Aku sedang mencelupkan Choco Dip Stick ke susu
hangat saat aku mendengar suara seseorang dari belakang tempatku duduk.
“Menurut gue, ada tiga tipe orang yang sedang
makan cokelat. Yang pertama dia memang pecinta cokelat, yang kedua dia sedang
patah hati, yang terakhir, pasti dia terpaksa makan karena nemenin pacarnya
yang suka cokelat “ kata seorang lelaki kemudian dia tertawa. “Dan elo termasuk
yang ketiga kan. Sekarang mana cewek elo yang penggila cokelat itu?”
“Nggak tahu, macet kali, gue chat belum dibaca.”
“Cewek tuh gitu ya? Pasti bilang pacarnya begini
‘jangan telat’ eh tapi dia sendiri yang terlambat. Nggak tahu apa kita para
lelaki juga punya urusan seabrek dibanding nunggu mereka. Gimana kita bisa
kerja keras buat memenuhi kebutuhan dia kalau dia aja nuntut kita buat nunggu
begini. Dasar cewek jaman sekarang.” gerutu pria itu lagi.
“Elo cowok kok banyak omong sih Ndra?” ujar
lelaki lainnya, mungkin dia yang sedang menunggu seseorang. Pikirku.
“Habisnya gue bukan penggila cokelat, cokelat
terlalu manis buat gue yang udah manis dari orok.”
“Pantesan elo jomlo ngenes, habis elo pede gila.”
“Gue bukan jomlo ya, gue cuma pria pemilih yang
nggak mau mainan cinta sama perempuan yang banyak tingkahnya. Mending dia
cinta, paling yang ada dia bakalan ninggalin kita buat cowok lain yang lebih
ganteng atau lebih kaya.”
“Curhat?”
“Lo pikir aja, cewek jaman sekarang satu tipe
semua, dia mau diturutin tapi nggak mau nurutin kita.”
“Elo aja yang mintanya aneh-aneh.”
“Gue minta apa sih sama dia Bud? Gue cuma minta dia
sabar sampai gue berhasil sebelum nikahin dia, karena gue sadar nikah nggak
cuma butuh cinta, nikah butuh materi yang nggak sedikit dan gue nggak mau
keluarga gue kekurangan nantinya. Terus salahnya dimana?”
“Salah elo yang nggak mau nikah cepet, biasanya
cowok kan minta cepet nikah biar halal, lah elo malah mau nunda nikah.”
“Ya dianya aja yang nggak mikir jauh, sorry man,
gue mikir masa depan, karena kita nggak akan ngerti masa depan kejamnya
bagaimana. Jakarta udah lebih kejam dari ibu tiri, apa lagi masa depan?
Aku masih diam-diam mendengarkan pembicaraan
mereka hingga susuku menyisahkan setengah dari cangkir.
“Terus elo mau cari yang kaya bagaimana lagi?”
“Nggak ngerti, nunggu jodoh yang udah disiapin
sama tuhan aja, nggak muluk-muluk yang penting dia bisa diajak kerja sama aja
sama semua visi dan misi hidup gue.”
“Elo cari aja di Pluto kalau begitu.” kemudian
kudengar tawa yang cukup keras.
Aku ikut terkekeh, tak lama kemudian perempuan
bak model datang melewati mejaku dan berhenti di meja tempat kedua lelaki itu,
kudengar perempuan itu berkata “Sorry sayang baru dateng, macet tadi.”
“Iya nggak papa.”
“Gue nih yang udah kenapa-kenapa, lama banget.” gerutu laki-laki yang sedari tadi banyak bicara.
Akhirnya susu panasku tandas, aku segera
membereskan barangku dan perlahan meninggalkan meja, kulirik meja belakangku
dan melihat sosok yang masih menggerutu. Pandangan kami bertemu lalu dia
menyebutkan namaku dengan mudahnya “Andian?” yang kubalas dengan senyuman serta
anggukan.
Pria itu berdiri, melangkah ke arahku “Apa kabar
kamu?”
“Baik kak.” Jawabku.
“Mau pulang?”
Aku mengangguk lagi.
Dia ber-oh ria “Buru-buru ya? Mau ngobrol
sebentar?”
“Udah sore kak, takut macet di jalan, komuter nya
penuh nanti. Kapan-kapan aja ya?”
Kulihat dia sedikit kecewa “Mau aku antar?”
“Nggak sibuk?”
“Nggak sibuk dia, dia jomlo banyak ngeluh.”
celetuk teman pria itu.
Aku terkekeh, pria yang kupanggil kakak itu
mengeluarkan sumpah serapahnya tanpa suara.
“Kamu mau Aku antar? Indekos kamu masih sama?”
Aku menggeleng "Aku tinggal di apartemen di
pinggir jakarta kak." kemudian tersenyum.
"Ya sudah, sebentar.”
“Rasa- rasanya itu status jomblo bakal gugur
nih.” Kata temannya.
“Diem lo dasar tali jemuran.” kemudian dia
kembali ke mejanya untuk mengambil ponsel kemudian berjalan di sampingku.
“Ayo.”
#DapurCokelat - Choco Dip Stick

Comments
Post a Comment