disini. Mengapa kita tidak sepayung bersama,” ujar Si Jin.
“Kami pacaran,” ujar Dae Young sampai membuat Si Jin kebingungan. Dan Dae Young kemudian memperjelas bahwa dia sedang berpacaran dengan Letnan Satu Myung Ju.
Mereka berdua berada di sebuah bar, dan Si Jin mulai menginterogasi Dae Young tentang hubungannya dengan Myung Ju.
Dae Young menjawab pertanyaan Si Jin satu persatu, dan menjelaskan bahwa dia dan Myung Ju telah berpacaran selama setahun. Tapi, Dae Young salah bicara saat menjawab pertanyaan Si Jin bahwa dia pertama kali bertemu Myung Ju sebulan lalu.
Si Jin kemudian bertanya apa Dae Young tahu ayah Myung Ju berbintang tiga? (yang maksudnya sebenarnya adalah seorang Letnan Jenderal)
“Saya pikir siapapun bisa membuat tiga kesalahan saat kau hidup. Ayahnya yang adalah seorang mantan narapidana tidak akan menjadi hambatan bagi cinta kami. (Dia berpikir 3 bintang berarti telah dihukum tiga kali.)” ujar Dae Young yang lagi gerogi sehingga membuatnya berbicara ngelantur.
Dae Young kemudian bertanya apa Si Jin akan menyerah mengejar Myung Ju.
Si Jin menjawab: “Apa kau pikir saya juga akan menemukan seseorang untuk dipacari selama setahun yang hanya kukenal sebulan? Saya pikir kita tidak akan bertengkar hanya karna Myung Ju.”
“Pastikan kita ada dipihak yang sama ketika kita berkelahi,” ujar Si Jin sambil tersenyum ke arah Dae Young.
Usai bertemu dengan Myung Ju, Mo Yeon berjalan sendirian sambil membawa bonekanya, dan berjalan melewati sebuah kafe yang pernah didatanginya bersama Si Jin.
Dan kembali flashback: Di kafe itu Si Jin merasa mereka tidak pernah mengatakan “Saya mencintaimu” kepada satu sama lain. Dan Mo yeon berkata bahwa mereka berdua telah melakukannya dengan tindakan ketimbang dengan kata-kata, dan mendengar ucapannya Si Jin sampai tersedak.
“Kita berpegangan tangan dan bahkan berciuman tanpa pernah mengatakan “Saya mencintaimu” kepada satu sama lain.”
“Wow, itu sangat mengagumkan. Sangat berani.”
“Mengapa tak kau katakan saja?,” pinta Si Jin. Dan Mo Yeon menjawab ada sesuatu yang tak dapat kukatakan.
Tapi, Si Jin menginginkan agar mereka berdua mengatakan apa yang tidak bisa mereka ucapkan. Dia menyuruh Mo Yeon untuk terlebih dulu mengatakannya karna dari abjad namanya yang lebih dulu.
Mo Yeon menolak permintaannya, dan menyuruh Si Jin yang duluan mengatakannya karna dia sendiri yang pertama ingin mendengar kata itu.
Si Jin juga menolak, dan menyuruh Mo Yeon yang terlebih dulu.
Mo Yeon yang kesal lantas berkata: “Mengapa kau terus menerus menyuruhku mengatakan itu terlebih dulu? Kau juga tidak mengatakannya, Kapten Yoo.”
Si Jin tiba-tiba saja berkata didepannya,”Aku cinta padamu” sampai membuat Mo Yeon terkesima mendengar ucapannya.
“Aku juga mencintaimu. Saya akan setia padamu dengan semua yang kumiliki,” balas Mo Yeon.
Mo Yeon tiba di rumah dan menyalakan lilin untuk menerangi ruangannya. Dia bertanya pada boneka Si Jin: “Apa yang kau pikirkan tentang diriku? Apa saya cantik karna cahaya lilin itu?”
Mo Yeon sedih dan menundukkan kepalanya karna tak bisa mendengar jawabannya, tapi dia tiba-tiba mendengar suara Si Jin berkata padanya: “Kau cantik setiap waktu.”
Dan saat dia mengangkat kepalanya dia melihat bayangan Si Jin ada di depannya.
“Saya sangat merindukanmu,” ujar Mo Yeon. Bayangan Si Jin menjawab dia juga merasakan hal yang sama.
Mo Yeon bertanya mengapa Si Jin tidak datang. Si Jin menjawab karna dia melindungi kedamaian.
Mo Yeon kembali bertanya: “Bagaimana dengan semua janjimu? Apa semuanya sama sekali tidak berarti untukmu?”
“Saya akan datang dengan semua kekuatanku. Saya akan datang padamu,” ujar Si Jin.
Mo Yeon menangis mendengar jawabannya, dan berkata: “Tapi, kau tidak datang. Kau tidak datang,” dan bayangan itupun menghilang.
Myung Ju telah tiba di Urk, dan mulai merapikan barang-barangnya. Dia mengambil surat Dae Young dari kantungnya, dan meletakkannya di dalam lemari bersama barang-barangnya yang lain.
Dia bertekad tidak akan pernah membaca surat Dae Young.
“Saya tidak akan membacanya. Saya tidak akan pernah membacanya bahkan sampai saat saya mati. Hatimu juga harus tersakiti.”
Sementara itu, Mo Yeon berada di bandara yang bersiap-siap akan terbang ke Albania sebagai seorang relawan, tapi dia tiba-tiba di telpon oleh Daniel.
Dia datang menemui Daniel yang juga sedang berada di bandara tapi di sebuah ruangan yang dijaga oleh dua orang petugas keamanan.
Daniel memberitahu Mo Yeon bahwa dia ada di Korea ntuk melakukan sebuah protes tapi tidak diijinkan masuk ke negaranya. Dia hanya diijinkan bisa melakukan protes asalkan tidak melewati ruangan yang diberikan padanya sehingga memutuskan membangun tenda.
Daniel mengakui bahwa dia adalah kriminal internasional yang dilarang memasuki 12 negara berbeda, dan Mo yeon bercanda di depannya bahwa pria nakal adalah yang diimpi-impikan wanita.
Daniel bertanya apa Mo Yeon ingin pergi liburan. Mo Yeon menjawab selain alasan untuk menjadi relawan bagi kamp pengungsi Albania, dia mengakui pergi untuk memperingati hari kematian Si Jin.
“Besok adalah peringatan hari kematiannya, jadi saya akan pergi kesana sehingga saya tidak akan lupa.”
Sesampainya di Albania, Mo Yeon bersama tim relawan lainnya melakukan tugas mereka dengan merawat para pengungsi Albania yang menderita penyakit.
Sementara itu, protes yang dilakukan oleh Daniel di bandara berhasil menarik perhatian para wartawan sehingga mereka datang mewawancarainya.
Di depan wartawan, Daniel berkata bahwa meskipun polio dan TBC sampai AIDS adalah penyakit yang dianggap tidak dapat disembuhkan tapi banyak dari penyakit ini yang telah berhasil diatasi dengan peningkatan obat-obatan. Dia menambahkan tapi 14 juta orang masih meninggal karna obat, bukan karna penyakit.
Mo Yeon duduk sendirian dan menulis sebuah pesan di ponselnya untuk Si Jin.
“Saya bertemu dengan Daniel di bandara. Golongan darahku O. Saya tiba-tiba saja memikirkannya. Karna kau berpikir saya benar-benar sebuah boneka. Mereka mengatakan ada sebuah gurun disini disuatu tempat. Apa kau juga berpikir ada oasis (mata air?)”
Kembali ke bandara, Daniel mengungkapkan alasannya ke media mengapa dia melakukan protes untuk menuntut penarikan hak paten obat-obatan penyakit menular karna dia melihat kebanyakan perusahan farmasi internasional membuat vaksin hanya untuk mengeruk keuntungan.
Mo Yeon kembali menulis pesan untuk Si Jin:
“Hidup lebih penting dibanding keuntungan. Saya menyadari tidak ada gunanya keuntungan dibanding kehidupan. Sekarang saya menjadi dokter seperti ini. Apa saya terlihat patut dipuji dari tempat dimana kau berada sekarang?”
Sementara itu di Urk, Myung Ju merawat seorang tentara yang mengalami luka di pergelangan tangannya. Dia memperban tangannya, dan meminta sersan yang bertugas untuk tidak menyuruh prajurit yang lagi terluka ini untuk bekerja.
Dan betapa terkejutnya Myung Ju melihat Kim Bum muncul di depannya. Kim Ki Bum berkata: “Ya, saya mengerti,” dan menawarkan mie ramen buatannya.
Mereka berdua makan bersama, dan Myung Ju bertanya mengapa Kim Ki Bum datang jauh-jauh kesini. Kim Ki Bum menjawab karna dia seorang tipe tentara.
Melihat ramen didepannya, hal itu kembali mengingatkannya kepada Dae Young. Myung Ju tahu Dae Young sering memakannya sehingga dia melahapnya.
Tapi, Kim Ki Bum tiba-tiba saja kaget melihat melalui kaca jendela salju yang turun. Dia memberitau Myung Ju bahwa dia tidak biasa melihat salju turun di Urk.
Myung Ju berbalik, dan melihat salju itu yang turun dari kaca jendela.
Sementara itu dalam perjalanannya menuju tempat pemakaman Si Jin, Mo Yeon berjalan melewati padang pasir. Dia mengikat rambutnya yang beterbangan karna angin, dan hal itu kembali mengingatkannya ke sebuah kenangan saat Si Jin mengikatkan rambutnya.
Dia tiba di sebuah lokasi yang menjadi tempat penguburan Si Jin, dan menaruh bunga di atas sebuah tumpukan batu.
Dia menangis memandangi tumpukan batu itu, dan kembali mengingat saat Si Jin berkata padanya bahwa bagian dari pekerjaannya adalah tidak terbunuh.
Mo Yeon berkata: “Pembohong,” dan menangis tersedu-sedu saat kembali mengingat pesan Si Jin sebelum pergi bahwa dia tidak akan mati. Dia tak kuasa menahan tangisnya saat kembali mengingat ucapan Si Jin “Aku mencintaimu.”
Dia menaruh batu dari pantai kapal karam di atas tumpukan batu kuburan Si Jin, tapi tiba-tiba saja dia mendengar “Big Boss“ memanggilnya lewat walkie talkie yang ia bawa.
Mo Yeon terkejut sampai menjatuhkan walkie talkie itu dari tangannya membuatnya berpikir belakangan ini dia sering mendengar hal-hal yang tidak masuk akal.
Tapi, dia kembali mendengar “Big Boss” memanggil dari walkie talkienya. Dia kembali mendengar suara dari walkie talkie yang menyuruhnya untuk berbalik. Mo Yeon berbalik, dan dari kejauhan dia melihat Si Jin yang berjalan ke arahnya.
“Saya tidak percaya ini. Ini tidak mungkin.”
Mo Yeon berlari sekencang-kencangnya untuk melihat wajah Si Jin yang ia cintai, tapi dia terjatuh. Si Jin bergegas berlari ke arahnya dan memeganginya.
“Sudah sangat lama,” ujar Si Jin.
“Kau. Kau hidup?”
“Saya berhasil mencapai misi sulit itu,” ucap Si Jin sambil menangis dan memeluk Mo Yeon.
Mo Yeon sangat bersyukur karna melihat Si Jin masih hidup, sementara Si Jin memeluknya dengan erat dan berkata: “Maaf. Maaf.”
Sumber Dok Gambar: KBS 2TV
Comments
Post a Comment