Menjadi seorang dokter tidak akan pernah mudah,
mulai dari bangku kuliah yang membutuhkan waktu, biaya dan tenaga yang besar,
belum lagi masa ko-as yang membuat diriku seperti Bang Toyib, apalagi studi
untuk spesialisasi yang tidak sebentar.
Jika dihitung dari pertama kali aku memulai
kuliah di jurusan kedokteran hingga kini usiaku hampir menginjak kepala tiga,
maka sudah 13 tahun aku belajar tentang ilmu kesehatan, tapi ya sudahlah,
semuanya aku anggap sebagai jalan menuju karier yang aku inginkan semenjak
kecil.
“Ini alergi bu, apa ada anggota keluarga lain
yang menderita alergi terhadap makanan tertentu?” tanyaku kepada ibunda pasien
yang anak berumur tiga tahun itu.
“Suami saya alergi seafood dok,
kebetulan baru kemarin dia makan cumi dan kepiting.”
Aku mengangguk “Kemungkinan Luna menuruni alergi
dari ayahnya, hasil pastinya belum keluar dari laboratorium, untuk pencegahan,
ibu bisa mengurangi makanan Luna yang bersifat alergen; yaitu makanan
yang berpotensi menimbulkan alergi seperti ayam, daging, seafood,
telur dan susu. Nanti setelah hasilnya keluar baru kita bisa pastikan Luna
mengalami alergi makanan apa.” kataku. “Saya akan menulis resep untuk Luna, ada
krim untuk menghilangkan rasa gatal dan obat untuk mengurangi alergi.”
“Obatnya pahit ya tante?” tanya si pasien cilik.
“Enggak seberapa pahit kok princess, kan
biar sembuh.”
“Aku minta obatnya rasa cokelat bisa?”
Aku tertawa pelan “Nggak ada sayang, tapi tante
punya ini buat princess yang nggak
bandel waktu diperiksa.” Tawaku sambil membawa kotak dari sebelah meja kerjaku,
kotak dengan isi beragam. Sedari dulu aku selalu memberikan cokelat atau
makanan kecil untuk pasien kecilku. “Dipilih dong.”
Luna menoleh pada sang ibunda, meminta
persetujuan “Boleh mah?” yang dijawab anggukan oleh sang ibu.
Akhirnya Luna memilih salah satu kue cokelat yang
lucu “Ini namanya apa tante?”
“Itu Choco Monkey sayang.”
“Monkey? Monyet?”
Aku tersenyum “Iya, karena di dalamnya ada
pisang, coba deh, pasti enak.”
Luna mengangguk, lalu menggigit kuenya. “Enak
tante.” Ujarnya antusias “Mah, nanti kita beli ya?”
Sang ibu mengangguk “Bilang apa sama dokternya
sayang?”
“Terima kasih tante dokter.”
“Sama-sama sayang. Obatnya jangan lupa dimakan
ya?” balasku.
Luna mengangguk, memilih asyik dengan kuenya.
“Ini resepnya bu, bisa ditebus di apotek rumah
sakit.” Aku memberikan resep pada Ibunda Luna, kemudian beliau berdiri dan
menyalamiku “Terima kasih dokter.”
“Sama-sama bu, dadah princess, jangan
makan sembarangan ya?”
Luna mengangguk antusias “Terima kasih tante.” lalu
ibu dan anak itu perlahan berjalan keluar dari ruang praktikku.
Aku tersenyum pada mereka, it’s a beautiful
thing when a career and a passion come together. Dan karena aku mencintai
pekerjaanku, aku menikmatinya, tanpa pernah lupa bersyukur bahwa tuhan
menakdirkanku hidup dengan hal yang aku cintai.
#DapurCokelat - Choco Monkey

Comments
Post a Comment