Tulisan ini saya tulis karena mengikuti Writing Challenge yang diadakan Storial.co dan Dapur Cokelat (tapi gagal menang) jadi saya tulis ulang di sini.
Btw, di lomba ini ada 14 judul berbeda-setiap hari berbeda. dan saya membuatnya berurutan sehingga jadi sebuah cerita pendek yang bersambung ☺☺
Happy reading.
“Lagi mikirin apa?” tanyanya mengagetkanku.
Aku menoleh pada asal suara, lalu menggeleng
setelah melihat wajah penasaran pria itu. “Nggak pa-pa.”
Pria itu masih menunjukkan wajah penasaran
“Mikirin aku ya?”
“Pede banget kamu mas, siapa juga yang mikirin
tukang gambar yang kerjanya nggak kenal waktu. aku mulai menggerutu "Biasanya sih aku mikir orang lain kalau kamu lagi sibuk sama duniamu."
“Kan aku tukang gambar favoritmu. Tukang gambar
paling ganteng yang jatuh cinta sama kamu.” dia mulai mengeluarkan jurus
andalannya untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.-membual.
“Ih, gombal kamu.”
“Biarin, yang penting mbak dokter suka sama mas tukang
gambar.” Ia terkekeh.
“Mana cokelat pesenan aku?”
“Memang kamu pesan cokelat? Kapan?”
“Nggak baca chatku yang terakhir?”
Dia merogoh celana jeans gelapnya, mengambil
ponsel hitam yang setia menemaninya. “Sorry, nggak kebaca, kan lagi
nyetir.”
“Alasan.” aku menggerutu.
“Yaudah, yaudah, mau cari dimana?”
Aku mengangkat bahu.
“Nih ya, orang dianya yang pengen, tapi juga
nggak ngerti mau cari dimana. Lagi PMS mbak?” katanya "Aku di jalan mana pernah main hape kalau nggak telepon."
“Nggak lucu tau, udah nggak kepengen lagi.”
“Duh gusti, kalau dia hamil jangan sampai
nyusahin bapak si jabang bayinya. Kasihani hamba Ya Allah.” Pria itu berakting
menjadi pria yang disakiti di depanku.
Akhirnya aku terkekeh “Yasudah, cari calon istri
lain aja.”
“Ih kok ngambek gini? Migrennya kumat lagi ya
mbak? Mana yang sakit?” kini dia memeriksa kepalaku seperti seorang dokter.
“Mas ih.” kini aku tertawa menolak tangannya yang
mulai menggelitik di leherku. “Nggak ngambek deh.” Ujarku masih sambil tertawa.
Dia mengecup pipiku sekilas untuk mengakhiri
serbuan mautnya “Masih mau cokelat? Ayo aku antar cari cokelat.”
“Nggak usah, kamu udah disini dan aku males
keluar. Sudah makan? Gimana proyeknya?”
“Proyek oke, cuma mungkin aku bakal lebih sering
ke lokasi karena bos minta aku stay disana.” Jawabnya “Belum makan,
kamu masak apa hari ini?”
Aku mengangguk-angguk paham “Cuma bikin ayam
balado. Mau?”
Dia mengangguk antusias, lalu berdiri dari
kursinya, berjalan menuju dapur kecil apartemenku.
Aku menggeleng melihat bagaimana antusias pria
itu ketika makan, entah karena memang di lokasi proyek ia kesulitan mencari
waktu untuk makan atau karena memang dia gemar makan.
“Cokelatnya ada di tas aku, buka aja.” ujarnya
dari dapur.
Aku mengalihkan pandanganku dari televisi menuju
tas ransel pria itu yang ada di sampingku, membuka bagian terbesar dan menemukan
satu kotak cokelat dengan pesan tertempel diatasnya.
Cause all of me, loves all of you.
Dari tukang gambar yang dibutakan cinta dokter anak.
Aku tertawa setelah membaca pesan itu, lalu
berlari menuju dirinya yang sedang menuang sirup di depan lemari es. Memeluk
punggung kokohnya “ I love you too tukang gambarku.”
Dia tertawa "Udah deh, laper nih saya bu
dok, kalau mau meluk-meluk gini tunggu tahun depan ya? Biar disah-in dulu sama
bapak." ujarnya "Menurutku cuma ada dua hal yang paling manis yaitu
cokelat dan senyumanmu. All I need is you."
#DapurCokelat - All Of Me

Comments
Post a Comment