Dia menggeleng, masih asyik dengan Almond Chesse Tarlet
miliknya.
“Aku juga nggak tahu, makanya aku tanya.” gurauku “Rasanya itu
kaya kamu.”
“Kok aku?”
“Iya, asem-asem tapi manis membuat kita selalu bahagia di setiap
gigitannya, kalau kamu nyebelin tapi bikin kangen dan bahagia di saat yang
bersamaan.”
Aku tersenyum, melihat kue di mejaku; Berry Happy
dan dia dengan Almond Chesse Tarlet kegemarannya.
Cara berdamai dengan kenangan adalah dengan
menghadapinya bukan? Sekarang aku di sini, dan entah dia di mana,
dia dengan dunianya yang tidak ada aku didalamnya. Sometimes, it’s not
the person you miss, it’s the feeling you had when you were with them. Aku
merindukannya seperti merindukan diriku sendiri ketika kami bersama, dan itu
hal sulit.
“Belajar gombal dari mana sih ini dokter? Habis dapet gombalan
dari papa-papa ganteng yang nganter anaknya berobat ya?” katanya sambil
mengacak rambutku.
Aku tertawa, “Iya, tadi pagi ada hot daddy gitu nganter anaknya,
dia tentara tapi MasyaAllah gantengnya kaya Mas Agus anak presiden itu, kan
bikin meleleh.”
“Iya deh, sukanya yang begitu, aku mah cuma tukang gambar.”
Aku tertawa makin kencang “Mas tukang gambarnya cemburu nggak?”
“Nggak.” jawabnya singkat.
“Yaudah deh, nanti aku chat mas tentara aja, kebetulan dia
single parent dan tadi minta nomer ponselku.” Godaku.
“Centil ya sekarang bu dokter? Dulu yang ngejar-ngejar aku siapa
coba kalau bukan bu dokter?”
Dulu, semua rindu terasa wajar, semua tawa terasa
biasa ketika kami bersama, tapi kini, semua rasa ini terasa asing, aku hampir
tak mengenali rasa sepi , awalnya aku hanya diam namun masih saja enggan
berdamai dengan masa lalu.
Sometimes we can’t let go of memories,
because they are constant reminders of a great story that we never expect to
end. Hubungan kami berakhir tanpa aku sadari, dari pertengkaran kecil
hingga ego yang membesar kemudian berujung pada satu kata perpisahan.
“Aku tau kita saling mencintai, karena akupun begitu. Kamu
terlalu baik buat aku.”
“Kamu dapet omongan receh gitu dari mana? Dari cabe-cabean yang
nongkrong di lokasi proyek kamu?”
“Aku serius, aku nggak bisa membahagiakan kamu nantinya”
“Memangnya aku pernah minta apa sama kamu? All I need is you.
Kamu sendiri yang bilang begitu.” Aku mengingat percakapan kami tempo hari.
“Bisa kita selesaikan ini baik-baik?”
“Dari tadi aku biasa aja, kamu aja yang ngigo mas. Maksud kamu
aja aku belum ngerti.” ujarku hampir frustasi. “Kamu kesurupan makhluk di
lokasi proyek ya? Habis luar kota satu bulan kok jadi begini.”
“Hey, denger. Aku rasa hubungan kita sampai disini, aku nggak
mau kamu terlalu berharap dengan aku, hidup aku dan hidup kamu itu berbeda.”
“Dari dulu memang kita berbeda? Tapi kita masih bisa bersama,
sekarang kamu mau alasan apalagi?”
Dia mendesah keras “Aku punya masalah yang aku sendiri nggak
sadar sudah melakukan kesalahan itu, dan sekarang aku mau kita berpisah supaya
aku bisa menyelesaikan masalahku.”
“Kamu mau waktu? Aku akan memberikan waktu dan ruang supaya kamu
bisa menyelesaikan masalah kamu sendiri. Kalau yang kamu takutkan aku ikut
campur, fine. Aku nggak akan ikut campur.”
“Semuanya terlalu berat buat aku, aku sendiri nggak tahu harus
menjelaskan darimana. Shit! Kamu nggak mempermudah semuanya. Aku pergi.”
Kemudian terdengar pintu dibanting dan membuat harapan yang sudah kurangkai
hilang bersama dengan langkahnya yang menjauh.
The worst feeling isn’t being lonely, it’s
being forgotten by someone you’d never forget. Sekarang, bukan cuma bayi
demam atau imunisasi yang harus aku kerjakan, tapi aku juga harus mengerjakan
satu pekerjaan baru : melupakan.
#DapurCokelat - Berry Happy

Comments
Post a Comment