Skip to main content

Liefdesgeschiedenis - Red in Black (10)



Aku baru saja ingin memindah saluran televisi saat mendengar ponselku berdering.



Ranti Putriningtyas

Mbak, bisa bertemu?



Kini aku melirik kak Andra yang berada di sampingku dengan satu potong Red in Black di piring kecil. "Apa?" tanyanya langsung.

Aku meringis, menyerahkan ponselku yang masih menunjukkan pesan dari Ranti; calon istri Pram.

"Ya sudah, temuin dia. Kalau mantan kamu dateng ya anggap saja dia sudah siap dengan hubungannya yang baru. Selesaikan yang belum selesai. Ungkapkan semua yang mengganjal buat kamu, biar hubungan kalian berakhir dengan baik walaupun tidak berakhir bahagia."

Aku mengangguk, kemudan menerima ajakan dari Ranti. Aku dan Ranti sering berhubungan karena gadis itu yang meminta nomorku saat mengantarku pulang.

Dan kak Andra? Sudah kuceritakan kisahku dengan Pram. Ia hanya berpesan bahwa aku harus melepasnya pergi; benar-benar melepasnya.

"Nanti kalau aku jatuh cinta sama dia lagi gimana?"

"Kalau kamu jatuh cinta lagi sama dia, kamu bakal aku bawa ke psikolog biar sadar kalau dia bukan jodohmu." kemudian terkekeh.



***



"Ada apa?" tanyaku langsung saat Ranti baru tiba dan duduk di depanku.

Ia tersenyum, kemudian menyerahkan sepucuk undangan dengan warna merah dengan tinta emas pada nama mempelai. "Kalau nggak sibuk datang ya mbak?"

Aku tersenyum tipis padanya dan membaca nama yang tertulis disana; Ranti dan Pram. Lalu meringis setelahnya.

Pram akan menikah dengannya, membangun keluarga yang sempat kami impikan bersama.

"Semoga lancar ya, saya akan datang kalau memang tidak ada kendala." ujarku jujur.

"Saya tahu hubungan mbak dan mas Angkasa, dia yang mengatakan pada saya saat menemukan foto kalian berdua di ponselnya.

"Mungkin dia belum sempat menghapusnya." jawabku "Hubungan kami berakhir tanpa kepastian yang jelas."

"Tapi mbak masih mencintainya?"

"Munafik kalau saya bilang tidak, rasa itu masih ada bahkan hingga sekarang, tapi saya sadar saya nggak boleh menyimpan rasa ini lebih lama lagi mengingat takdir yang tidak berpihak pada kami."

"Tapi mas Angkasa masih mencintai mbak."

Aku tersenyum, "Empat tahun bukan waktu yang sebentar untuk melupakan semua rasa yang pernah ada. Dia hanya perlu waktu untuk mengeluarkan saya dari hatinya." kataku.

"Mbak rela mas Angkasa menikahi saya?" Ranti bertanya lagi.

"Saya sedang mencobanya. Jika takdir memang tidak berpihak pada kami yang pernah bermimpi membangun sebuah keluarga tapi berpihak pada kalian maka siapa saya yang berhak mengubah takdir kalian? Kami sekarang hidup dalam kenangan; mengingat tapi tak bisa bersama."

Dia tersenyum lirih "Mungkin kami sudah menyakiti mbak, kami berdua melakukan kesalahan hingga ada nyawa lain yang harus diperjuangkan." ujarnya lalu membelai perutnya.

"Kamu? Kalian?" aku tak bisa menahan diriku untuk tidak bertanya.

Ranti mengangguk "Sudah 10 minggu."

Aku mencelos. Teringat kata Pram malam itu; bahwa ia telah melakukan kesalahan dan inilah kesalahan yang harus ia pertanggung jawabkan.

"Mbak, ikhlaskan mas Angkasa untuk saya ya? Untuk kami berdua."

"Saya bukan tipe orang yang akan merebut sesuatu yang bukan ditakdirkan untuk saya. Jika memang kalian berjodoh maka saya mengikhlaskannya. Mungkin saya belum bisa melepasnya saat dia meninggalkan apartemen saya dan benar-benar mencoba merelakannya saat kalian mengantar saya pulang."

"Terima kasih mbak. Saya harap mas Angkasa juga akan merelakan mbak."

"Pram pasti akan merelakan saya. Jika bukan sekarang maka nanti. Anggap saja itu rasa terakhir untuk saya. Mungkin saya nggak akan bisa memandangnya tanpa mengingat penghianatan yang sudah kalian perbuat. Pram meninggalkan saya tanpa alasan, malam itu saya mencoba memaksa untuk mengetahui alasannya. Tapi dia hanya diam. Lalu saya pelan-pelan merelakan hubungan kami. Bahkan orangtua saya kaget saat mendengar kami berpisah." aku menghela napas "Tapi ya sudahlah, saya hanya berharap dia bahagia meskipun bukan saya yang menjadi alasannya."

"Mbak," panggilnya ia mulai berkaca-kaca.

"Sampai sekarang kami belum pernah bicara berdua lagi. Kalau dia mau, minta dia menemui saya ya? Kamu ikut saja. Saya hanya ingin mengakhiri dengan cara yang benar, saya mendapatkannya dengan cara yang benar dan ingin melepasnya dengan benar juga."





#DapurCokelat - Red in Black



Comments

Popular posts from this blog

Advertisement

Surabaya, 24 Juli 2019. Hallo. Setelah sekian lama berhenti menulis, akhirnya saya datang kembali, namun datang dengan prospek usaha dari perusahaan dari tempat saya bekerja. Ini dia.. Jadi, perkenalkan, ini adalah mesin printer, yang bisa mencetak gambar di berbagai media pangan, contohnya kopi, jus, dan kue. Semua bisa dicetak dan dinikmati dengan tinta edible yang aman diminum dengan sertifikasi halal dari MUI dan aman dari BPOM. Karena masih pagi, jadi ijinkan saya salin dan tempel dari website perusahaan saya. https://www.coffee-printer.com Keuntungan menggunakan Coffee Printer untuk bisnis anda bisa anda temukan di  sini… ATTENTION . WANTO TO GIVE A BUZZ TO YOUR BUSINESS? Apakah anda punya  MASALAH  dengan  PERSAINGAN? Atau  PROSPEK EKONOMI  mengganggu bisnis anda? Mungkinkah sebuah peralatan yg inovatif seperti Coffee Printer yg anda perlukan? CONSIDER THIS IDEA! HADIRKAN IDE SEGAR  dan  KREATIF Manfa...

Apa yang baru?

Surabaya, 27 Agustus 2020 Sudah beberapa waktu blog ini tidak terurus, dan saya berpikir "ini mau diapakan?"  Akhirnya hari ini saya obrak-abrik, pilih tema yang simpel tapi tetap cantik menurut saya, dan akhirnya jadi seperti ini; tenang, pastel dan tidak terlalu banyak warna.  Selamat datang kembali! xoxo, Inggridtyas

2. Tempat Terjauh

Tulisan ini dibuat untuk diikut sertakan dalam #WritingChallenge yang diadakan Kampus Fiksi dan BasaBasi Store hari kedua (12 Maret 2017) "Jika suatu hari setelah kamu mencapai semua yang kamu inginkan, mendapat semua hal yang kamu butuhkan, kemana tempat yang ingin kamu kunjungi?" tanyanya saat saya baru saja duduk di sebelahnya dengan sepiring kue cokelat. "Aku?" saya bertanya lagi. Dia mengangguk, memutar bola dunianya. "Aku rasa kamu memiliki berbagai tempat yang ingin kamu kunjungi." "Paris?" ujarku. "Semua wanita juga ingin ke Paris, yang lain lah." "New York?"  "Ngapain ke sana? Mau cari bule bermata biru?" Saya tertawa "Mungkin." "Jadi? Mau kemana?" Saya menarik bola dunia dari jangkauannya, mencari kepulauan Maladewa, dan tersenyum puas ketika menemukannya. "Vaddho, wilayah Maladewa." "Di pantai? Kamu bisa menemukannya di penju...