Skip to main content

Liefdesgeschiedenis - Berry Happy (2)


“Kamu tahu kenapa ini disebut Berry Happy?”

Dia menggeleng, masih asyik dengan Almond Chesse Tarlet miliknya.

“Aku juga nggak tahu, makanya aku tanya.” gurauku “Rasanya itu kaya kamu.”

“Kok aku?”

“Iya, asem-asem tapi manis membuat kita selalu bahagia di setiap gigitannya, kalau kamu nyebelin tapi bikin kangen dan bahagia di saat yang bersamaan.”


Aku tersenyum, melihat kue di mejaku; Berry Happy dan dia dengan Almond Chesse Tarlet kegemarannya.

Cara berdamai dengan kenangan adalah dengan menghadapinya bukan? Sekarang aku di sini, dan entah dia di mana, dia dengan dunianya yang tidak ada aku didalamnya. Sometimes, it’s not the person you miss, it’s the feeling you had when you were with them. Aku merindukannya seperti merindukan diriku sendiri ketika kami bersama, dan itu hal sulit.


“Belajar gombal dari mana sih ini dokter? Habis dapet gombalan dari papa-papa ganteng yang nganter anaknya berobat ya?” katanya sambil mengacak rambutku.

Aku tertawa, “Iya, tadi pagi ada hot daddy gitu nganter anaknya, dia tentara tapi MasyaAllah gantengnya kaya Mas Agus anak presiden itu, kan bikin meleleh.”

“Iya deh, sukanya yang begitu, aku mah cuma tukang gambar.”

Aku tertawa makin kencang “Mas tukang gambarnya cemburu nggak?”

“Nggak.” jawabnya singkat.

“Yaudah deh, nanti aku chat mas tentara aja, kebetulan dia single parent dan tadi minta nomer ponselku.” Godaku.

“Centil ya sekarang bu dokter? Dulu yang ngejar-ngejar aku siapa coba kalau bukan bu dokter?”



Dulu, semua rindu terasa wajar, semua tawa terasa biasa ketika kami bersama, tapi kini, semua rasa ini terasa asing, aku hampir tak mengenali rasa sepi , awalnya aku hanya diam namun masih saja enggan berdamai dengan masa lalu.

Sometimes we can’t let go of memories, because they are constant reminders of a great story that we never expect to end. Hubungan kami berakhir tanpa aku sadari, dari pertengkaran kecil hingga ego yang membesar kemudian berujung pada satu kata perpisahan.


“Aku tau kita saling mencintai, karena akupun begitu. Kamu terlalu baik buat aku.”

“Kamu dapet omongan receh gitu dari mana? Dari cabe-cabean yang nongkrong di lokasi proyek kamu?”

“Aku serius, aku nggak bisa membahagiakan kamu nantinya”

“Memangnya aku pernah minta apa sama kamu? All I need is you. Kamu sendiri yang bilang begitu.” Aku mengingat percakapan kami tempo hari.

“Bisa kita selesaikan ini baik-baik?”

“Dari tadi aku biasa aja, kamu aja yang ngigo mas. Maksud kamu aja aku belum ngerti.” ujarku hampir frustasi. “Kamu kesurupan makhluk di lokasi proyek ya? Habis luar kota satu bulan kok jadi begini.”

“Hey, denger. Aku rasa hubungan kita sampai disini, aku nggak mau kamu terlalu berharap dengan aku, hidup aku dan hidup kamu itu berbeda.”

“Dari dulu memang kita berbeda? Tapi kita masih bisa bersama, sekarang kamu mau alasan apalagi?”

Dia mendesah keras “Aku punya masalah yang aku sendiri nggak sadar sudah melakukan kesalahan itu, dan sekarang aku mau kita berpisah supaya aku bisa menyelesaikan masalahku.”

“Kamu mau waktu? Aku akan memberikan waktu dan ruang supaya kamu bisa menyelesaikan masalah kamu sendiri. Kalau yang kamu takutkan aku ikut campur, fine. Aku nggak akan ikut campur.”

“Semuanya terlalu berat buat aku, aku sendiri nggak tahu harus menjelaskan darimana. Shit! Kamu nggak mempermudah semuanya. Aku pergi.” Kemudian terdengar pintu dibanting dan membuat harapan yang sudah kurangkai hilang bersama dengan langkahnya yang menjauh.



The worst feeling isn’t being lonely, it’s being forgotten by someone you’d never forget. Sekarang, bukan cuma bayi demam atau imunisasi yang harus aku kerjakan, tapi aku juga harus mengerjakan satu pekerjaan baru : melupakan.


#DapurCokelat - Berry Happy


Comments

Popular posts from this blog

Advertisement

Surabaya, 24 Juli 2019. Hallo. Setelah sekian lama berhenti menulis, akhirnya saya datang kembali, namun datang dengan prospek usaha dari perusahaan dari tempat saya bekerja. Ini dia.. Jadi, perkenalkan, ini adalah mesin printer, yang bisa mencetak gambar di berbagai media pangan, contohnya kopi, jus, dan kue. Semua bisa dicetak dan dinikmati dengan tinta edible yang aman diminum dengan sertifikasi halal dari MUI dan aman dari BPOM. Karena masih pagi, jadi ijinkan saya salin dan tempel dari website perusahaan saya. https://www.coffee-printer.com Keuntungan menggunakan Coffee Printer untuk bisnis anda bisa anda temukan di  sini… ATTENTION . WANTO TO GIVE A BUZZ TO YOUR BUSINESS? Apakah anda punya  MASALAH  dengan  PERSAINGAN? Atau  PROSPEK EKONOMI  mengganggu bisnis anda? Mungkinkah sebuah peralatan yg inovatif seperti Coffee Printer yg anda perlukan? CONSIDER THIS IDEA! HADIRKAN IDE SEGAR  dan  KREATIF Manfa...

Author of the Week

Disini, saya ingin membicarakan tentang penulis-penulis yang "warbiyasah" Dan, untuk yang pertama kalinya saya mau membicarakan....... ETGAR KERET. Jadi, bapak Etgar Keret ini adalah penulis yang lahir di Ramat Gan, 20 agustus 1967. Si bapak ini juga terlahir sebagai anak ketiga dari pasangan yang selamat dari Holokaus (Holocaus adalah bencana pembunuhan orang yahudi yang didukung oleh nazi yang saat itu dipimpin Adolf Hitler. sumber :Wikipedia ) Kedua orang tuanya berasal dari Polandia. Dia tinggal di Tel Aviv dengan istrinya, Shira Geffen, dan putra mereka, Lev. Dia adalah seorang dosen di Ben-Gurion University of the Negev di Beer Sheva, dan di Tel Aviv University. Dia memegang kewarganegaraan ganda Israel dan Polandia Etgar Keret juga adalah satu-satunya penulis dari Israel yang bukunya boleh beredar di Palestina. Salah satu bukunya yang terkenal adalah The Seven Good Years yang terbit di tahun 2015: sebuah memoar yang humanis, cerkas, mengh...

Apa yang baru?

Surabaya, 27 Agustus 2020 Sudah beberapa waktu blog ini tidak terurus, dan saya berpikir "ini mau diapakan?"  Akhirnya hari ini saya obrak-abrik, pilih tema yang simpel tapi tetap cantik menurut saya, dan akhirnya jadi seperti ini; tenang, pastel dan tidak terlalu banyak warna.  Selamat datang kembali! xoxo, Inggridtyas