Skip to main content

Liefdesgeschiedenis - Choco Monkey (4)


Menjadi seorang dokter tidak akan pernah mudah, mulai dari bangku kuliah yang membutuhkan waktu, biaya dan tenaga yang besar, belum lagi masa ko-as yang membuat diriku seperti Bang Toyib, apalagi studi untuk spesialisasi yang tidak sebentar.

Jika dihitung dari pertama kali aku memulai kuliah di jurusan kedokteran hingga kini usiaku hampir menginjak kepala tiga, maka sudah 13 tahun aku belajar tentang ilmu kesehatan, tapi ya sudahlah, semuanya aku anggap sebagai jalan menuju karier yang aku inginkan semenjak kecil.

“Ini alergi bu, apa ada anggota keluarga lain yang menderita alergi terhadap makanan tertentu?” tanyaku kepada ibunda pasien yang anak berumur tiga tahun itu.

“Suami saya alergi seafood dok, kebetulan baru kemarin dia makan cumi dan kepiting.”

Aku mengangguk “Kemungkinan Luna menuruni alergi dari ayahnya, hasil pastinya belum keluar dari laboratorium, untuk pencegahan, ibu bisa mengurangi makanan Luna yang bersifat alergen; yaitu makanan yang berpotensi menimbulkan alergi seperti ayam, daging, seafood, telur dan susu. Nanti setelah hasilnya keluar baru kita bisa pastikan Luna mengalami alergi makanan apa.” kataku. “Saya akan menulis resep untuk Luna, ada krim untuk menghilangkan rasa gatal dan obat untuk mengurangi alergi.”

“Obatnya pahit ya tante?” tanya si pasien cilik.

“Enggak seberapa pahit kok princess, kan biar sembuh.”

“Aku minta obatnya rasa cokelat bisa?”

Aku tertawa pelan “Nggak ada sayang, tapi tante punya ini buat princess yang nggak bandel waktu diperiksa.” Tawaku sambil membawa kotak dari sebelah meja kerjaku, kotak dengan isi beragam. Sedari dulu aku selalu memberikan cokelat atau makanan kecil untuk pasien kecilku. “Dipilih dong.”

Luna menoleh pada sang ibunda, meminta persetujuan “Boleh mah?” yang dijawab anggukan oleh sang ibu.

Akhirnya Luna memilih salah satu kue cokelat yang lucu “Ini namanya apa tante?”

“Itu Choco Monkey sayang.”

Monkey? Monyet?”

Aku tersenyum “Iya, karena di dalamnya ada pisang, coba deh, pasti enak.”

Luna mengangguk, lalu menggigit kuenya. “Enak tante.” Ujarnya antusias “Mah, nanti kita beli ya?”

Sang ibu mengangguk “Bilang apa sama dokternya sayang?”

“Terima kasih tante dokter.”

“Sama-sama sayang. Obatnya jangan lupa dimakan ya?” balasku.

Luna mengangguk, memilih asyik dengan kuenya.

“Ini resepnya bu, bisa ditebus di apotek rumah sakit.” Aku memberikan resep pada Ibunda Luna, kemudian beliau berdiri dan menyalamiku “Terima kasih dokter.”

“Sama-sama bu, dadah princess, jangan makan sembarangan ya?”

Luna mengangguk antusias “Terima kasih tante.” lalu ibu dan anak itu perlahan berjalan keluar dari ruang praktikku.

Aku tersenyum pada mereka, it’s a beautiful thing when a career and a passion come together. Dan karena aku mencintai pekerjaanku, aku menikmatinya, tanpa pernah lupa bersyukur bahwa tuhan menakdirkanku hidup dengan hal yang aku cintai.


#DapurCokelat - Choco Monkey


Comments

Popular posts from this blog

Advertisement

Surabaya, 24 Juli 2019. Hallo. Setelah sekian lama berhenti menulis, akhirnya saya datang kembali, namun datang dengan prospek usaha dari perusahaan dari tempat saya bekerja. Ini dia.. Jadi, perkenalkan, ini adalah mesin printer, yang bisa mencetak gambar di berbagai media pangan, contohnya kopi, jus, dan kue. Semua bisa dicetak dan dinikmati dengan tinta edible yang aman diminum dengan sertifikasi halal dari MUI dan aman dari BPOM. Karena masih pagi, jadi ijinkan saya salin dan tempel dari website perusahaan saya. https://www.coffee-printer.com Keuntungan menggunakan Coffee Printer untuk bisnis anda bisa anda temukan di  sini… ATTENTION . WANTO TO GIVE A BUZZ TO YOUR BUSINESS? Apakah anda punya  MASALAH  dengan  PERSAINGAN? Atau  PROSPEK EKONOMI  mengganggu bisnis anda? Mungkinkah sebuah peralatan yg inovatif seperti Coffee Printer yg anda perlukan? CONSIDER THIS IDEA! HADIRKAN IDE SEGAR  dan  KREATIF Manfa...

Apa yang baru?

Surabaya, 27 Agustus 2020 Sudah beberapa waktu blog ini tidak terurus, dan saya berpikir "ini mau diapakan?"  Akhirnya hari ini saya obrak-abrik, pilih tema yang simpel tapi tetap cantik menurut saya, dan akhirnya jadi seperti ini; tenang, pastel dan tidak terlalu banyak warna.  Selamat datang kembali! xoxo, Inggridtyas

2. Tempat Terjauh

Tulisan ini dibuat untuk diikut sertakan dalam #WritingChallenge yang diadakan Kampus Fiksi dan BasaBasi Store hari kedua (12 Maret 2017) "Jika suatu hari setelah kamu mencapai semua yang kamu inginkan, mendapat semua hal yang kamu butuhkan, kemana tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanyanya saat saya baru saja duduk di sebelahnya dengan sepiring kue cokelat. "Aku?" saya bertanya lagi. Dia mengangguk, memutar bola dunianya. "Aku rasa kamu memiliki berbagai tempat yang ingin kamu kunjungi." "Paris?" ujarku. "Semua wanita juga ingin ke Paris, yang lain lah." "New York?"  "Ngapain ke sana? Mau cari bule bermata biru?" Saya tertawa "Mungkin." "Jadi? Mau kemana?" Saya menarik bola dunia dari jangkauannya, mencari kepulauan Maladewa, dan tersenyum puas ketika menemukannya. "Vaddho, wilayah Maladewa." "Di pantai? Kamu bisa menemukannya di penju...