Sumber Dok Gambar: KBS 2TV
Mo Yeon berlari sekencang-kencangnya untuk melihat wajah Si Jin yang ia cintai, tapi dia terjatuh. Si Jin bergegas berlari ke arahnya dan memeganginya.
“Sudah sangat lama.”
“Kau. Kau hidup?”
“Saya berhasil mencapai misi sulit itu,” ucap Si Jin sambil menangis dan memeluk Mo Yeon.
Mo Yeon sangat bersyukur karna melihat Si Jin masih hidup, sementara Si Jin memeluknya dengan erat dan berkata: “Maaf. Maaf.”
“Brengsek,” ujar Mo Yeon dan melepaskan pelukan Si Jin.
“Brengsek. Apa semuanya baik-baik saja hanya karna kau hidup?”
“Brengsek,” ujar Mo Yeon sambil menangis.
Dia memukul-mukul Si Jin, dan berkata: “Saya merindukanmu. Tidak pernah aku melupakanmu.”
Tapi, Dia kemudian berdiri membelakangi Si Jin dan berkata: “Saya tidak membutuhkanmu. Saya akan hidup sendiri. Saya akan menjadi biarawati.”
Usai menumpahkan kekesalannya, pada akhirnya Mo Yeon memeluk Si Jin dengan erat dan berkata: “Aku mencintaimu.”
Ki Bum yang sedang makan ramen bersama Myung Ju takjub melihat salju yang turun. Dia memberitahu Myung Ju sepengetahuannya salju turun di Urk terjadi sekali tiap 100 tahun.
Myung Ju keluar untuk melihat salju itu, dan Mo Yeon mulai bernarasi:
“Hari itu, Letnan Satu Yoon mengatakan, terjadi salju untuk pertama kali dalam 100 tahun. Dan dia berkata ‘Dia (Dae Young) muncul di salju itu.”
Myung Ju berdiri dan melihat Dae Young berjalan perlahan menghampirinya. Air mata menetes di pipi Dae Young.
“Jawabanku sangat terlambat. Saya tidak akan meninggalkanmu. Bahkan jika saya mati, saya tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Myung Ju memukul-mukul dada Dae Young dan menangis, dan untuk menenagkannya Dae Young mencium bibirnya. Tapi Myung Ju masih memukulnya sambil menangis tersedu-sedu.
Dae Young kembali menciumnya dan mereka berdua berciuman di salju yang spesial itu.
Setelah Kim Ki Bum memberikan arahan pada prajurit di barak, Dae Young muncul dihadapannya. Melihat orang yang paling berjasa dalam hidupnya, Kim Ki Bum tak kuasa menahan tangisnya.
Dae Young memeluknya dan berujar: “Hei, bisakah seorang wakil pemimpin peleton menangis di depan peletonnya?”
Dia kembali bertanya tentang ujian kesetaraannya, dan Kim Ki Bum sambil terisak-isak berkata: “Saya lulus. Saya sekarang lulusan SMA.”
Myung Ju mengembalikan kalung ID Tag Dae Young dan memakaikannya dilehernya, dan kemudian mencukur jenggotnya.
“Saya tidak akan mati. Bahkan jika saya mati saya tidak akan pernah mati,” janji Dae Young pada Myung Ju.
“Aku tak percaya padamu. Tapi pastikan itu. Turun salju untuk pertama kalinya dalam 100 tahun. Dan kau kembali hidup-hidup. Saya menggunakan semua keberuntungan yang ada di dalam hidupku, sehingga semua yang tersisa yang kumiliki hanya dirimu.”
Myung Ju kemudian bertanya bagaimana Dae Young bisa sampai kesini dan bagaimana dengan Si Jin. Dae Young menceritakan ketika mereka pergi untuk melaporkan bahwa mereka masih hidup ke Kantor Pusat, mereka mendengar tentang Myung Ju. Sehingga mereka segera meninggalkan Kamp Pasukan Sekutu, dan bergegas datang kemari sementara Si Jin pergi ke Albania.
Myung Ju lanjut bertanya sepengetahuannya mereka berdua telah terbunuh dalam pertempuran oleh serangan bom dan tubuh mereka tak ditemukan. Dae Young menceritakan bahwa para milisi datang lebih cepat dibanding serangan bom. Mereka dibawa oleh para milisi dan terkunci di sebuah tempat bawah tanah yang tidak diketahui sekitar 150 sampai 155 hari.
Flashback: Si Jin dan Dae Young di tawan di ruang penjara bawah tanah, dan dua orang pria bersenjata datang untuk menembak mereka dan tiba-tiba saja seseorang menembak kedua milisi dari belakang hingga tewas.
Si penyelamat membuka topengnya, dan ternyata dia adalah An Jung Joon. Dia membantu sampai membebaskan mereka dari tahanan karna merasa berhutang budi atas snack yang pernah diberikan oleh Si Jin.
Si Jin berbaring ditenda perawatan dan memberitahu Mo Yeon bahwa dia mendapat bantuan seorang teman dari tempat yang sangat jauh.
Mo Yeon tak habis pikir melihat lengan Si Jin yang kembali patah, dan berjanji akan kembali mematahkannya.
“Kekasihku adalah seorang dokter. Kekasihku yang menempatkanku di tempat tidur, jadi saya berharap banyak,” canda Si Jin sambil menatapnya.
“Aku merindukan candamu,” ujar Mo Yeon dan memeluknya. Karna pelukannya yang begitu erat, Si Jin mengerang kesakitan dengan jarum infusnya yang tertindih.
Mo Yeon minta maaf, tapi Si Jin menganggap dialah yang harus meminta maaf. Si Jin kembali mengingat serentetan kejadian saat dirinya berada diambang maut.
“Saya tidak akan melakukan ini lagi,”ujar Si Jin.
Si Jin penasaran melihat buah-buahan dan minuman anggur yang tak jauh dari hadapannya. Mo Yen memberitahu Si Jin bahwa itu itu adalah makanan yang telah ia persiapkan untuk peringatan hari kematiannya yang jatuh hari ini.
Tapi, tiba-tiba saja Mo Yeon masih ragu apa Si Jin yang ia lihat sungguhan atau hantu, maka untuk memastikannya dia bertanya pada seorang relawan yang datang membawakannya pisau.
“Apa kau bisa melihat orang itu,” tanya Mo Yeon sambil menunjuk ke arah Si Jin.
Mo Yeon mengakui dia sempat merasa ragu karna Si Jin tiba-tiba saja muncul di peringatan hari kematiannya. Tapi karna sudah mempersiapkan semuanya, Mo Yeon menyuruh Si Jin menyantapnya.
Mo Yeon ditelpon oleh Ji Soo yang melakukan video call. Ji Soo dan yang lainnya sangat senang bisa melihat wajah Mo Yeon. Mo Yeon mengarahkan ponselnya mendekati cahaya lampu sehingga mereka bisa melihat wajahnya dengan jelas. Tapi Chi Hoon dan yang lainnya malah melihat Si Jin sedang menyantap buah-buahan dibelakang Mo Yeon.
Seketika itu mereka menduga telah melihat hantu Si Jin, apalagi Ja Ae mengetahui hari ini adalah peringatan hari kematian Si Jin. Sehingga mereka menduga hantu Si Jin datang memakan buah-buahan yang disiapkan oleh Mo Yeon. Sang Hyun jatuh pingsan, dan yang lainnya berteriak ketakutan, sementara Mo Yeon malah tertawa melihat tingkah teman-temannya.
Mereka kembali menelpon, dan kali ini Chi Hoon sambil menangis berkata pada Mo Yeon:
“Saya mencintaimu, saya merindukanmu. Ucapkan saja isi hatimu. Sehingga dia tidak akan gentayangan di dunia ini. Meskipun kau tidak akan mempercayainya, Kapten Yoo ada disana. Tolong beritahu dia untuk pergi ke tempat yang indah.”
Mo Yeoan hanya tertawa, tapi mereka akhirnya tersadar bahwa Si Jin yang mereka lihat bukan hantu saat dia menyapa mereka.
Si Jin dan Dae Young kembali ke kantor pusat markas militer di Korea yang disambut dengan gembira oleh para rekan-rekannya. Letjen Yoon langsung memeluk mereka berdua, dan bersyukur karna berhasil kembali dengan selamat.
Sementara itu, Park Byung Soo menyapa mereka dan mengungkapkan kelegaannya tapi bukannya karna melihat Dae Young dan Si Jin yang berhasil selamat tapi malah memamerkan kenaikan pangkat yang telah ia raih menjadi seorang Kolonel.
Dia senyum-senyum sendiri atas prestasi yang telah ia raih sementara Si Jin dan Dae Young dengan bahagia menyapa satu timnya. Park Byung Soo yang merasa dicuekin kemudian memerintahkan agar Dae Young dan Si Jin menulis laporan saat mereka ditawan para milisi setebal alkitab.
Si Jin menyentuh dengan ujung jarinya sebuah kertas A4 dan memberitahu Dae Young bahwa dia lebih takut dengan A4 dibanding dibanding C4 (sebuah bahan peledak.”
Dae Young kemudian mengingat dipergelangan tangan salah satu milisi yang menginterogasi mereka dengan teknik waterboarding ada sebuah tato Spersnaz (Spersnaz: Mantan Pasukan Khusus Soviet) di pergelangan tangannya, tapi Si Jin merasa mereka akan terlihat buruk jika hanya dipenuhi tulisan dimana mereka dikalahkan.
Dia memberi ide untuk menulis di laporan bahwa mereka sekali seminggu menyerang balik dan mencoba melarikan diri sekali sebulan.
Dae Young setuju dan telah menulis cerita karangan versi mereka. Si Jin menginginkan agar mereka menyeimbangkan antara kenyataan dan drama, sehingga menyarankan untuk menggunakan cerita film Rainbow sebagai pedoman.
Dae Young tidak setuju karna menurutnya film itu terjadi di Vietnam sehingga senjata maupun detailnya tidak akan cocok. Dia kemudian menyarankan untuk menggunakan film Bourne kesukaan Myung Ju sebagai petunjuk.
Si Jin setuju. Tapi malah melimpahkan semua tugas menulis laporan itu kepada Dae Young sementara dia bergegas ingin pergi untuk bertemu dengan Mo Yeon.
Dae Young protes, dan Si Jin menjelaskan dia harus mengalah karna kekasihnya sedang ada di Urk berbeda dengan kekasihnya yang sekarang berada di Korea.
Si Jin dan MoYeon datang ke rebuah restoran, Si Jin mengingatkan bahwa ini adalah tempat dimana Mo Yeon pernah mencampakkannya.
Mo Yeon menjawab tentu saja.
“Saya tak tahu apa saya juga akan mencampakkanmu hari ini,” ujar Mo Yeon.
“Itulah mengapa saya bertanya kelak apa kau akan terus melakuan pekerjaan yang mengharuskanmu pergi ke Department Store. Saya bertanya-tanya apa hal itu karna kau ingin menjadi seorang pahlawan.”
“Menjadi pahlawan yang harus mati, tidak ada seorang prajurit pun yang tertarik dengan hal itu.” Si Jin mengatakan bahwa mereka hanya melindungi kedamaian di suatu tempat yang membutuhkan kedamaian mereka untuk dilindungi.
Mo Yeon bertanya apa Si Jin akan terus melakukan pekerjaannya meskipun dia menolaknya.
“Apa kau akan menentangnya?” tanya Si Jin.
Mo Yeon memberitahu Si Jin bahwa dia tidak akan menentang pekerjaannya. Mo Yeon menyadari pekerjaan Si Jin adalah untuk melindungi kedamaian terlepas dari hidupnya yang ia pertaruhkan, dan ia pun ingin melindungi kedamaian sama seperti dirinya.
Si Jin berterima kasih atas dukungannya, dan meskipun harus kembali mengucapkan kata maaf.
Mo Yeon kemudian mengajak Si Jin untuk pergi memancing esok hari sebagai terapi jiwa untuknya, dan berjanji akan menghibur dan menggunakan semua pesonanya.
Tapi keesokan harinya saat mereka duduk di tepi danau sambil memancing, yang ada malah wajah Mo Yeon cemberut dan sampai kesal karna sudah dua jam tak ada satupun ikan yang berhasil mereka dapatkan. Dia mengaku kesal jika harus berlama-lama seperti ini sehingga dia memutuskan akan mengganti rencana pengobatan untuk Si Jin.
Dia melihat peta di jamnya, dan mengajak Si Jin ke Arboretum dengan berjalan kaki sambil menghirup udara segar. Tapi Si Jin protes dengan idenya yang satu ini.
“Apa kamu tahu berapa kilomoter saya harus berlari tiap tahunnya.”
Mo Yeon melihat ada sebuah biara yang dekat didaerah tempat mereka memancing, tapi Si Jin kembali protes.
“Apa kamu tahu berapa bulan saya harus terjebak dengan rekan-rekan pria?” gerutu Si Jin.
Karna tak satupun idenya yang disetujui oleh Si Jin, Mo Yeon bertanya apa yang ia ingin ia lakukan. Si Jin menjawab sesuatu yang biasa. Dia melihat cuaca sangat dingin dan tidak mendapat satupun ikan sehingga dia menyarankan agar mereka beristirahat ke dalam tenda, dan menganggapnya seperti dalam suasana “hanya ada satu kamar yang tersisa.”
Si Jin kemudian mengungkit ucapan Mo Yeon sewaktu masih di rumah sakit bahwa dia tidak akan berbaring diranjang yang sama dengan seorang pria. Tapi Mo Yeon membantahnya.
“Itu bukan saya,” ujar Mo Yeon.
Dan disela-sela perbincangan mereka, Mo Yeon berhasil menangkap seekor ikan di pancingannya. Si Jin merasa geli saat harus mengirisnya sehingga Mo Yeon yang turun tangan.
Malamnya, Mo Yeon melihat sebuah hotel diponselnya. Si Jin berpendapat hotelnya sangat menyenangkan dan tempat tidurnya sangat besar dan enak dipakai.
Tapi Mo Yeon menyebut Si Jin bodoh, dan berpendapat bahwa tempat tidur jauh lebih baik jika lebih kecil. Mendengar ucapannya, Si Jin bertanya bajingan seperti apa yang mengajarinya hal buruk seperti itu.
Mo Yeon menjawab Yoo Si Jin yang melakukannya. Mo Yeon mengatakan bahwa dia bertahan melewati waktu saat dia menghilang karna sebuah batu kapal karamnya.
Mo Yeon memegang batu kapal karam dan berkata pada Si Jin: “Saya harus meninggalkannya disana. Saya harus mengembalikannya. Ketika saya mengembalikannya saya harus melupakan segalanya. Saya harus melupakannya dan mengikhlaskannya.”
Mo Yeon kemudian menceritakan bahwa dia telah membeli sebuah tiket pesawat tapi kemudian membatalkannya. Dia memesan sebuah hotel tapi juga membatalkannya, dan meminta cuti tapi kemudian membatalkannya.
Dia kemudian mengungkapkan keinginannya agar bisa kembali ke pantai kapal karam bersama Si Jin. Si Jin bertanya kapan mereka akan berangkat, dan Mo Yeon berbicara dengan ketus: “Kau harus juga menunggu dengan kejam sama seperti yang telah kulakukan.” Si Jin tertawa, dan bersedia menerima itu sebagai hukuman untuknya.
Si jin kemudian bersandar di pundak Mo Yeon dan bermanja-manja. Dia menyodorkan bibirnya untuk mencium Mo Yeon tapi sayang malam itu Mo Yeon menolak memberinya kecupan.
Sementara itu, Dae Young yang masih sibuk membuat laporan tiba-tiba ditelpon oeh Myung Ju yang sedang berada di urk. Myung Ju memberitahu Dae Young bahwa tiap kali dia bangun dari tidurnya, dia bertanya pada Ki Bum apa kedatangan Dae Young bukan mimpi. Meskipun demikian, Myung Ju mengakui hanya dengan menelpon dan mendengar suara Dae Young bisa membuat hatinya tenang.
Dae Young berpesan agar Myung Ju bisa menelponnya kapanpun. Dia bersedia akan menjawab telponnya meskipun dalam tidurnya. Tapi Dae Young memberitahu Myung Ju bahwa besok dia tidak akan bisa menbjawab telponnya karna kedatangan tamu VIP.
Keesokan harinya, para tentara bersiap menjaga keamanan termasuk Si Jin dan Dae Young di markas pusat karna kedatangan tamu spesial. Sebuah mobil tiba, dan para anggota girlband Red Velvet keluar yang dikawal oleh Dae Young bersama Woo Geun. Dan hal itu membuat iri Si Jin karna telah kehilangan sebuah kesempatan.
Anggota Red Velvet berada di atas panggung yang disambut sangat meriah oleh para tentara tanpa terkecuali Dae Young dan Si Jin. Mereka berdua berteriak dengan histeris bersama tentara lainnya.
Chi Hoon yang lagi duduk santai di ruang kantin rumah sakit melihat sebuah video yang memperlihatkan konser Red Velvet di tabletnya. Dan di video teresebut, dia melihat dengan jelas Si Jin yang berada di garis depan berteriak “Kami mencintai Kang Seulgi!”bersama tentara lainnya
Chi Hoon kaget dan berusaha menyembunyikannya, tapi Min Ji yang terlanjur meihat video tersebut langsung memperlihatkannya kepada Mo Yeon.
Wajah Mo Yeon seketika itu cemberut melihat bagaimana genitnya Si Jin dan bahkan mendengar dengan jelas bagaimana kekasihnya berteriak “kami mencintaimu Kang Seulgi. Kami mencintaimu selamanya.”
“Itu bukan kapten Yoo Si Jin,” ujar Mo Yeon sambail meremas dengan erat botol plastik minumannya.
Di ruang ganti, Mo Yeon yang masih dibuat jengkel karna ulah Si Jin kemudian meminta bantuan presenter yang akan memandu acara TVnya. Dia memintanya menyisipkan pertanyaan apakah Mo Yeon telah memiliki seorang kekasih.
Dan tepat seperti permintaannya, di akhir acara TV Mo Yeon, si presenter bertanya apakah dia sudah mempunyai kekasih. Dengan sebuah senyuman lebar di wajahnya Mo Yeon menjawab dia tidak mempunyai kekasih karna sibuk.
Pada akhirnya, Si Jin menggerutu dengan ucapan Mo Yeon di acara siaran TVnya yang mengaku tidak mempunyai kekasih.
“Lantas kau anggap apa aku? Ah… saya menebak saya seorang sahabatmu. Seorang sahabat yang adalah seorang tentara.”
Mo Yeon kemudian membalas dengan menyebutkan sikap Si Jin di sebuah acara yang sangat genit, seolah-olah tidak mempunyai kekasih.
“Saya menonton acaranya. Kau sangat liar dengan sebuah girlband.”
Si Jin beralasan bahwa dia hanya bersorak ketika komandan batalionnya tiba, dan tak menyangka tayangannya malah diedit seperti itu. Tapi, tentu saja Mo Yeon tak percaya dengan alasan klisenya.
“Jadi kau bersiul seperti orang gila setelah melihat komandan batalion? Apa komandanmu berkulit putih?,” dan Si Jin hanya mengangguk memasang wajah polosnya.
Tidak hanya Si Jin yang ditegur dengan sikap genitnya di depan Red Velvet, tapi juga Dae Young. Myung Ju marah besar sampai memukul meja dengan keras dan mengancam Dae Young akan mendapat ganjarannya setelah dia kembali nanti.
Karna Mo Yeon masih ngambek, Si Jin berusaha meredam amarahnya dengan mengakui bahwa semua adalah kecerobohannya, dan hal itu bukan kesalahan Red Velvet.
Melihat kekasihnya masih membela Red Velvet, Mo Yeon memukul Si Jin berkali-kali dengan bantal kursi.
Tapi Mo Yeon berhenti memukuli Si Jin saat diberitahu bahwa dia telah mendapat promosi. Mendengarnya seketika itu, rona bahagia terpancar jelas di wajahnya karna kenaikan gaji yang akan diterima oleh kekasihnya.
Si Jin secara resmi dilantik oleh Letjen Yoon dari pangkat sebelumnya seorang kapten menjadi seorang Mayor yang disaksikan oleh rekan-rekannya.
Mo Yeon bernarasi: “Pria satu-satunya di dunia ini yang kusukai, adalah yang berprofesi sebagai seorang tentara Korea. Seperti biasa, dia masih percaya bahwa yang tua, yang cantik dan anak-anak harus dilindungi. Seorang Mayor terhormat dalama satuan Khusus. Dan saya seperti biasa seorang dokter siaran TV, tentu saja di Rumah Sakit Haesung.”
Sumber Dok Gambar: KBS 2TV
Comments
Post a Comment