Skip to main content

Liefdesgeschiedenis - Choco Dip Stick (3)


Aku sedang mencelupkan Choco Dip Stick ke susu hangat saat aku mendengar suara seseorang dari belakang tempatku duduk.

“Menurut gue, ada tiga tipe orang yang sedang makan cokelat. Yang pertama dia memang pecinta cokelat, yang kedua dia sedang patah hati, yang terakhir, pasti dia terpaksa makan karena nemenin pacarnya yang suka cokelat “ kata seorang lelaki kemudian dia tertawa. “Dan elo termasuk yang ketiga kan. Sekarang mana cewek elo yang penggila cokelat itu?”

“Nggak tahu, macet kali, gue chat belum dibaca.”

“Cewek tuh gitu ya? Pasti bilang pacarnya begini ‘jangan telat’ eh tapi dia sendiri yang terlambat. Nggak tahu apa kita para lelaki juga punya urusan seabrek dibanding nunggu mereka. Gimana kita bisa kerja keras buat memenuhi kebutuhan dia kalau dia aja nuntut kita buat nunggu begini. Dasar cewek jaman sekarang.” gerutu pria itu lagi.

“Elo cowok kok banyak omong sih Ndra?” ujar lelaki lainnya, mungkin dia yang sedang menunggu seseorang. Pikirku.

“Habisnya gue bukan penggila cokelat, cokelat terlalu manis buat gue yang udah manis dari orok.”

“Pantesan elo jomlo ngenes, habis elo pede gila.”

“Gue bukan jomlo ya, gue cuma pria pemilih yang nggak mau mainan cinta sama perempuan yang banyak tingkahnya. Mending dia cinta, paling yang ada dia bakalan ninggalin kita buat cowok lain yang lebih ganteng atau lebih kaya.”

“Curhat?”

“Lo pikir aja, cewek jaman sekarang satu tipe semua, dia mau diturutin tapi nggak mau nurutin kita.”

“Elo aja yang mintanya aneh-aneh.”

“Gue minta apa sih sama dia Bud? Gue cuma minta dia sabar sampai gue berhasil sebelum nikahin dia, karena gue sadar nikah nggak cuma butuh cinta, nikah butuh materi yang nggak sedikit dan gue nggak mau keluarga gue kekurangan nantinya. Terus salahnya dimana?”

“Salah elo yang nggak mau nikah cepet, biasanya cowok kan minta cepet nikah biar halal, lah elo malah mau nunda nikah.”

“Ya dianya aja yang nggak mikir jauh, sorry man, gue mikir masa depan, karena kita nggak akan ngerti masa depan kejamnya bagaimana. Jakarta udah lebih kejam dari ibu tiri, apa lagi masa depan?

Aku masih diam-diam mendengarkan pembicaraan mereka hingga susuku menyisahkan setengah dari cangkir.

“Terus elo mau cari yang kaya bagaimana lagi?”

“Nggak ngerti, nunggu jodoh yang udah disiapin sama tuhan aja, nggak muluk-muluk yang penting dia bisa diajak kerja sama aja sama semua visi dan misi hidup gue.”

“Elo cari aja di Pluto kalau begitu.” kemudian kudengar tawa yang cukup keras.

Aku ikut terkekeh, tak lama kemudian perempuan bak model datang melewati mejaku dan berhenti di meja tempat kedua lelaki itu, kudengar perempuan itu berkata “Sorry sayang baru dateng, macet tadi.”

“Iya nggak papa.”

“Gue nih yang udah kenapa-kenapa, lama banget.” gerutu laki-laki yang sedari tadi banyak bicara.

Akhirnya susu panasku tandas, aku segera membereskan barangku dan perlahan meninggalkan meja, kulirik meja belakangku dan melihat sosok yang masih menggerutu. Pandangan kami bertemu lalu dia menyebutkan namaku dengan mudahnya “Andian?” yang kubalas dengan senyuman serta anggukan.

Pria itu berdiri, melangkah ke arahku “Apa kabar kamu?”

“Baik kak.” Jawabku.

“Mau pulang?”

Aku mengangguk lagi.

Dia ber-oh ria “Buru-buru ya? Mau ngobrol sebentar?”

“Udah sore kak, takut macet di jalan, komuter nya penuh nanti. Kapan-kapan aja ya?”

Kulihat dia sedikit kecewa “Mau aku antar?”

“Nggak sibuk?”

“Nggak sibuk dia, dia jomlo banyak ngeluh.” celetuk teman pria itu.

Aku terkekeh, pria yang kupanggil kakak itu mengeluarkan sumpah serapahnya tanpa suara.

“Kamu mau Aku antar? Indekos kamu masih sama?”

Aku menggeleng "Aku tinggal di apartemen di pinggir jakarta kak." kemudian tersenyum.

"Ya sudah, sebentar.”

“Rasa- rasanya itu status jomblo bakal gugur nih.” Kata temannya.

“Diem lo dasar tali jemuran.” kemudian dia kembali ke mejanya untuk mengambil ponsel kemudian berjalan di sampingku. “Ayo.”



#DapurCokelat - Choco Dip Stick


Comments

Popular posts from this blog

Advertisement

Surabaya, 24 Juli 2019. Hallo. Setelah sekian lama berhenti menulis, akhirnya saya datang kembali, namun datang dengan prospek usaha dari perusahaan dari tempat saya bekerja. Ini dia.. Jadi, perkenalkan, ini adalah mesin printer, yang bisa mencetak gambar di berbagai media pangan, contohnya kopi, jus, dan kue. Semua bisa dicetak dan dinikmati dengan tinta edible yang aman diminum dengan sertifikasi halal dari MUI dan aman dari BPOM. Karena masih pagi, jadi ijinkan saya salin dan tempel dari website perusahaan saya. https://www.coffee-printer.com Keuntungan menggunakan Coffee Printer untuk bisnis anda bisa anda temukan di  sini… ATTENTION . WANTO TO GIVE A BUZZ TO YOUR BUSINESS? Apakah anda punya  MASALAH  dengan  PERSAINGAN? Atau  PROSPEK EKONOMI  mengganggu bisnis anda? Mungkinkah sebuah peralatan yg inovatif seperti Coffee Printer yg anda perlukan? CONSIDER THIS IDEA! HADIRKAN IDE SEGAR  dan  KREATIF Manfa...

Author of the Week

Disini, saya ingin membicarakan tentang penulis-penulis yang "warbiyasah" Dan, untuk yang pertama kalinya saya mau membicarakan....... ETGAR KERET. Jadi, bapak Etgar Keret ini adalah penulis yang lahir di Ramat Gan, 20 agustus 1967. Si bapak ini juga terlahir sebagai anak ketiga dari pasangan yang selamat dari Holokaus (Holocaus adalah bencana pembunuhan orang yahudi yang didukung oleh nazi yang saat itu dipimpin Adolf Hitler. sumber :Wikipedia ) Kedua orang tuanya berasal dari Polandia. Dia tinggal di Tel Aviv dengan istrinya, Shira Geffen, dan putra mereka, Lev. Dia adalah seorang dosen di Ben-Gurion University of the Negev di Beer Sheva, dan di Tel Aviv University. Dia memegang kewarganegaraan ganda Israel dan Polandia Etgar Keret juga adalah satu-satunya penulis dari Israel yang bukunya boleh beredar di Palestina. Salah satu bukunya yang terkenal adalah The Seven Good Years yang terbit di tahun 2015: sebuah memoar yang humanis, cerkas, mengh...

Apa yang baru?

Surabaya, 27 Agustus 2020 Sudah beberapa waktu blog ini tidak terurus, dan saya berpikir "ini mau diapakan?"  Akhirnya hari ini saya obrak-abrik, pilih tema yang simpel tapi tetap cantik menurut saya, dan akhirnya jadi seperti ini; tenang, pastel dan tidak terlalu banyak warna.  Selamat datang kembali! xoxo, Inggridtyas