Skip to main content

Posts

Prelo - Cara Jual Beli Barang Bekas. Aman. Berkualitas.

Halo! Kali ini saya nggak akan mengulas buku atau posting tulisan saya. Tapi, ini sama pentingnya dengan membaca buku.... Yap! Belanja. Tapi nih ya, sebagai karyawan sejati yang cuma kaya di tanggal satu sampai dua puluh, saya bakal berbagi cerita saya buat belanja sesuai keinginan tapi low-budget . Perkenalkan, teman baru saya : Prelo Sim salabim! Ini bukan sulap atau sihir, tapi ini beneran. Jadi, si ijo lucu ini adalah situs jual-beli barang bekas. What? Bekas? Oke girl. Marilah kita membahasnya. Ada yang salah dengan barang bekas? Saya sih oke-oke aja asal masih layak pakai. Lagian nggak jarang saya pakai baju dari mamah yang jadul tapi hits lagi. Sebenarnya, saya baru berkenalan dengan prelo beberapa bulan yang lalu, waktu itu saya mencari buku yang dijual lagi, dengan alasan lebih hemat dan dapat banyak. Hehe. Maklum, pengen ngumpulin dan baca 300 buku sebelum dilamar. Ah. Kemudian saya cobalah belanja di Prelo  dan ket...

Review: Twivortiare

Twivortiare by Ika Natassa My rating: 4 of 5 stars Buku kedua dari seri Om Beno dan Tante Alex, sekaligus buku yang bikin nangis dan ketawa dalam waktu yang berdekatan. Buku ini adalah buku ketiga dari Ika Nattasa yang saya baca, and I'm swear, saya bakal beli semua buku kak Ika nanti :) Well, sama seperti Divortiare yang bikin penasaran tentang pernikahan Beno, buku ini menimbulkan penasaran lebih besar. (padahal baru bisa beli lanjutannya bulan depan setelah gajian!) Ditulis dari twit-twit akun Alexandra, buku ini membentuk cirinya sendiri. Bagaimana Alexandra menjalani pernikahan keduanya dengan orang yang sama-Beno si dokter jantung yang lempeng abis. Kadang ya, orang lempeng itu bisa lebih bikin kita bahagia, dengan caranya sendiri. Paling suka sama bagian Beno nulis surat waktu dia lagi berantem sama Alex (apalagi kemarin bacanya waktu jam istirahat di kantor, dan mewek! sampe diketawain sama bapak-bapak kantor) . Duh, jadi pengen nikah! Mu...

Review: divortiare

divortiare by Ika Natassa My rating: 4 of 5 stars And I know why people loved Beno. Belum telat kan kalau jadi penggemar kesekiannya Beno? Bukan hal tabu lagi sih bicara soal per-cerai-an. Itu bisa terjadi sama siapa aja, di mana aja, dan apapun sebabnya, termasuk kesibukan masing-masing yang ditulis di sini hingga mereka memutuskan untuk berpisah, walaupun cinta mereka tuh ya kaya cintanya Ale-nyaAnya. Namanya juga cinta, deritanya tiada akhir #SalahQuotes Btw, ini buku kedua dari kak ika yang aku baca dan masih aja jatuh cinta sama cara kak Ika bercerita, like kita belum tentu harus mengalami terlebih dahulu saat mendapat pelajaran tentang suatu hal. Oh, oke, aku mau beli lanjutannya Beno-Alexandra dulu. View all my reviews

Liefdesgeschiedenis - Wrap My Heart (14)

"Yakin kamu mau makan segitu banyak?" tanya kak Andra dengan heran. Aku mengangguk. "Kenapa?" "Nggak papa, biasanya kamu makan pakai diatur gitu." "Kak, orang patah hati itu bisa berbuat hal yang di luar nalar. Daripada aku loncat dari lantai tujuh rumah sakit kan mending aku di sini, makan kue enak begini." kataku enteng. "Mau?" aku menyuapkan salah satu cupcake padanya. "Apa itu?" tanya sambil mengunyah. " Till I Miss you ." Dia mengangguk "Harusnya kemarin waktu antar kamu pulang sambil makan ini ya?" "Kenapa memangnya?" "Cake-nya kan kamu banget. Till I Miss You , kaya chat aku kan?" Aku mengangguk, melanjutkan menyantap cake lain. “Itu apa?" tunjuknya. " Choco Monkey ." "Lucu." "Iya lucu, monyetnya kaya kakak." aku terkekeh. "Berani banget ya bilang aku monyet? Kalau aku monyet ber...

Liefdesgeschiedenis - Two Season (13)

Selalu ada dua sisi dalam kehidupan kita; suka dan duka, senang dan tangis. Maka dalam cinta hal itu juga terjadi, akan ada perpisahan di setiap perjumpaan. Pram kembali memelukku saat kami sampai di ruanganku. Dia tak mengatakan apa pun. Hanya memelukku erat. “Pram, sudah.” Dia tak bergerak, tangannya masih mendekapku. “Hei, sudah, ayo duduk.” Aku menariknya ke sofa. “Aku mau bilang sama asisten aku dulu kalau praktikku harus diundur.” lalu aku berusaha melepasnya. Untuk keluar dari ruanganku, menuju asisten yang mejanya berada di depan ruanganku. Aku kembali beberapa menit kemudian, dia masih duduk dengan wajah yang menghadap lantai. “Ada apa?” tanyaku. Pram masih tak bergerak, akhirnya aku mengambil minum di mejaku, meletakkan di depannya. Dia mendongak, melihatku dengan tatapan penuh rasa bersalah “Maaf.” Aku tersenyum “Aku nggak pa-pa, sudah.” “Maaf in aku karena sudah melakukan kesalahan yang menghancurkan kita.” Aku diam, membia...

Liefdesgeschiedenis - Twist My Heart (12)

“Twist my heart?” aku membuka cokelat yang pagi ini diberkan oleh kak Andra. Dia mengangguk, lalu duduk di mejaku, mengambil pigora foto dan memperhatikannya “Kamu waktu kecil kok beda ya sama sekarang?” “Ya beda, aku kan tumbuh besar, nggak kecil terus.” Dia terkekeh “Kamu dekat sama kakakmu?” Aku mengangguk “Dia itu partner-in-crime ku, nggak jarang kita sering berantem terus sejam berikutnya dia udah jadi kakak yang perhatian sama adiknya.” “Enak ya? Aku yang anak tunggal kadang iri sama temen-temen yang punya saudara.” “Ya begitulah kak, kadang ya ada enaknya, kadang juga nggak enak, kak Adrian itu suka ngomel kalau aku punya pacar atau teman lelaki.” “Iya? Nama kakak kamu hampir sama kaya namaku.” Aku mengangguk “Dia itu orang pertama yang nggak setuju waktu aku kuliah di Jakarta, katanya Jakarta itu nggak baik buat aku.” “Memang.” “Ya tapi kan aku udah membuktikan kalau aku bisa jaga diri sendiri.” “Tapi jaga hati nggak bisa.” d...

Liefdesgeschiedenis - Till I Miss You (11)

“Gimana mau dapet jodoh kalau perempuan disuruh nunggu sampai dua jam begini?” tanyaku saat ia melepas jas putihnya. Kak Andra tersenyum “Kamu kan dokter, masa kaya abege sih ngambek karena ada pasienku yang gawat tadi.” “Ih, namanya perempuan mana ada yang suka nunggu.” “Sebentar, aku ke kamar mandi dulu ya?” kemudian ia berjalan menuju kamar mandi yang ada di ruangan praktiknya. Aku kembali membaca buku kesehatan yang ada di meja tamu kak Andra. “Ada apa An?” tanyanya saat baru keluar dari kamar mandi. “Nggak, sudah makan?” Dia menggeleng “Bawa makanan ya?” Aku mengangguk, menyerahkan tempat makan yang sudah berisi makanan. “Kamu sudah makan?” “Aku diet.” “Diet apa? Kurus begitu masih mau diet. Ayo makan berdua.” “Nggak ah, itu kan buat kakak. Aku udah makan tadi.” Dia menganguk, lalu menikmati makanannya. “Enak ya punya adik dokter, ngerti banget kalau kelaparan.” “Udah, nggak usah muji begitu, bilang aja masakanku e...